Connect with us

Seni & Budaya

Rampogan Macan, Tradisi Pembantaian Harimau Sejak Zaman Majapahit

Published

on

Share

Reportersatu, Pada kurun waktu 1880 – 1910, Alun-Alun Kota Blitar sering digunakan sebagai lokasi pagelaran ritual Rampogan Macan. Rampogan Macan mengandung arti ‘Rebutan Macan’. Hal ini mengacu pada tradisi tersebut yang melibatkan para prajurit untuk beramai-ramai berebut kesempatan untuk membantai harimau atau macan di tengah alun-alun.

Dikutip dari berbagai sumber, dulu di tanah Jawa, membunuh macan merupakan sebuah kebiasaan. Ritual ini bahkan dipercaya sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit. Namun tradisi ini mencapai puncaknya pada masa Mataram Islam di bawah pemerintahan Amangkurat II dari Kartasura. Ritual ini diselenggarakan secara besar-besaran pada momen-momen tertentu, terutama pada saat menyambut kedatangan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

loading...

Tradisi ini pun menyebar hingga ke Kediri dan Blitar. Di Blitar, ritual rampogan macan ini diprakarsai oleh Patih Djojodigdo. Namun, karena dianggap sadis dan kurang berprikehewanan ritual rampogan macan ini kemudian dilarang oleh Pemerintah Hindia Belanda. Karena tradisi pembantaian harimau ini akan mengakibatkan populasi harimau di Jawa menurun drastis.

Sekitar tahun 1910, Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Undang-Undang Perlindungan bagi Mamalia Liar dan Burung Liar, sehingga praktis sejak saat itu tradisi Rampogan Macan ditiadakan.

Kini, alun-alun itu mulai berubah fungsi. Semula digunakan sebagai lokasi transit bagi para pamong praja atau khalayak untuk menghadap bupati maupun untuk kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh bupati, sekarang ini lebih menjadi sebuah ruang terbuka hijau atau taman yang terkadang juga dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti upacara, olahraga, area bermain, dan fungsi sosial lainnya. 


Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *