Connect with us

Seni & Budaya

Wayang Beber, Pertunjukkan Cerita Pandji Dengan Biaya 700 Juta

Published

on

Culture 4 Copy (1)
Share

Reportersatu, Wayang Beber dalam khasanah wayang Indonesia adalah pertunjukan wayang yang dimainkan dengan cara membeberkan atau membentangkan gulungan kertas berisi gambar-gambar. Kedua sisi kertas masing-masing dijepit oleh sebatang kayu yang berfungsi sebagai tiang, kayu tersebut ditancapkan pada sebuah media sehingga posisi bentangan kertas ‘ajeg’ saat dimainkan.

Dalang pertunjukan “wayang beber”  berkisah tentang sebuah lakon yang dilukiskan pada gulungan kertas tersebut dengan iringan musik gamelan. Gulungan demi gulungan akan dibuka dan dibeberkan hingga lakon yang dibawakan selesai.

Bisa dibilang lukisan pada gulungan kertas tersebut merupakan visualisasi sastra yang dibuat untuk menyampaikan sebuah cerita. Cara penyajian unik inilah yang kemudian menjadikannya bernama “wayang beber”. Wayang beber diduga berkaitan erat dengan ritus-ritus animismatik dari penyembahan nenek moyang.

Tidak ada bukti otentik berupa naskah atau prasasti yang berhubungan dengan penciptaan wayang beber melainkan hanya berupa legenda atau cerita rakyat. Di Jawa sendiri ada dua jenis gaya wayang beber, yaitu Wayang Beber Pacitan dan Wayang Beber Gunung Kidul.

Awal Mula

Wayang Beber Pacitan diduga sudah ada sejak abad XVIII, bahkan R.M. Sayid berpendapat bahwa Wayang Beber Joko Kembang Kuning di Desa Karang Talun, Kecamatan Gedompol, Kabupaten Pacitan, sudah dibuat semasa Sultan Amangkurat II (1614). Wayang Beber Pacitan berfungsi sakral, biasanya digelar ketika ada upacara ruwatan atau kaul.

Ada keyakinan bahwa setelah menggelar pertunjukan wayang beber maka orang yang diruwat akan selamat dari malapetaka, sedangkan yang memiliki kaul akan terlunasi kaulnya. Namun ketika wayang kulit yang dianggap lebih canggih semakin berkembang luas maka kehadiran wayang beber sebagai pertunjukan keraton pun tergeser.

Raja Mataram di tahun 1630 juga mengeluarkan perintah pelarangan wayang beber sebagai pertunjukan dalam upacara ruwatan, dan hanya mengijinkan wayang kulit sebagai media pertunjukan masa itu. Larangan tersebut berdampak pada kehidupan wayang beber di panggung luar keraton atau istana hingga akhirnya kelompok wayang beber gulung tikar.

Baca Juga : Mengenal Akulturasi Budaya Dalam Wayang Jawa-Cina

Pertunjukkan

Lakon Wayang Beber Pacitan adalah Joko Kembang Kuning yang tergolong cerita Panji. Bentuknya berupa lembaran-lembaran besar berbahan kulit kerbau atau kertas tebal yang dilukisi adegan-adegan wayang dengan ornamen rumit.

Tokoh-tokohnya digambarkan mirip wayang kulit purwa hanya kedua mata terlihat semua. Lama pertunjukan sekitar 1½-2 jam, yang bisa dipentaskan beberapa kali dalam satu hari tergantung penanggapnya. Panggung pertunjukannya lebih luwes dibandingkan wayang kulit purwa, bisa di dalam rumah dengan menggelar tikar di atas lantai, di atas bale-bale, atau di atas meja besar, dan bisa juga di luar rumah seperti pendopo atau ruang terbuka lainnya.

Musik pengiring pertunjukan berupa gamelan berlaras slendro yang terdiri dari rebab, kendang, kempul, kethuk, kenong, gong suwukan, dan gong besar, dengan 4 orang pengrawit. Gending yang dimainkan juga tidak banyak, hanya “pathet nem” dan “pathet sanga” dengan peralihan yang samar. Cempala (pengetuk) yang biasa dipukulkan ke dinding peti tempat wayang diganti dengan penjalin (rotan) sebagai pemberi aba-aba untuk memulai dan mengakhiri gending.

Wayang Beber Gunung Kidul atau Wayang Beber Gelaran Wonosari  membawakan lakon Remeng Mangunjaya  terdapat di Dusun Gelaran, Kelurahan Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Lakon Remeng Mangunjaya menurut R.M. Sayid selesai dibuat pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwono II (1660).

Wayang Beber Gunung Kidul juga berkaitan erat dengan ritual, sehingga gulungan wayang beber tidak bisa dibuka sembarangan setiap saat karena dianggap sakral. Gulungan hanya dibuka pada waktu tertentu saja, kecuali dengan syarat “sajen” dan “uborampe among-among” yang diperkirakan menghabiskan biaya hingga 700jt rupiah dalam perhitungan tahun 2017.

Saat mementaskan pertunjukan wayang beber, dalang duduk di depan layar dan dengan menggunakan tuding (stik panjang) melakonkan cerita sambil menunjuk gambar-gambar yang dikisahkan.

Inovasi

Saat ini selain lakon klasik Remeng Mangunjaya dari Gunung Kidul dan Joko Kembang Kuning dari Pacitan, masih ada satu lakon lagi yang dibuat oleh Mahmudi dalam Tugas Akhir sebagai mahasiswa jurusan Pedalangan ISI Yogyakarta, yaitu Damarwulan.

Ia tidak sekedar berupaya mengangkat kembali wayang beber tetapi juga membuat wayang beber baru. Wayang beber yang dibuatnya berbahan kain kanvas, bukan kulit kerbau ataupun kertas seperti sebelumnya, dan cat yang digunakan adalah cat tembok dipadu pigmen warna untuk mendapatkan warna yang diinginkan. Wayang beber yang dibuatnya masih mengikuti pakem hanya media dan peralatan membuatnya saja yang berbeda. 

Upaya mengangkat kembali wayang beber juga dilakukan oleh beberapa komunitas dengan membuat variasi dalam naskah atau lakon dan instrumen pengiringnya. Misal kelompok Wayang Beber Kota dari Solo, yang membuat cerita kekinian sesuai dengan perkembangan kondisi di wilayahnya bermukim.

Adegannya dituangkan hanya dalam satu gulungan wayang beber. Musik pengiringnya terkadang menggunakan lesung yang dipukul-pukul, kentongan, dan beberapa instrumen gamelan. Begitu juga dengan komunitas Wayang Beber Tradisi versi Pacitan yang dibawakan oleh Musyafiq, pelukis wayang beber sekaligus sebagai dalang.

Komunitas Wayang Beber Metropolitan yang berdomisili di Jakarta juga melakukan perubahan dalam unsur gambar, cerita, iringan musik, serta beberapa unsur lainnya. Mereka membuat sendiri lakon dan gambarnya, kemudian pertunjukannya diiringi beberapa alat musik modern dengan pencahayaan dan gaya pertunjukan metropolitan.

Meski upaya menghidupkan kembali wayang beber cenderung berubah menjadi pertunjukan wayang beber kontemporer tetapi ada unsur tradisi pewayangan yang tetap dijaga, terutama fungsi utama wayang beber sebagai tontonan yang memiliki tuntunan untuk diikuti ataupun dipahami.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *