Connect with us

Sport

Sejarah dan Tokoh Terbentuknya Persatuan Bulu Tangkis di Indonesia

Published

on

Pbsi. Istimewa
Share

Reportersatu, Di Indonesia sendiri olah raga badminton ini lebih dikenal dengan nama ‘bulu tangkis’.  Di masa penjajahan, terdapat beberapa perkumpulan bulu tangkis di Indonesia yang masih bergerak sendiri-sendiri tanpa adanya tujuan dan visi misi dalam pembentukan anggota dan olah raga. Bahkan mereka membentuk kelompok sendiri-sendiri tanpa aturan dan kebijakan yang berlaku.

Sampai ada yang mencanangkan, bahwa beberapa organisasi harus bersatu secara nasional dengan tujuan sebagai organisasi pemersatu.

Dalam proses pembentukan wadah organisasi pemersatu ini tidaklah mudah, mereka harus mempertemukan atau menghadirkan tokoh pebulu tangkis atau pemain badminton handal dalam suatu kongres badminton.

Hal ini sangat sulit dilakukan karena kurangnya komunikasi yang efektif, karena pada masa itu ponsel masih belum marak digunakan, hanya orang-orang tertentu yang menggunakan telepon. Sehingga tak heran jika hanya sebatas pulau Jawa saja mereka melakukannya. Bahkan hal ini bisa dilakukan ketika usai pembentukan dari Persatuan Olah Raga Republik Indonesia (PORI).

Baca Juga : Sejarah Badminton di Dunia

PBSI Berdiri

Salah satu tokoh yang memiliki ide untuk membentuk organisasi pemersatu ini adalah Sudirman dan kawan-kawannya. Sudirman dan kawan-kawannya pun mencoba mencari cara dengan meminta dukungan dari banyak orang melalui surat-surat yang mereka buat dan mereka sebar.

Jerih payah Sudirman dan kawan-kawan pun membuahan hasil dengan berdirinya Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) pada tanggal 5 Mei 1951 di Bandung. Pada tanggal yang sama, diakui sebagai kongres pertama PBSI hingga terbentuk susunan keanggotaan sebagai berikut:

  1. Ketua I : Soedirman.
  2. Ketua II : Tri Tjondrokoesoemo.
  3. Sekretaris I : Amir.
  4. Sekretaris II : E. Soemantri.
  5. Bendahara I : Rachim.
  6. Bendahara II : Liem Soei Liong.

Karena adanya kelahiran dari PBSI tersebut, maka secara otomatis kepengurusan di setiap daerah menjadi cabang dari kepengurusan pusat (PBSI) hingga berubah nama juga menjadi Pengda (Pengurus Daerah) untuk tingkat daerah/propinsi dan Pengcab (Pengurus Cabang) untuk kepengurusan tingkat kota madya/kabupaten.

Pada bulan Agustus 1977 telah tercatat 26 Pengda diseluruh Indonesia (kecuali Timor-Timur) dan 24 Pengcab. Sedangkan untuk jumlah perkumpulan yang tercatat sebagai anggota resmi PBSI ini diperkirakan sejumlah 2000 lebih perkumpulan.

Arti Lambang PBSI

Adapun makna dan filosofi dari lambing PBSI yaitu:

  • 5 warna yang di antaranya:
    1. Kuning : simbol dari kejayaan.
    2. Hijau : simbol dari kesejahteraan dan kemakmuran.
    3. Hitam : simbol dari kesetiaan dan kekal.
    4. Merah : simbol dari keberanian.
    5. Putih : simbol dari kejujuran.
  • Gambar kapas yang berjumlah 17 biji yang merupakan simbol dari angka keramat yaitu angka kemerdekaan Indonesia atau pembacaan proklamasi.
  • Gambar Shuttlechock yang terdiri dari 8 helai bulu yang melambangkan sebagai bulan kemerdekaan yaitu bulang kedelapan (Agustus).
  • Huruf PBSI yang terdiri dari 4 huruf dan dihubungkan dengan gambar setengah lingkaran sebanyak 5 biji berwarna merah di bawah shuttlecock. Lambang telah menggambarkan sebagai simbol kemerdekaan Republik Indonesia yaitu tahun 1945.
  • Gambar padi yang memiliki 51 butir yang merupakan simbol dari hari lahirnya PBSI yaitu tanggal 5 bulan 5 tahun 1951.
  • Gambar perisai yang merupakan simbol dari ketahanan, keuletan, kerendahan hati, rendah diri tapi ulet, kuat, dan tekun.

Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *