Connect with us

Seni & Budaya

Mahesa Lawung Keraton Solo Tradisi Turun-Temurun Sejak Era Dinasti Mataram

Published

on

Share

Reportersatu, Upacara adat Mahesa Lawung merupakan tradisi turun-temurun sejak era dinasti Mataram dengan cara mengubur kepala kerbau di hutan Krendowahono Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Mahesa Lawung adalah upacara meminta keselamatan kepada Tuhan.

Upacara adat ini merupakan ritual kuno yang dilaksanakan setiap bulan Bakso Mulud dan selalu dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis menurut perhitungan penanggalan Jawa kuno. Ritual ini dilakukan dengan memendam kepala kerbau yang sebelumnya didoakan di Sitinggil Keraton Surakarta.

Seluruh kerabat, abdi dalem hingga Sentana dalem (kerabat raja) mengikuti doa yang dipimpin oleh tetua adat. Selain doa, tetua adat juga merapal puji-pujian yang berbahasa Arab serta mantram berbahasa Jawa.

loading...

Baca Juga : Bangsa Skithia, Cikal Bakal Lahirnya Legenda Amazon di Masyarakat Yunani Kuno

“Ini merupakan upacara yang sudah sangat kuno. Sebelum Mataram Islam ada, ritual ini sudah dilakukan. Setelah Mataram bercorak Islam, ritual ini tetap dipertahankan,” ucap Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) GKR Koes Murtiyah.

Selain mantra berbahasa Jawa, ada pula bacaan berbahasa Arab dan juga salawat nabi. “Setelah Mataram bercorak Islam maka mantram ada selawat nabi dan doa-doa berbahasa Arab seperti yang kita dengar tadi,” ucapnya.

Usai doa puluhan abdi dan sentana dalem di bawah naungan LDA itu berangkat menuju Alas Krendowahono. Alas atau hutan ini berjaraknya sekitar 15 KM dari Solo untuk mengubur kepala kerbau.

“Di sana nanti berkumpul di pendapa untuk sekali lagi membaca doa bersama dan mendengarkan sejarah ritual Mahesa Lawung. Lalu dilanjutkan dengan prosesi penguburan kepala kerbau dan makan bersama,” ucapnya.

Seperti semua ritual dalam Tradisi Jawa, Wilujengan Mahesa Lawung juga sarat simbolisme. Dalam masyarakat Jawa, hewan kerbau sering digunakan untuk melambangkan kebodohan. Dengan mengubur kepala kerbau, Keraton ingin menyampaikan bahwa Orang Jawa harus bisa memendam kebodohannya.

Disampaikan juga kerbau yang digunakan bukanlah sembarang kerbau, namun memiliki ketentuan khusus. Diantaranya kerbau jantan masih perjaka, dan belum dipekerjakan dan sudah bertanduk.

Selain kepala kerbau, jerohan kerbau yang dikorbankan juga ikut ditanam.“Maka di Jawa ada unen-unen (peribahasa) bodho longa-longo koyo kebo. Yang bodoh tentunya kan kepala. Kalau jerohannya melambangkan nafsu. Makanya kepala dan jerohan yang kita kubur,” ucapnya.


Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *