Connect with us

Nusantara

Seorang Warga Blitar Berinovasi Ciptakan Mie Berbahan Ikan Patin

Published

on

Mi Tarempa 20170706 153549
Share

Reportersatu, Pandemi corona adalah mimpi buruk terutama di sektor ekonomi, menghadapi masa pandemi corona para pelaku usaha harus pintar memutar otak berinovasi menciptakan hal baru yang tentunya harus menarik minat konsumen.

Seperti yang dilakukan oleh Siti Purwanti, seorang warga Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar Jawa Timur. Berawal dari banyaknya budidaya ikan patin yang tak laku dijual, perempuan berusia 31 tahun tersebut justru sukses mengkreasikan ikan patin menjadi olahan mie instan yang sehat. Rasanya yang gurih serta tingginya kandungan protein membuat makanan sehat ini banyak diburu warga.

Mi ikan patin ini berbahan dasar ikan patin yang tinggi kandungan lemak jenuh, protein dan asam Omega 3. Proses pembuatannya, ikan yang sudah dibersihkan dikukus dalam dandang. Air kaldu yang dihasilkan, kemudian dicampur dengan tepung dan telur. Adonan ini lalu dicetak menjadi mi.

“Saya tertarik membuat mi ikan, karena masyarakat kita itu sangat suka mi. Kedua, di saat pandemi, makanan instan banyak diminati sehingga mi bikinan saya ini juga saya kemas seperti mi instan yang praktis memasaknya,” tutur ibu satu putri ini, Minggu (24/1/21).

Proses pengeringan mi membutuhkan waktu sehari jika panas terik. Namun di musim hujan, Siti memasukkan mi itu ke dalam oven hingga benar-benar kering. Sedangkan daging ikan patin yang telah matang dibersihkan dari tulang dan duri kemudian dicampur beragam bumbu untuk marinasi. Istilah untuk bumbu yang dimasukkan sachet di mi instan.

“Daging ikan patin dikasih bumbu kemudian disangrai sampai kering. Baru diratakan di loyang dan dioven hingga benar-benar kering dan renyah. Disinilah keistimewaan kuah kaldu mi ikan bikinan saya. Karena marinasinya benar-benar dari daging ikan murni,” jelasnya.

Mie yang telah kering di-packing dalam kardus beserta bumbu marinasinya. Tak lupa, Siti juga menyertakan cabai untuk menambah rasa pedas sesuai selera konsumennya. Satu kardus mi ikan ini, dijual seharga Rp 10 ribu. Siti mengaku, pemasaran secara online membuat produknya justru lebih dikenal di luar wilayah Blitar.

“Pesanan justru mengalir dari luar Blitar. Seperti Kediri, Madiun, Solo dan Tangerang. Mi ikan ini tahan sampai tiga bulan walaupun tanpa bahan pengawet,” imbuhnya.

Selain mie, kini Siti Purwanti juga mengolah berbagai kuliner seperti kerupuk dan sambal yang terbuat dari ikan air tawar. Dengan kreasi kuliner ini, Siti Purwanti mendapatkan omzet jutaan rupiah setiap bulannya.


Share
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *