Connect with us

Seni & Budaya

Tradisi Unik 5 Suku di Indonesia Ketika Meminta Hujan Dimusim Kemarau

Published

on

Berita 192510121033 Memohonhujan,wargaserayabaratgelartradisigebugende (1)
Share

Reportersatu, Air bagi manusia adalah sumber kehidupan. zaman dahulu, masyarakat menggelar berbagai tradisi sebagai ungkapan syukur, sekaligus ritual meminta hujan kepada Tuhan. Tradisi meminta hujan masih banyak dilakukan di berbagai daerah di Indonesia

Bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan, musim hujan menjadi fenomena alam yang dinantikan kedatangannya, terutama ketika musim tanam. Sebab, curah hujan yang tinggi saat musim tanam akan membantu proses pertumbuhan tanaman.

Apabila musim kemarau yang berkepanjangan terjadi, masyarakat desa kemungkinan mengalami gagal panen. Oleh karena itu, masyarakat desa biasanya mengadakan ritual unik untuk menangkal kemarau panjang. Menariknya, setiap suku di Indonesia punya tradisi masing-masing dalam meminta hujan.

Baca Juga : Ni Thowok, Permainan Bernuansa Magis Ala Putri Kraton Surakarta

Berikut ulasan nya :

1. Gebug Ende, Bali

Tradisi meminta hujan yang pertama datang dari Bali. Gebug Ende adalah tarian yang gerakannya menyerupai silat. Biasanya Gebug Ende dimainkan oleh dua orang pria yang membawa rotan (ende) untuk memukul dan perisai (tamiang) untuk melindungi diri. Gebug Ende biasanya ditarikan ketika kemarau panjang melanda. Para petarung akan saling memukul hingga berdarah-darah. Mereka tidak diperkenankan menggunakan baju, cukup bersaput poleng dan dilengkapi dengan udeng saja. Tidak ada batasan pasti siapa yang menang atau kalah. Walau begitu, peserta yang terluka saat Gebug Ende tak boleh dendam. Sebab, masyarakat Bali percaya bahwa tetesan darah dari bekas sabetan rotan itu akan membawa berkah dari alam berupa hujan.

2. Manten Kucing, Tulungagung di Jawa Timur

Manten Kucing adalah upacara adat yang dilaksanakan di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Ritual ini bertujuan meminta hujan ketika musim kemarau panjang. Prosesi upacara dilakukan dengan memandikan dua kucing jantan Condromowo jantan dan betina di sebuah sumber air di Bukit Cobaan. Dalam Bahasa Jawa, “Manten” dapat diartikan sebagai “Pengantin”. Setelah memandikan kucing, prosesi ritual akan dilanjutkan dengan doa bersama dan diakhiri atraksi Tiban. Dipercaya dengan adanya tradisi ini, musim kemarau akan berakhir dan musim penghujan akan tiba.

3. Erlau-lau, Karo di Sumatera Utara

Dalam bahasa Karo, “Erlau-lau” memiliki arti bermain air. Dikenal pula sebagai Ndilo Wari Udan atau Meminta Musim Hujan, tradisi yang satu ini biasanya dirayakan dengan sangat meriah. Orang-orang akan berkerumun sambil membawa gayung, mangkok, atau ember.

Pemerintah setempat kemudian akan menyalakan saluran air dan aliran sungai ke pemukiman warga. Sementara itu, masyarakat setempat akan saling siram-menyiram air satu sama lain, sambil berteriak “Diir ko udan!” yang berarti “Deraslah hujan!”.

Sepintas, acara saling siram-menyiram ini mirip seperti Songkran di Thailand. Bedanya, dalam acara Erlau-lau, ada aturan adat tertentu yang tidak memperbolehkan wanita dan pria untuk saling menyiram sesuai dengan hubungan kekerabatan. Misalnya antara menantu dengan mertua yang beda jenis kelamin. Selain itu, semuanya bebas saling siram.

4. Cowongan, Banyumas

Cowongan adalah tradisi minta hujan yang biasa dilakukan warga Desa Plana, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Dalam tradisi Cowongan, biasanya masyarakat setempat akan membuat boneka dari sendok sayur (irus) atau gayung (siwur) yang terbuat dari batok kelapa. Boneka dari siwur atau irus tersebut didandani seperti perempuan. Nantinya boneka itu akan ditancapkan ke batang pohon pisang raja. Lalu, para pemainnya akan menyanyikan syair berisi doa pada Tuhan agar segera diberi hujan. Menurut kepercayaan masyarakat Banyumas, nantinya Dewi Sri atau Dewi Padi akan turun melalui pelangi untuk menurunkan hujan.

5. Nyaluh Ondou, Kalimantan Tengah

Masyarakat Dayak Ot Danum di Kalimantan Tengah akan memulai ritual Nyaluh Ondou, dengan mengambil air dan pasir dari tepi Sungai Kahayan sambil dipimpin oleh Damek (pemimpin upacara). Setelah itu, mereka akan melakukan ritual tak jauh dari tepi sungai. Masyarakat Dayak Ot Danum kemudian mempersiapkan persembahan berupa makanan, rokok, beras, ketan, uang koin, dan berbagai sajian lainnya. Persembahan itu lantas diantar ke tengah hutan. Mereka percaya, persembahan tersebut akan diambil oleh tiga penguasa hujan, yakni Raja Gamala Raja Tenggara (penguasa kilat), Raja Junjulung Tatu Riwut (penguasa angin), dan Raja Sangkaria Anak Nyaru (penguasa petir).


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *