Connect with us

Seni & Budaya

Sejarah Panjang Museum Nasional, Museum Terbesar dan Tertua di Indonesia

Published

on

Share

Reportersatu, Destinasi museum di masa pandemi seperti saat ini memang menjadi pilihan tersendiri bagi masyarakat Indonesia, terutama Jakarta. Dengan mengunjungi museum, kita dapat menambah ilmu pengetahuandan wawasan yang luas soal sejarah.

Karena, dari mengunjungi museum kita bisa mengetahui banyak barang dan bentuk yang menarik untuk dipelajari atau sekadar ingin mengetahuinya saja. Bahkan, dengan mengunjungi museum banyak manfaat yang kita petik.

Seperti bangunan yang kini digunakan sebagai Museum Nasional alias Museum Gajah yang terletak di Jalan Medan Merdeka Barat No 12, Gambir, Jakarta Pusat. Berdasarkan catatan sejarah, Museum Nasional berdiri atas keinginan sejumlah ilmuwan di Batavia untuk mendirikan perkumpulan ilmiah.

Baca Juga : Sejarah Situs Watu Gajah, Saksi Bisu Penyebaran Agama Islam di Tuban

Nama perkumpulan ilmiah itu bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang disingkat menjadi BG. Himpunan ilmiah tersebut didirikan oleh Pemerintah Belanda pada 24 April 1778.

Pada masa abad ke-18, di Eropa memang sedang terjadi revolusi intelektual pada masa Abad Pencerahan (The Age of Enlightenment). Orang-orang Eropa mulai mengembangkan pemikiran ilmiah dan ilmu pengetahuan. 

loading...

Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG) adalah lembaga independen yang didirikan untuk memajukan penelitian ilmiah yang meliputi seni dan  pengetahuan alam, khususnya biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi, dan sejarah.

Lembaga ini memiliki semboyan ‘Ten Nutte van het Algemeen’ Artinya, untuk kepentingan masyarakat umum.

Jacobus Cornelis Mattheus Rademache, yang merupakan  penggagas lembaga BG di Batavia. Lantas, dia memberikan  rumah miliknya di Jalan Kalibesar sebagai tempat perkumpulan peneliti BG.  Dia juga menyumbangkan sejumlah koleksi benda budaya dan buku-bukunya.

Koleksi Jacobus Cornelis Mattheus Rademache itu yang menjadi  cikal bakal berdirinya museum dan perpustakaan.

Kemudian, direktur perkumpulan, Sir Thomas Stamford Raffles, memutuskan membangun tempat baru di Jalan Majapahit No 3, Jakarta Pusat. Bangunan itu menempati  di paviliun Gedung Harmonie dan menamakan diri Literary Society.

Pada periode berikutnya tahun 1862, Pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membangun gedung museum baru. Gedung baru itu tidak hanya berfungsi sebagai kantor tetapi juga sebagai tempat perawatan dan ruang memamerkan koleksi.

Jumlah koleksi miliki BG terus meningkat hingga museum di Jalan Majapahit tidak lagi dapat menampung koleksi. Setelah itu, pada tahun 1862, Pemerintah Hindia-Belanda memutuskan untuk membangun gedung museum baru di Jalan Medan Merdeka Barat No 12, Gambir, Jakarta Pusat.

Area lokasi museum baru itu masih satu lokasi dengan gedung Rechst Hogeschool (sekolah tinggi hukum). Pada tahun 1923, perkumpulan BG memperoleh gelar ‘Koninklijk’ atas jasanya dalam bidang ilmiah dan proyek pemerintah.

Lalu, nama organisasi ikut berubah menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Masa selanjutnya, pada 26 Januari 1950, setelah Indonesia merdeka organisasi tersebut diubah namanya menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia.

Perubahan itu disesuaikan dengan semboyan baru yaitu ‘Memajukan ilmu-ilmu kebudayaan yang berfaedah untuk meningkatkan pengetahuan tentang Kepulauan Indonesia dan negeri-negeri sekitarnya.’

Selanjutnya, pada  17 September 1962 Lembaga kebudayaan Indonesia menyerahkan pengelolaan museum ini pada Pemerintah Indonesia yang kemudian menjadi Museum Pusat.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 92/0/1979 pada tanggal 28 Mei 1979, Museum Pusat mengalami peningkatan status menjadi Museum Nasional

Museum Nasional sekarang ini terdiri dari dua unit, yaitu Gedung Museum Nasional Unit A serta bangunan baru, Unit B yang bernama Gedung Arca yang mulai dibangun sejak tahun 1996. Gedung tersebut  diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyana pada 20 Juni 2007.

Konsep penataan pameran di Gedung Arca diberi tema “Keanekaragaman Budaya dalam Kesatuan”, yang ditampilkan pada empat lantai berbeda. Museum secara resmi dibuka pada tahun 1868 untuk umum. 

Saat ini, museum tersebut dikenal sebagai Museum Nasional Indonesia. Masyarakat juga mengenalnya dengan sebutan Museum Gajah. Pasalnya, ada patung gajah perunggu yang menghiasi halaman depan Museum Nasional.

Patung Gajah perunggu itu hadiah dari  Raja Chulalongkorn, Thailand, ini sebagai tanda bahwa Chulalongkorn telah berkunjung ke Museum Nasional pada tahun 1871.




Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *