Connect with us
DomaiNesia

Nasional

Sejarah Pemilu di Dunia yang Wajib Diketahui

Published

on

Maccari Cicero (1)
Share

Reportersatu, Sejarah pemilu pertama akan meletakkan kontribusi dasar untuk pemerintahan demokratis karena demokrasi langsung yang merupakan suatu bentuk pemerintah dimana keputusan politis dibuat langsung oleh seluruh dewan atau badan yang berisi penduduk yang memenuhi kualifikasi. Pemilu memungkinkan para pemilih untuk memilih pemimpinnya, memecahkan masalah suksesi kepempimpinan dan juga menyumbang kepada kelanjutan demokrasi.

Pemilu berfungsi sebagai forum untuk mendiskusikan masalah publik dan memfasilitasi ekspresi pendapat publik. Pemilu juga menyediakan pendidikan politik untuk rakyat dan memastikan tanggung jawab pemerintahan demokratis kepada kehendak rakyat. Selain itu juga melegitimasi tindakan para pemegang kekuasaan, sebuah fungsi yang bahkan dilakukan hingga tingkat tertentu bahkan oleh pemilu yang tidak kompetitif.

Yunani

Membahas sejarah pemilu pertama tidak akan bisa dilepaskan dari sejarah demokrasi di dunia dimulai dari  peradaban Yunani kuno yang sepertinya telah menjadi yang pertama untuk mengimplementasikan bentuk demokrasi yang paling awal. Istilah demokrasi pertama muncul pada teori filosofis dan politik Yunani kuno di negara kota Athena. Arti kata demokrasi berasal dari kata demos yang artinya ‘orang awam’ dan kratos yang berarti ‘kekuatan’. Dipimpin oleh Cleisthenes, warga Athena mengadakan apa yang secara umum diketahui sebagai pelaksanaan pemilu sebagai wujud demokrasi pertama pada 508-507 SM sehingga ia dijuluki ‘Bapak Demokrasi Athena’.

Demokrasi Athena mengambil bentuk demokrasi langsung yang memiliki dua fitur berbeda yaitu pemilihan acak dari warga asli untuk mengisi beberapa posisi pemerintahan administratif dan kantor yudisial, dan suatu dewan legislatif yang mencakup semua warga Athena. Semua warga yang berhak diizinkan untuk bicara dan memilih dalam dewan tersebut yang akan menetapkan hukum untuk negara kota.

Baca Juga : Sejarah Perjanjian Jepara, Kisah Akhir Raden Trunojoyo

Akan tetapi, warganegara Athena tersebut tidak mencakup semuanya. Dengan pengecualian wanita, budak, pendatang, bukan tuan tanah, dan pria berusia di bawah 20 tahun. Pengecualian sebagian besar populasi dari dewan rakyat berkaitan erat dengan budaya kuno mengenai kewarga negaraan.  Dalam sebagian besar budaya kuno, status kewarga negaraan juga terikat dengan kewajiban untuk melawan kampanye perang.

Setiap tahun, para pemilih yang terdiri dari para tuan tanah diminta untuk memilih pemimpin politik atau kandidat yang paling diinginkan untuk diasingkan selama sepuluh tahun berikutnya. Pemilu dengan cara ini dikenal sebagai ‘negative election’. Sistem pemungutan suara awal adalah ketika para pemilih menulis pilihan mereka pada bagian pot yang pecah atau disebut Ostraka dalam bahasa Yunani. Jika ada kandidat yang menerima lebih dari 6000 angka maka yang memiliki angka terbesar yang akan diasingkan. Jika tidak ada satupun politisi yang menerima angka sejumlah itu maka semuanya bisa tetap bertahan.

Demokrasi Athena tidak saja terkait dengan keputusan yang dibuat oleh orang – orang yang berkumpul tetapi juga paling langsung dalam artian bahwa rakyat melalui dewan mengontrol seluruh proses politik dan proporsi besar penduduk yang terlibat secara konstan dalam urusan publik. Walaupun hak individual tidak diamankan dalam sejarah pemilu pertama di konstitusi Athena jika dipandang dari sudut modern, para penduduk Athena menikmati kebebasan mereka bukan sebagai pihak oposisi dari pemerintah melainkan dengan tinggal di kota yang tidak menjadi subjek kekuatan lain dan tidak menjadi subjek dari aturan yang ditetapkan orang lain.

Sejarah Pemilu di Sparta

Pemungutan suara dengan cara voting terjadi di Sparta pada awal abad 700 SM. Apella adalah suatu kumpulan penduduk yang diadakan satu kali dalam satu bulan, dimana setiap penduduk pria yang berusia paling tidak 30 tahun bisa ikut berpartisipasi. Para penduduk Sparat memilih pemimpin dengan voting dan teriakan. Aristotle menyebut cara ini kekanak – kanakan jika dibandingkan dengan surat suara batu yang digunakan oleh para penduduk Athena. Sparta kemudian mengadopsi cara tersebut karena mudah dilakukan dan untuk mencegah adanya kecurangan yang utama pada pemilihan demokrasi awal.

Sejarah Pemilu Romawi

Walaupun Republik Romawi ikut menyumbang secara signifikan dalam berbagai aspek demokrasi, hanya sejumlah kecil penduduk Romawi yang ikut memilih dalam sejarah pemilu pertama yang memilih perwakilannya. Kebanyakan pejabat tinggi termasuk anggota Senat Romawi, datang dari beberapa keluarga kaya dan terpandang.

Sebagai tambahan, Republik Romawi adalah pemerintah pertama di dunia Barat yang memiliki bentuk negara Republik, walaupun tidak menerapkan demokrasi secara utuh. Romawi menemukan konsep klasik da banyak pekerjaan dari Yunani Kuno yang digunakan. Sebagai tambahan, model pemerintahan Romawi mengilhami banyak pemikiran politis selama berabad – abad, dan model demokrasi pada saat ini lebih meniru konsep Romawi daripada Yunani karena Romawi adalah negara yang memiliki kekuasaan besar, memiliki perwakilan yang dipilih dan juga pemimpin yang terpilih.

Sejarah Pemilu di India Kuno

Salah satu sejarah pemilu pertama dan penerapan demokrasi dalam suatu peradaban ditemukan pada negara – negara di India kuno, yang didirikan pada satu waktu sebelum abad ke 6 SM, dan sebelum kelahiran Gautama Buddha. Negara – negara ini dikenal sebagai Maha Janapadas, dan Vaishali yang sekarang dikenal sebagai Bihar, India adalah republik pertama dunia. Sistem semokrasi Sangha, Gana dan Panchayat digunakan di beberapa republik ini. Sistem Panchayat masih digunakan hingga hari ini di desa – desa di India.

Beberapa waktu kemudian pada masa Alexander Agung di abad ke 4 SM, orang Yunani menulis mengenai negara Sabarcae dan Sambastai yang sekarang dikenal sebagai Pakistan dan Afghanistan, yang bentuk pemerintahannya adalah demokratis dan tidak Regal, menurut para ahli Yunani ketika itu. Contoh lainnya adalah kenaikan Gopala kepada kekuasaan melalui pemilihan demokratis dari Bengal, yang didokumentasikan oleh sejarawan Tibet bernama Taranath.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *