Connect with us

Seni & Budaya

Wayang Suluh, Penjaga Semangat Juang Bangsa Indonesia di Era Kemerdekaan

Published

on

Wayang Suluh Penerangan 06 (1)
Share

Reportersatu, Wayang Suluh merupakan wayang kulit kreasi yang awalnya membawakan  lakon cerita perjuangan mengusir penjajah Belanda. Sejarah panjang wayang suluh dimulai tahun 1920, jauh sebelum proklamasi kemerdekaan dikumandangkan.

Perkembangan

Berawal dari kreatifitas R.M. Soetarto Hardjowahono dari Surakarta, yang membuat wayang kulit untuk mengisahkan kehidupan keseharian pada masanya, bukan lagi kisah epos Mahabharata dan Ramayana seperti wayang kulit purwa. Ia mendorong pertunjukan wayang yang berpijak pada realita, oleh sebab itu kreasinya disebut sebagai wayang sandiwara.

Pada masa perlawanan paska proklamasi kemerdekaan, para pemuda serta tokoh yang tergabung dalam Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI) dan Generasi Baru Angkatan Muda Republik Indonesia, menggagas penggunaan wayang sandiwara sebagai media perjuangan. Pertunjukan wayang sandiwara diharapkan bisa menjadi alat penerangan yang mampu menjelaskan arah dan tujuan revolusi kemerdekaan.

Wayang tetap dibuat dari kulit tetapi bentuknya merepresentasikan figur manusia, terutama tokoh-tokoh yang terlibat dalam perjuangan melawan penjajah, seperti buruh, petani, pemuda, guru, santri, pedagang, para pemimpin pergerakan rakyat Indonesia (Pangeran Diponegoro, Bung Karno, Bung Hatta, Amir Sjarifuddin, Syahrir, Agus Salim, Mangunsarkoro, Sam Ratu Langi, Wolter Monginsidi, dan lain-lain), tokoh bangsa Belanda yang merupakan musuh Indonesia (Van Mook, Van der Plash, Jenderal Spoor), tentara Belanda dan Gurka, serta orang-orang asing yang menjadi mediator persoalan kemerdekaan (wakil Perserikatan Bangsa-Bangsa).

Pertunjukan wayang sandiwara untuk tujuan perjuangan kemerdekaan kemudian diselenggarakan pada 10 Maret 1947 di Gedung Balai Rakyat Madiun, Jawa Timur, yang dihadiri oleh perwakilan partai dan wakil Kementerian Penerangan Yogyakarta. Pada hari pementasan, penonton yang hadir diminta ikut menentukan nama dari jenis wayang tersebut. Panitia sendiri mengajukan usul “wayang merdeka”, tetapi mayoritas menyetujui nama “wayang suluh”.

Kata suluh mengandung arti penerangan, pencerahan, atau pembebasan pemikiran rakyat, sehingga nama “wayang suluh” dapat dimaknai sebagai wayang yang ditujukan utnuk memberikan penerangan atau pencerahan sekaligus jalan pembebasan bagi rakyat. Usai penyelenggaraan pentas wayang suluh pertama tersebut, beberapa lembaga langsung mengadakan sosialisasi wayang suluh.

Pada 1 April 1947, Dewan Pimpinan Pemuda (DPP) seluruh Jawa dan Madura mengadakan konferensi, dan menyerahkan  52 set wayang suluh yang dibagikan kepada perwakilan DPP untuk dikembangkan di daerah masing-masing sebagai media hiburan, sekaligus menyebarkan wawasan nasionalisme Indonesia agar semangat revolusi anti-kolonial berkobar-kobar.

Dalam sekejap, pertunjukan wayang suluh digemari rakyat, hingga bisa mengumpulkan ratusan orang di setiap pertunjukannya. Dalangnya tidak hanya laki-laki tetapi juga perempuan. Ternyata cara ini sangat ampuh, dan di daerah yang dikuasai Belanda, pertunjukan wayang suluh menjadi penjaga semangat juang rakyat.

Lakon pertunjukan adalah cerita perjuangan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, hingga berbagai peristiwa di era pergerakan dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia sebagai negara merdeka. Lakon-lakon yang sering dipentaskan adalah Sumpah Pemuda, Proklamasi Ke­merdekaan, Perang Surabaya 10 Nopember, Sang Merah Putih, Perjanjian Linggarjati, dan Perjanjian Renville.

Pertunjukan juga diiringi musik gamelan yang sangat digemari masyarakat masa itu tetapi syairnya berbeda, yaitu berupa lagu-lagu perjuangan untuk menggugah semangat nasionalisme seperti  Mars Pemuda dan Sorak-sorak Bergembira, serta lagu populer lainnya di masa itu antara lain Selabintana dan Pasir Putih.

Baca Juga : Sejarah Asal Usul Wayang Kulit Asli Indonesia dan Perkembangannya

Media Penerangan

Keampuhan wayang suluh sebagai media ‘syiar’ perjuangan dalam waktu yang relatif singkat, memberikan inspirasi kepada pemerintah masa itu untuk menjadikan wayang suluh sebagai media penerangan, guna menyebarkan berbagai informasi dan penyuluhan kepada masyarakat desa. Kementerian Penerangan Pusat pada 1 Desember 1947 kemudian membentuk “Staf Kementrian Penerangan Pusat Jawatan Publiciteit Bagian Penerangan Rakyat Urusan Wayang Suluh dan Wayang Beber” yang berkedudukan di Madiun. Keunggulan wayang suluh sebagai media penerangan pemerintah juga diakui pada masa Orde Baru (Orba), hanya saja materinya adalah program pemerintah seperti pemilu, transmigrasi, dan Keluarga Berencana. Setelah Orba tumbang, wayang suluh pun perlahan memudar dan menghilang, tersingkir oleh gempuran produk komunikasi gaya baru dan kecanggihan teknologi.

Memopulerkan Kembali

Ide untuk mengangkat kembali wayang suluh sebagai media penerangan  masyarakat di pedesaan, digagas oleh Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada tahun 2015. Saat itu sekelompok mahasiswa sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kelurahan Tambangan, Kecamatan Mijen, Kota Semarang. Mereka mengadakan penyuluhan tentang bahaya minuman keras (miras), narkotika, dan seks bebas, yang merupakan salah satu program kerjanya. Salah satu alasan pemilihan wayang suluh sebagai media penyuluhan adalah karena kebetulan salah satu di antara mereka mempunyai keahlian mendalang. Pertunjukan diadakan di Balai Pertemuan RW 03, Dukuh Sidorejo, Kelurahan Tambangan, Kecamatan Mijen, Kota Semarang. Agusta Prihantono, mahasiswa Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Unnes, didaulat menjadi dalang.  Ia adalah salah satu generasi muda yang terinspirasi menggunakan wayang sebagai alat perjuangan untuk memerangi bahaya narkoba. Agusta mengaku terinspirasi para dalang yang dapat menyampaikan pesan kebaikan melalui wayang.

Konsep pentasnya tidak melenceng jauh dari pagelaran wayang kulit biasa, hanya porsinya dikurangi dan diambil seperlunya saja sehingga bisa menggunakan repertoar gending rekaman. Perlengkapan panggung juga hanya berupa “keprak” (bunyi-bunyian pengiring gerakan yang dibuat dari keping kayu dan logam), “blencong” (lampu penerang layar), “kelir” (layar putih), “debog” (batang pisang untuk menancapkan wayang), “kothakan” (peti tempat wayang), “cempala” (alat pemukul kotak peti sebagai tanda musik dimainkan/diberhentikan), dan wayang. Pentas wayang suluh yang berlangsung selama satu jam mendapat antusiasme warga, karena Ki Dalang Agusta piawai memainkan adegan konyol melalui tokoh wayangnya, misal saat memeragakan tokoh wayang yang sedang teler dengan sangat lucu hingga tawa penonton pecah.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *