Connect with us

Seni & Budaya

Tradisi Marosok, Etika Berdagang Sapi di Ranah Minang

Published

on

Marosok 700x405
Share

Reportersatu, Belajarlah etika berdagang dari pedagang sapi di Ranah Minang. Masyarakat Minangkabau, memiliki tradisi unik dalam jual beli ternak, yakni tradisi marosok. Dan tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun ini kian marak menjelang hari raya Idul Adha.

Marosok adalah tradisi perdagangan taranak yang dilakukan oleh panggaleh taranak di Minangkabau, Sumatera Barat. Keunikan tradisi ini terletak pada proses tawar-menawar harga melalui aktivitas gerakan tangan penjual dan pembeli yang dilaksanakan di bawah topi atau kain sarung

Tradisi marosok ini biasa digelar di pasar ternak di sejumlah kawasan di Sumatera Barat. Berbeda umumnya dengan transaksi jual beli, dalam tradisi marosok dilakukan dalam diam.

Baca Juga : Desa Pagayaman, Meleburnya Jagat Bali Dalam kearifan Islam

Transaksi dilakukan berdua antara penjual dan pembeli dengan menggunakan bahasa isyarat tangan. Tanpa omongan. Pedagang dan pembeli saling berjabat tangan, dan memainkan masing-masing jari tangan untuk bertransaksi.

Uniknya ‘permainan tangan’ ini juga tertutup bagi orang lain. Karena biasanya si penjual dan pembeli menutupi tangan mereka dengan sarung, baju, kopiah atau benda lain. Tujuan dari sikap ini adalah agar orang lain tak mengetahui proses transaksi tersebut. Sehingga harga ternak yang diperdagangkan, hanya diketahui oleh si penjual dan pembeli.

Saat tawar menawar berlangsung, penjual dan pembeli saling menggenggam, memegang jari. Sesekali mereka menggoyang tangannya ke kiri dan ke kanan. Jika transaksi berhasil, setiap tangan saling melepaskan. Sebaliknya, jika harga belum cocok, tangan tetap menggenggam erat tangan yang lain seraya menawarkan harga baru yang bisa disepakati.

Dalam marosok, setiap jari melambangkan angka puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan rupiah. Transaksi dalam sunyi jamak ditemui di pasar-pasar ternak di Sumatera Barat, dan tentu saja masing-masing daerah memiliki cara yang disepakati bersama.

Tak ada yang mengetahui secara pasti, kapan tradisi ini mulai dilakukan. Sejumlah pedagang ternak hanya mengakui, tradisi ini sudah dimulai sejak zaman raja-raja di Minangkabau dan diterima secara turun temurun.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *