Connect with us

Seni & Budaya

Sejarah Situs Watu Gajah, Saksi Bisu Penyebaran Agama Islam di Tuban

Published

on

Share

Reportersatu, Watu Gajah  ( batu Gajah ), begitulah warga Tuban menyebut sekumpulan batu besar yang berada di tengah ladang yang ditanami jagung dan kacang ini. Sesuai dengan namanya, bebarapa bongkahan batu itu jika dilihat secara sepintas memang bentuknya mirip dengan sosok gajah. Selain bentuknya yang cukup unik, Watu gajah itu juga mempunyai sisi lain berupa kisah yang menarik  dan berkembang di masyarakat sekitar yaitu tentang legenda Watu Gajah

Kumpulan beberapa batu besar berbentuk gajah di persawahan Kabupaten Tuban dipercaya masyarakat setempat sebagai arena pertempuran Patih Gajah Mada. Cerita itu menjadi bagian dari kisah tutur turun-temurun di kalangan masyarakat setempat. Batu ini persisnya terletak di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Sebagian masyarakat meyakini batu tersebut adalah bekas pertempuran Patih Gajah Mada. pertempuran terjadi saat Kusumawardhani, anak Raja Hayam Wuruk dari kerajaan Majapahit mendatangi tokoh penyebar agama Islam, Syech Abdullah Asy’ari atau Sunan Bejagung Lor. Tujuan kedatangannya yakni untuk berguru ilmu agama.

loading...

Sunan Bejagung Lor sendiri dikenal sebagai seorang penyebar agama yang gigih, pandai bergaul, dan mudah diterima semua lapisan masyarakat. Hal itulah yang membuat Kusumawardhani sangat berniat menimba ilmu dari Kanjeng Sunan.

Raja Hayam Wuruk tidak berkenan anaknya belajar agama Islam karena digadang-gadang akan menjadi pewaris tahta kerajaan Majapahit. Ia kemudian memerintahkan Patih Gajah Mada untuk menghalangi niat putri Kusumawardhani.

Pihak Kerajaan mengirimkan bala pasukan gajah dari Majapahit yang dipimpin Patih Gajah Mada. Mereka berusaha menyerang padepokan Sunan Bejagung. Adu kesaktian terjadi antara Patih Gajah Mada dengan Kanjeng Sunan Bejagung Lor.

Di sela adu kesaktian itu, Kanjeng Sunan menyabda pasukan gajah menjadi batu. Maka, jadilah batu-batu yang mempunyai ukuran cukup besar, sekilas wujudnya menyerupai gajah sampai sekarang.

Melihat pasukannya sudah menjadi batu, Patih Gajah Mada geram. Sontak, ia mengoyak pohon kelapa hingga buahnya berjatuhan. Segera ia meminumnya.

Sebaliknya, Kanjeng Sunan dengan santai melambaikan tangan ke arah pohon kelapa. Pohon kelapa itu seolah menjadi hidup dan patuh. Batangnya melengkung dari ujung pohon sampai ke tanah mengikuti lambaian tangan Sunan Bejagung. Ia kemudian memetik satu buah dan memberikannya kepada Gajah Mada untuk diminum.

Adu kesaktian masih berlanjut. Gajah Mada menantang Kanjeng Sunan mengambil ikan di laut dalam kondisi hidup dengan kesaktian yang dimiliki. Gajah Mada menggunakan ilmunya untuk mendapatkan ikan, namun yang didapat justru ikan mati. Sebaliknya, Sunan Bejagung Lor yang mengambil ikan dengan bermodal daun waru dan timba yang terisi air berhasil mendapatkan ikan hidup.

Dua kali kalah dalam adu kesaktian, membuat Gajah Mada dengan berat hati mengakui kehebatan Sunan Bejagung Lor. 

Juru Kunci makam Sunan Bejagung ke-9 itu menambahkan, usai kalah melawan Kanjeng Sunan, akhirnya Gajah Mada angkat kaki kembali ke kerajaan tanpa hasil alias tanpa membawa anak Raja Hayam Wuruk.

Menurut cerita warga setempat, dulu bebatuan itu benar-benar mirip gajah berbaris. Tempat itupun dikeramatkan. Anak-anak kecil dilarang mendekati tempat itu lantaran ada keyakinan bisa terkena musibah.

Tempat itu sering dijadikan tempat meditasi oleh sejumlah kalangan. Tidak sedikit yang meyakini gajah-gajah yang menjadi batu tersebut masih hidup secara gaib di sekitar tempat itu. Bahkan, menurut penuturan sejumlah warga asli yang telah lanjut, dahulu sering terdengar suara gajah pada malam-malam tertentu.


Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *