Connect with us

Seni & Budaya

Teganing, Musik Bambu Tradisional Khas Aceh

Published

on

Gadis2 Dan Teganing1
Share

Reportersatu, Teganing terbuat dari bambu dengan panjang sekitar 1 – 1,10 m dan diameter 0,15 m yang berasal dari aceh. Suara atau bunyi yang dihasilkan berasal dari pukulan stik pada senar sehingga menggetarkan badan teganing. Teganing tergolong alat musik pukul atau perkusi sekaligus idiophone, yang sumber bunyinya berasal dari getaran pada badan instrumen itu sendiri setelah dipukul-pukul dengan tangan atau alat lain.

Cara Membuat

Jenis bambu yang digunakan untuk membuat alat musik ini adalah bambu regen, yang banyak tumbuh di lereng gunung dekat dengan sumber mata air. Bambu regen memiliki ukuran yang tidak terlalu tipis dan tidak terlalu tebal. Dalam satu pokok bambu hanya satu ruas yang dapat digunakan untuk membuat teganing, karena bambunya harus cukup besar dan tua.

Bambu kemudian direndam beberapa hari di air mengalir seperti sungai dan parit (anak sungai), lalu dikeringkan di bawah sinar matahari. Selanjutnya bambu tersebut diberi lubang memanjang yang berfungsi sebagai ruang resonansi suara. Kulit terluar bambu dicungkil secara memanjang yang akan berfungsi sebagai tali senar. Kulit bambu dicungkil sebanyak 3 sampai 4  buah dan tidak boleh terputus atau terpisah dari bambunya.

Masyarakat Aceh menyebut senar pada teganing sebagai kekepak. Bambu kemudian diberi pengganjal untuk memisahkan senar dengan badan teganing, yang berfungsi untuk memberikan ketegangan pada senar.

Baca Juga : Karinding, Alat Musik 10 cm Khas Tanah Sunda

Cara Memainkan

Teganing dimainkan dengan cara memukul menggunakan peguel (stick) ke talinya dengan tangan kanan dan kiri secara bergantian, tetapi bisa juga secara bersamaan memukul badan teganing. Dahulu teganing digunakan oleh para gadis (beberu) Gayo untuk mengisi waktu senggang sambil menjaga jemuran padi agar tidak dimakan ayam atau merpati.

Namun seiring dengan perkembangan jaman, sudah jarang terlihat beberu memainkan teganing sambil menunggui jemuran padi di kampung-kampung. Saat ini alat musik teganing hanya dimainkan untuk mengiringi tarian khas Gayo, atau berbagai acara sosial masyarakat, dan festival. Salah satunya adalah pada acara Parade Musik Daerah ke-8 yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada akhir bulan September lalu.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *