Connect with us
DomaiNesia

Nasional

Sejarah Perjanjian Jepara, Kisah Akhir Raden Trunojoyo

Published

on

Trunojoyo 1 640x470
Share

Reportersatu, Raden Trunojoyo yang bergelar Panembahan Maduretno lahir di Madura, tahun 1649  dan wafat di Payak, Bantul pada 2 Januari 1680 adalah seorang bangsawan Madura yang memberontak terhadap kekuasaan Amangkurat I dan Amangkurat II dari Mataram. Pemberontakan tersebut dilakukan karena pemerintahan yang dipimpin oleh mereka dianggap terlalu keras dan berpihak kepada VOC. Sultan Amangkurat I dan II khususnya tidak disukai rakyat karena sifatnya yang kejam, sewenang – wenang dan sangat dekat dengan VOC.

Sebagai akibat dari ketidakpuasan terhadap pemerintahan tersebut, banyak ulama dan santri yang ditangkap serta dihukum mati di Mataram. Hal – hal itulah yang membuat Trunojoyo memberontak kepada kepemimpinan Sultan Amangkurat I dan II.

Perjanjian Jepara adalah perjanjian kesepakatan yang dilakukan oleh Sultan Amangkurat II dari Kerajaan Mataram dengan pihak VOC dengan tujuan untuk membasmi pemberontakan yang dilakukan oleh Raden Trunojoyo.

Baca Juga : Sejarah Perjanjian Salatiga, Solusi Akhir Perang di Jawa

Sejarah

Setelah menjadi Amangkurat II, Adipati Anom menandatangani perjanjian dengan VOC yang dikenal dengan nama Perjanjian Jepara pada September 1977. Perjanjian Jepara ini membuat Amangkurat II harus membayarnya dengan harga yang mahal, yaitu dengan merelakan sebagian wilayahnya kepada VOC. Perjanjian Jepara berisi kesepakatan antara Amangkurat II dan VOC untuk menyerahkan wilayah di Pantai Utara Jawa kepada VOC apabila pemberontakan Trunojoyo dihentikan oleh VOC.

Itu artinya bahwa wilayah Pantai Utara Jawa yang mencakup Karawang sampai ujung timur Pulau Jawa digunakan sebagai jaminan untuk membayar dalam Perjanjian Jepara kepada Belanda yang membantu memberantas pemberontakan Trunojoyo. Sebelum perjanjian Jepara ditandatangani, VOC pernah menawarkan perdamaian secara pribadi kepada Trunojoyo di Benteng VOC Danareja tetapi tawaran tersebut ditolak.

Sementara itu Trunojoyo yang sudah mendirikan pemerintahan sendiri dengan gelar Panembahan Maduretno telah menguasai hampir seluruh wilayah pesisir Jawa, sedangkan di wilayah pedalaman masih banyak rakyat yang setia kepada Mataram. VOC kemudian memusatkan kekuatan untuk mengalahkan Trunojoyo di bawah pimpinan Jendral Cornelis Speelman. Pasukan Bugis yang dipimpin Aru Palaka dari Bone dikerahkan oleh VOC untuk melawan Karaeng Galesong, dan pasukan Maluku dipimpin Kapitan Jonker diarahkan untuk menyerang di darat secara besar – besaran bersama pasukan Amangkurat II.

Spellman bersama pasukan VOC menyerang Surabaya pada April 1677 dan berhasil menguasainya. Dengan pasukan gabungan sejumlah 1500 orang, ia berhasil mendesak Trunojoyo sehingga sedikit demi sedikit benteng Trunojoyo berhasil dikuasai VOC. Pada akhirnya Trunojoyo berhasil dikepung dan menyerah di lereng Gunung Kelud pada 27 Desember 1679 kepada Kapitan Jonker. Ia kemudian diserahkan kepada Amangkurat II di Payak,Bantul. Amangkurat II menghukum mati Trunojoyo pada 2 Januari 1680, Trunojoyo dihukum mati oleh Amangkurat II.

Setelah kematian Trunojoyo, Keraton Plered yang sudah hancur dipindahkan ke Kartasura. Cakraningrat II juga kembali diangkat sebagai penguasa di Madura oleh VOC. Perjanjian Jepara memang membuat Amangkurat II berhasil memadamkan pemberontakan Trunojoyo, tetapi harga yang harus dibayarnya sangat besar. Sebagai akibatnya, Mataram berutang biaya peperangan yang sangat besar kepada VOC dan harus menyerahkan wilayah pesisir utara Pulau Jawa sebagai gantinya sesuai dengan kesepakatan dalam Perjanjian Jepara. Sejak saat itu Mataram dan Madura berada di bawah pengaruh VOC dalam penentuan suksesi tahta dan kekuasaan. 


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *