Connect with us

Seni & Budaya

Tradisi Seni Ojung Untuk Keselamatan Desa

Published

on

Tradisi-Seni-Ojung-Untuk-Keselamatan-Desa
Share

Reportersatu, Tradisi seni tarung Ojhung ini digagas pertama kali oleh tokoh masyarakat Desa Bunbere’ almarhum Kiai Darun. Sejarah awal Ojhung ini memiliki banyak versi salah satunya adalah pagelaran tersebut diadakan sebagai wujud rasa syukur atas sumber air yang masih tetap lancar mengalir tidak mengenal musim.

Tradisi Ojhung ini biasa diadakan setiap satu tahun sekali untuk keselamatan desa. Karena, jika pagelaran Ojhung tidak dilaksanakan biasanya seringkali terjadi perang, pertengkaran antar warga, dan musibah-musibah lainnya. Sumber air titisan K. Moh Syakim pun sampai sekarang masih mengalir deras baik itu di musim kemarau.

loading...

Seni Tarung Ojhung tidak jauh berbeda dengan seni tarung pada umumnya, dimainkan oleh dua pemuda dengan menggunakan pelindung badan yang terbuat dari karung Goni.

Baca Juga : Sejarah Perkembangan Kesenian Ketoprak

Karung Goni tersebut dibalutkan mulai dari kepala, kedua tangan sampai badan kecuali tangan sebelah kanan dan kedua kaki. Konon, tradisi Ojung tempo dulu sering digelar saat selamatan desa, tolak balak atau sedang mendapat kegembiraan bersama disuatu wilayah. Sehingga mereka berkumpul dan mengadu kekuatan tubuh.


Tidak semua orang bisa ikut serta menjadi pemain dalam tradisi Ojhung ini, selain harus berani dan bertubuh kebal, juga kekuatan memukul dengan rotan serta seni menghindari dari pukulan lawan menjadi tolak ukur peserta Ojung. Sehingga permainan Ojhung ini sangat tidak diperbolehkan untuk anak-anak karena cukup berbahaya.

Jika tidak, maka pukulan rotan atau tongkat yang disediakan khusus oleh panitia bakal melukai kulit pemain. Memang seringkali terjadi bagi pemain pemula, pukulan rotan berukuran besar yang menyasar di lengan dan tubuh belakang dan samping melukai kulit dengan darah segar mengalir.

Tetapi, bagi mereka yang sudah biasa bermain Ojung, bekas pukulan rotan tak terlihat. Ini biasanya dinilai yang paling jago dan mendapat tepuk tangan meriah oleh penonton.


Pemenang dalam permainan Ojhung ini dinilai dari seberapa banyak mereka memberikan pukulan kepada lawannya. Jadi, bila lebih banyak menerima pukulan apalagi tongkat rotan yang dipegangnya lepas dari tangan dianggap kalah oleh penonton.

Salah satu perangkat budaya, yang kemudian menjadi tradisi, yaitu Ojung atau Ojhung, suatu bentuk tradisi yang cenderung mengarah pada bentuk ritual, meski dengan cara kekerasan dan melukai.


Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *