Connect with us

Seni & Budaya

Sejarah Reog Ponorogo Sebagai Warisan Leluhur dan Budaya

Published

on

Sejarah Reog Ponorogo Sebagai Warisan Leluhur Dan Budaya
Share

Reportersatu, Sejarah Reog Ponorogo secara singkat ada banyak versinya. Namun cerita yang paling terkenal yaitu tentang pemberontakan oleh Ki Ageng Kutu.

Beliau adalah seorang abdi kerajaan ketika masih dalam masa pemerintahan Bhre Kertabhumi, yang merupakan raja kerajaan Majapahit yang terakhir berkuasa sekitar abad 15.

Semua dimulai saat Ki Ageng Kutu marah besar, karena pengaruh yang kuat dari pihak istri raja kerajaan Majapahit yang berasal dari negeri Cina.

Selain hal itu, beliau juga marah besar terhadap rajanya sendiri, karena dalam menjalankan pemerintahannya banyak terjadi korupsi. Beliau sudah dapat memprediksi bahwa tidak lama lagi kekuasaan dari kerajaan Majapahit akan segera berakhir.

Akhirnya beliau memutuskan untuk pergi meninggalkan kerajaan. Beliau pergi ke sebuah daerah dan membangun perguruan. Disana beliau sendiri yang mengajar ilmu kekebalan diri serta seni bela diri untuk anak-anak muda, dan juga ilmu kesempurnaan hidup.

loading...

Beliau menaruh harapan pada mereka bahwa inilah bibit-bibit calon kebangkitan kerajaan Majapahit yang mulai runtuh.

Beliau menyadari bahwa pasukannya terlalu kecil dan lemah jika harus melawan pasukan dari kerajaan.

Oleh karena itu, pesan Ki Ageng Kutu menyampaikan pesan politis ini hanya melalui pertunjukan seni Reog Ponorogo, sekaligus juga mengandung sindiran terhadap Raja Kertabhumi serta kerajaannya.

Panggelaran Reog Ponorogo ini juga menjadi cara sekaligus strategi dari Ki Ageng Kutu, untuk menciptakan perlawanan dari masyarakat local dengan menggunakan kepopuleran Reog.

Pada saat pertunjukan Reog, juga ditampilkan topeng dengan bentuk kepala singa yang biasa dikenal sebagai “Singa barong”, raja hutan, yang disimbolkan sebagai Kertabhumi.

Di bagian atas, bulu-bulu merak ditancapkan hingga benar-benar mirip seperti kipas berukuran raksasa. Hal ini menjadi simbol sebagai pengaruh kuat dari para rekan Cinanya. Serta mengatur atas segala gerak-gerik yang dilakukannya.

Jatilan, adalah sebuah peran yang diperankan oleh gemblak yang sedang menunggangi kuda-kudaan. Hal ini menjadi simbol kekuatan dari pasukan Kerajaan Majapahit dan menjadi perbandingan yang sangat mencolok antar kekuatan warok.

Selain itu, di balik topeng ada badut merah sebagai simbol Ki Ageng Kutu yang sedang sendirian menopang berat topeng singobarong, hingga beratnya lebih 50 kg hanya dengan mengandalkan giginya.

Reog Ki Ageng Kutu ini akhirnya populer dan menyebabkan Bhre Kertabhumi segera mengambil tindakan dengan menyerang perguruan Ki Ageng Kutu, pemberontakan ini akhirnya dapat dilerai dengan sigap sigap oleh warok.

Baca Juga : Warisan Sejarah Pukubuwono X, Mobil Pertama Yang Berada di Indonesia

Akibat dari hal ini, menyebabkan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajarannya.

Namun, murid-murid dari Ki Ageng kutu tetap melanjutkan ajaran ini meskipun dengan cara diam-diam dan sembunyi-sembunyi.

Meskipun begitu, kesenian Reog pada akhirnya tetap diizinkan untuk melakukan acara pementasan, karena kesenian ini sudah sangat terkenal di antara kaum masyarakat.

Namun, dari segi jalan ceritanya memiliki alur cerita yang masih baru, karena sudah ditambahkan dengan karakter-karakter yang sudah ada dari cerita rakyat di daerah Ponorogo, seperti diantaranya Dewi Songgolangit, Kelono Sewandono, serta Sri Genthayu.

Sampai saat ini, masyarakat Ponorogo masih menjaga kelestarian dan hanya mengikuti apa yang sudah menjadi warisan leluhur dan budaya mereka.

Seni Reog Ponorogo ini adalah sebuah karya cipta dan kreasi manusia dalam aliran kepercayaan secara turun temurun dan masih dijaga kelestariannya.


Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *