Connect with us

Seni & Budaya

Wayang Sasak, Saksi Perjuangan Dakwah Islam di Tanah Lombok

Published

on

Dalang Cilik Lalu Jagat 800x445
Share

Wayang Sasak adalah kesenian wayang yang berasal dari Gumi Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan berkembang sekitar abad XVIII. Wayangnya terbuat dari bahan kulit dan tanduk kerbau, berbentuk dua dimensi, sama seperti wayang kulit purwa di Jawa.

Nama wayang Sasak sebenarnya adalah “Wayang Serat Menak Sasak”, tetapi lebih sering disebut sebagai “Wayang Sasak” yang juga mengacu pada suku Sasak sebagai pembuatnya. Figur dalam wayang Sasak berupa manusia, hewan, tumbuhan, dan miniatur mahkluk hidup yang diimajinasikan sebagaimana tokoh-tokoh dalam kerajaan serta mitologi. Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi ada perbedaan sesuai penokohannya. Wayang tokoh kerajaan dan dewi-dewi panjangnya 50-55 cm, sedangkan rakyat biasa 35 cm.

Wayang Sasak diduga diperkenalkan oleh Sunan Prapen, putera dari Sunan Giri, saat menyebarkan dakwah Islam di Lombok. Mitos yang berkembang di masyarakat adalah Pangeran Sangu Urip Pati atau Sangupati, utusan Wali Songo dari tanah Jawa, yang menyebarkan agama Islam dengan menyajikan tontonan wayang tanpa meminta bayaran, hanya kesediaan penonton untuk mengucapkan kalimat syahadat saja.

Wayang Sasak dahulu memang menjadi media penyebaran dakwah Islam, namun dalam perkembangannya juga dipergelarkan sebagai hiburan pada pesta pernikahan, khitanan, panen, maulid nabi, perayaan kemerdekaan, kegiatan kebudayaan, dan lain-lain.

Lakon dalam pertunjukan wayang kulit Sasak bersumber dari Serat Mènak yang disadur oleh Ki Carik Narawitan dari Hikayat Amir Hamzah, karya sastra Melayu berbentuk prosa yang persebarannya sangat luas di Nusantara. Kisah di dalamnya menampilkan tokoh Amir Hamzah, seorang yang gagah berani dan ditakuti para musuh, karena selalu berhasil menghalau gangguan ketika sedang dilakukan penyebaran agama Islam.

Tokoh ini sebenarnya mewakili sosok paman Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wassalam yang selalu membela keponakannya, meski ia sendiri enggan memeluk Islam hingga akhir hayatnya. Induk dari Hikayat Amir Hamzah adalah karya sastra Persia Qisaa’I Emr Hamza, yang populer pada masa pemerintahan Sultan Harun Al Rasyid.

Tokoh utama dalam lakon wayang Sasak bernama Wong Menak (Amir Hamzah atau Amirhambyah), seorang yang sederhana tanpa penampilan “wah”, pemimpin yang disegani oleh kawan maupun lawan karena sikap welas asih dan kesaktiannya. Ia sangat dihormati oleh warganya.

Ada beberapa nama lain Wong Menak, yaitu Jayengrana, Jayeng Palugon, Jayeng Satru, Jayeng Jurit, dan Jayeng Palupi. Jumlah wayang prabu atau praratu (utama) dari wayang Sasak ada 140 tokoh, yang dibedakan menjadi wayang kiri (jahat) dan wayang kanan (baik).

Baca Juga : Mengenal Wayang Krucil Yang Populer di Aliran Sungai Brantas Dan Bengawan Solo

Tokoh wayang kanan antara lain Jayengrana, Munigarim, Genda Sari, Raden Marionani, Umar Maye, Patih Selandir (Alamdaur), Aribadi Walam, Raden Maktal, Aretanus Taktanus – Aretanus Saktanus, Raden Kaswatna, Raden Yangilir, Raden Swangse, Demung Demang, Kuda Sekardiu, Agol (rakyat biasa), dan Amak Ingang (rakyat biasa).

Jayengrana digambarkan memiliki sifat-sifat keutamaan dan keteladanan bagi umat manusia. Tokoh wayang kiri di antaranya Bandar Kale, Ratu Ganda Rini, Patih Yama Geni, Prabu Nursiwan, Patih Bandar, Raden Kindiri, Patih Raden Sungkama, Patih Wayang Sekar, Patih Gagak, Jambul Perikak, dan Balemati.

Penceritaannya terbagi menjadi tujuh dengan menampilkan tokoh yang berbeda-beda, yaitu:

(1) Jayengrana, berkisah tentang ungkapan isi hati sang tokoh;

(2) Umarmaya, mengisahkan penggunaan akal untuk menimbang yang baik dan buruk:

(3) Raden Maktal, menceritakan tentang pikiran dalam mempertimbangkan benar atau salah;

(4) Taktanus yang merupakan simbol anggota tubuh sebagai pelaksana;

(5) Saktanus, kembaran Taktanus, yang tidak akan pernah mundur dalam menjalankan perintah apapun;

(6) Umar Madi, mengisahkan tentang tokoh yang pemberani hanya jika kebutuhan pangannya sudah terpenuhi;

(7) Alamdaur atau Patih Selandir, tokoh yang menggambarkan upaya melestarikan alam agar kehidupan dapat berjalan dengan seimbang.

Pakem pertunjukan wayang Sasak terdiri dari lima adegan, yaitu:

(1) Pengaksama, adegan pembuka yang berisi permintaan maaf kepada penonton apabila dalam membawakan lakon terjadi kesalahan dari sang dalang dan pengiringnya;

(2) Kabar, adegan kedua yang mengisahkan tentang pra penciptaan semesta raya dan hanya ada Sang Pencipta;

(3) Ucapan, pemaparan lakon yang dimainkan:

(4) Lelampan atau jalannya cerita:

(5) Bejanggeran atau penutup.

Pergelaran wayang Sasak awalnya menggunakan bahasa Kawi sehingga penontonnya mayoritas hanya para sepuh yang memahaminya. Untuk menumbuhkan minat anak muda menonton wayang Sasak yang sudah meredup, banyak terobosan dibuat para dalang agar pergelarannya tidak membosankan. Bahasa pengantarnya  kemudian dicampur dengan bahasa Sasak dan bahasa Indonesia, bahkan seringkali muncul dialog antar wayang dalam bahasa Bali, Sunda, atau Jawa.

Lakonnya tidak lagi sebatas pakem Serat Mènak, tetapi juga carangan atau rekaan yang bersumber dari karya pujangga Sasak masa lalu. Unsur humor dari setiap lakon dibangun melalui tokoh punakawan bernama Amaq Ocong, Amaq Amet, Amaq Baok, dan Inaq Itet. Tokoh punakawan seringkali ditunggu-tunggu oleh penonton karena guyonan-guyonan segar mereka, yang juga sangat membantu dalam menyampaikan pesan cerita ataupun kritik sosial.

Saat punakawan muncul seringkali juga diselingi nyanyian serta tarian. Tampilan pergelaran juga tidak luput dari kreativitas, blencong (lampu minyak untuk menampilkan bayangan) diganti dengan penataan cahaya sehingga pergerakan wayang bisa tampak lebih dramatis.

Keunikan “Wayang Serat Mènak Sasak” adalah para dalang yang tidak hanya beragama Islam, melainkan juga beragama Hindu meski ceritanya bersumber dari Serat Mènak yang jelas-jelas bernafaskan Islam.

Wayang Sasak kerap dijadikan media pendamai pertikaian antar warga, sering dipergelarkan di wilayah yang sedang berkonflik dan menjadi semacam syarat untuk meredamnya. Bahkan seringkali ada penanggap wayang yang hanya meminta dalang favoritnya untuk bermain meski tidak beragama Islam. Hal inilah yang menjadikan wayang Sasak digelari wayang perdamaian.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *