Connect with us

Seni & Budaya

Kesenian Tayub Sebagai Refleksi Kehidupan Manusia

Published

on

Sejarah Kesenian Tayub Berdasar Kajian Dinas Kebudayaan
Share

Reportersatu, Berdasar kajian yang dilakukan Dinas Kebudayaan DIY merujuk pendapat RT Kusumakesawa (1980), kesenian tayub berawal dari dalam kraton.

Tarian tersebut dilakukan raja apabila sedang memberikan pelajaran tentang kepemimpinan (Asthabrata) kepada putera mahkota. Tidak ada orang lain yang masuk dan melihat prosesi ini.

Kepala Seksi Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya Takbenda Dinas Kebudayaan DIY, Sri Wahyuni mengatakan, menurut cerita pada catatan Mangkunegaran terdapat dongeng tentang raja dari negeri Purwacarita bernama Prabu Kano.

Di negeri tersebut terdapat peraturan yang disebut ‘badudakan’ yaitu jejamuan perkawinan. Karenanya, baik keluarga perempuan maupun laki-laki sama-sama menari (Claire Holt, 1967;112).

“Studi pada catatan lain (1980) terdapat keterangan bahwa nayub berasal dari kata tayub yang terdiri dari dua ‘mataya’ yang berarti tari dan ‘guyub’ yang berarti rukun bersama.

loading...

Sehingga terjadi perubahan dua kata menjadi satu kata: mataya dan guyub, menjadi tayub dan berubah menjadi nayub,” ungkapnya.

Dijelaskan lebih lanjut, pada kajian yang dimaksudkan untuk mengusulkan Tayub sebagai WBTb Nasional, di Yogyakarta ada tradisi semacam nayuban disebut sebagai beksan pangeranan.

Tarian ini hanya memuat satu penari tanpa ada orang yang mengiringi atau ‘nglarahi’ dan tampak hanya berdua dengan ‘ledhek’.

Tayub juga dikenal di dalam ‘Serat Centini’ yang menyebutkan tayub sebagai tari pergaulan yang berpusat pada penari wanita yang mempunyai beberapa istilah, seperti ‘ronggeng, taledhek (tledek, ledhek), tandhak’. Istilah-istilah tersebut merujuk pada arti penari wanita.

“Kesenian tayub sebagai refleksi kehidupan manusia yang mencerminkan adanya kedekatan hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya.

Yakni detak jantung kehidupan individu dalam kolektivitas masyarakat pemiliknya. Keakraban seperti ini mendapat bentuknya yang paling mesra dan homogen dalam masyarakat pertanian tradisional,” urai Sri Wahyuni.

Kesenian tayub memiliki fungsi kultural yang memuat relasi antara pelaku upacara dengan warga masyarakat.

Terutama makna simbolis penari tayub sebagai media pengantar upacara dan pengiring sebagai wakil jemaat, yakni sebuah ritus yang bersifat magis simpatetis atau magis yang mempengaruhi kesuburan manusia dan alam sekitarnya.

Di samping fungsi ritualnya, kesenian tayub memiliki fungsi sosial sebagai sebuah hiburan bagi masyarakat, terutama para pengiring dari kalangan laki-kali, sehingga kesenian tayub juga disebut sebagai tari pergaulan pria dan wanita.

Eksistensi tayub sebagai ekspresi kolektif pada hakekatnya mencerminkan aktualisasi eksistensi estetis, eksistensi etis dan eksistensi religius.

Sebab itulah sebagai paya pelestarian karya budaya, kesenian tersebut dijadikan ritus dan media hiburan seperti pada ritual sedekah laut, nyadranan, bersih dusun dan lainnya.

Selain itu juga upaya regenerasi yang diwujudkan dalam pengajaran kepada pemuda-pemudi. 


Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *