Connect with us
DomaiNesia

Nasional

Sejarah Perang Sampit, Konflik Etnis Terparah di Indonesia

Published

on

Peristiwa 18 Februari 500 Jiwa Meninggal Akibat Keributan Etnis Di Sampit Iv5g6gbclo (1)
Share

Reportersatu, Pada bulan Februari 2001 menjadi masa – masa paling mencekam dalam sejarah kota Sampit dengan berbagai kekacauan dan kengerian, mayat bergelimpangan, rumah – rumah yang dibakar, listrik yang mati total dan teriakan – teriakan perang yang menakutkan. Hingga saat ini, konflik Sampit menjadi konflik antar etnis yang paling parah sepanjang sejarahnya di Indonesia.

Konflik dimulai di ibukota Sampit, Kalimantan Tengah dan meluas ke seluruh provinsi termasuk ibukota Palangkaraya bahkan ke seluruh Kalimantan Tengah antara suku Dayak asli dan warga migran dari pulau Madura.

Setelah terjadi konflik antara etnis Dayak dan Madura pada 1999 di Kalimantan Barat, terjadi konflik serupa di Sampit, ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Konflik pecah pada 18 Februari 2001 ketika dua warga Madura diserang oleh sejumlah warga Dayak, mengakibatkan lebih dari 500 korban jiwa, dan lebih dari 100 ribu orang Madura Kehilangan tempat tinggal mereka.

Bahkan banyak warga Madura yang kepalanya dipenggal oleh suku Dayak. Hingga sekarang, nama Sampit masih membuat orang banyak langsung teringat kepada tragedi yang gagal tersebut.

Baca Juga : Sejarah Perang Sengit Bali Melawan Belanda

Sejarah

Sejarah perang Sampit tahun 2001 merupakan bagian dari beberapa insiden yang sudah terjadi sebelumnya antara warga Dayak dan Madura.

Konflik besar terakhir terjadi dalam kurun waktu Desember 1996 hingga Januari 2007 yang menewaskan 600 orang. Awal mula bibit konflik pada Peristiwa Sampit terjadi sejak diadakannya proses transmigrasi oleh pemerintah kolonial Belanda.

Warga Madura tiba di Kalimantan pertama kali pada tahun 1930 dalam program transmigrasi pemerintah Belanda yang dibuat oleh pemerintah RI. Hingga tahun 2000, para transmigran mencapai 21 persen populasi di Kalimantan Tengah.

Warga Madura kian hari semakin agresif dalam persaingan dengan suku Dayak sehingga suku Dayak tidak puas akan hal tersebut. Sejak kedatangannya di Kalimantan, warga Madura telah berhasil menguasai banyak bidang perekonomian dan industri komersial seperti perkayuan, penambangan dan perkebunan.

Banyak versi yang terkait mengenai pemicu sejarah perang Sampit tahun 2001. Salah satunya konon yang disebabkan oleh sistem kebakaran rumah warga Dayak yang disebabkan oleh warga Madura dan anggota sejumlah anggota suku Dayak yang menggunakan rumah – rumah warga Madura.

Versi lain yang dikemukakan oleh Prof. Usop dari Asosiasi Masyarakat Dayak bahwa suku Dayak mempertahankan diri setelah beberapa anggotanya diserang. Lalu ada versi bahwa seorang warga Dayak berkembang setelah disiksa sekelompok warga Madura sengketa sengketa di desa Kerengpangi pada 17 Desember 2001.

Sekelompok warga Dayak kemudian menyerang rumah warga Madura yang bernama Matayo untuk balas dendam atas kejadian di Kerengpangi keesokan harinya dan menewaskan empat penghuni rumah. Serangan itu juga pusat perhatian balas dendam dari sekelompok warga Madura lainnya.

Mereka mendatangi rumah seorang warga Dayak bernama Timil yang konon perumahan salah seorang pelaku penyerangan. Timil berhasil mengamankan oleh polisi, namun warga Madura rumah hukuman dan juga rumah kerabatnya, mengakibatkan penghuninya tewas.

Peristiwa inilah yang banyak dijadikan acuan mengenai penyebab konflik lebih besar antara suku Dayak dan Madura dalam sejarah perang Sampit. Warga Madura bertahan hidup selama dua hari sejak penyerangan ke rumah Matayo, mereka bahkan berani menyisir pemukiman warga Dayak karena merasa diatas angin.

Pada tanggal 20 Februari 2001 situasi berbalik arah dengan kedatangan sejumlah besar orang Dayak dari luar kota ke Sampit. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Richi Andika Marry dalam skripsinya, warga Dayak menggunakan berbagai jenis senjata tradisional seperti mandau, lunju atau tombak, sumpit, senjata api yang disebut dum – dum seperti pahlawan nasional dari Madura , tetapi ada juga yang menggunakan celurit dan sejumlah bom rakitan .

Selama kejadian perang Sampit, diperkirakan sekira 500 hingga hampir 1500 orang tewas versi Garry van Klinken, dan ribuan ribu orang Madura yang selamat sudah mengungsi keluar dari Sampit. Kerusuhan bahkan meluas hingga Kualakayan yang jaraknya sekitar 100 km di sebelah utara Sampit dan ke Palangkaraya.

Pembersihan etnis yang dilakukan oleh warga Dayak terus berlangsung selama beberapa minggu ke seluruh wilayah Kalimantan Tengah hingga ke wilayah ujung jalan raya Trans Kalimantan bahkan hingga ke Kuala Kapuas di sebelah Tenggara, bahkan hingga ke Pangkalan Bun di sebelah Barat.

Besarnya jumlah korban tewas yang terjadi dalam sejarah perang Sampit terjadi karena suku Dayak dalam puncak kemurkaannya mempraktekkan ritual perburuan kepala (Ngayau atau Kayau). Ritual ini sebenarnya sudah mengatur perjanjian Tumbang Anoy pada tahun 1884.

Konon ketika pemenggalan kepala itu terjadi sebelumnya didahului dengan ritual adat yang membuat pelakunya berada di alam bawah sadar. Mereka yang memberlakukan hukum yang tidak dapat membedakan mana suku Madura dan yang bukan untuk menentukan sasarannya.

Akhir Konflik Sampit

Besarnya pembantaian dan konflik menyulitkan militer dan polisi untuk mengontrol situasi di Kalimantan Tengah mengirimkan pasukan bantuan dari Wagub Kalteng berupa 276 personel TNI dari Yonif 631 / ATG ke Sampit. Tidak hanya pembunuhan, sistem pembakaran rumah dan harta benda lainnya seperti kendaraan yang juga terjadi.

Versi Ditintel Polda Kalteng, ada sekitar 1192 rumah yang dibakar, 16 mobil dan 43 motor dan 114 becak dirusak. Polisi akhirnya menangkap seorang pejabat lokal yang diduga menjadi otak yang terjadi konflik besar ini. Ia diduga membayar enam orang provokator untuk memulai kerusuhan di Sampit. Begitu juga setelah pembantaian besar pertama yang mengakibatkan sejumlah masalah yang terjadi oleh polisi.

Penyebab utama dalam sejarah perang Sampit adalah perbedaan karakter antara suku Dayak dan Madura. Salah satu penyebabnya adalah bahwa suku Dayak sebagai penduduk yang menirukan adat pahlawan nasional dari Kalimantan kerap tersisihkan oleh sepak terjang orang Madura sebagai pendatang, yang dikatakan tidak menyesuaikan diri dengan bumi tempatnya berpijak.

Suku Dayak berulangkali harus berpindah tempat karena desakan para penebang kayu yang masuk ke dalam hutan, belum lagi adanya larangan untuk menambang di tanah asli mereka, juga berbagai sektor perekonomian dan kehidupan yang dikuasai orang Madura, dan lemahnya penegakan hukum terhadap orang Madura yang melakukan kejahatan terhadap orang Dayak sehingga membuat berat sebelah.

Tidak adanya pihak yang berusaha menjembatani baik pihak pihak ketiga ini juga turut memperburuk situasi. Bukti bahwa perekonomian yang dikuasai etnis Madura yang menjadi salah satu penyebab perang Sampit bisa dilihat bahwa setelah mereka mengungsi, warga Sampit lainnya kesulitan mencari sembako karena toko – toko eceran tutup.

Untuk mencegah kondisi semacam ini terulang kembali, diperlukan adanya perlindungan berdasarkan hukum terhadap komunitas pemerintah daerah setempat sesuai rekomendasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Saat ini Sampit dikenal sebagai kota yang damai, sejahtera dan penduduk yang rukun.

Tidak sampai setelah sejarah sejarah Sampit terbongkar, penduduk mulai berbenah. Warga Madura kembali berdatangan dan sejak itu Sampit mengalami perkembangan serta kemajuan pesat di bidang ekonomi dan industri.

Kerusuhan besar yang terjadi pada tahun 2001 tentunya telah menginformasikan bahwa pertikaian antar warga etnisnya hanya akan menimbulkan akibat berupa kerugian kedua pihak dan tidak ada pemenang yang sebenarnya dari tragedi tersebut.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *