Connect with us

Nusantara

Petani Purwakarta Keluhkan Harga Pupuk Non-Subsidi

Published

on

Outlook For The Global Fertilizer Market (1)
Share

Reportersatu, Petani di Kabupaten Purwakarta, harus dipusingkan dengan menghilangnya pupuk bersubsidi dalam berapa bulan terakhir ini. Para petani terpaksa membeli pupuk nonsubsidi yang harganya lebih mahal empat kali lipat.

Jenis pupuk subsidi yang menghilang di pasaran, antara lain urea, ponska dan TS. Jenis pupuk urea nonsubsidi misalnya, petani harus membelinya seharga Rp700.000/kuintal.

Padahal untuk yang bersubsidi hanya Rp190.000/kuintal. Meskipun kualitas pupuk yang nonsubsidi lebih bagus, tapi perbandingan harga yang jauh lebih mahal membuat pupuk subsidi jadi pilihan utama.

“Jelas, kosongnya pupuk subsidi sangat membebani kami. Silahkan hitung saja, berapa kali lipat harganya. Dan kasus hilangnya pupuk subsidi ini baru terjadi sekarang. Sebelumnya belum pernah. Kenapa ya,” keluh Hasan (58) petani di Kecamatan Darangdan, Purwakarta,Jumat (23/10/2020).

Baca Juga : ASN Salatiga Dihimbau Rapid Test Saat Mudik

Hasan mengaku, setiap menanam padi membutuhkan sedikitnya 1 ton pupuk urea. Jika masih tetap tidak ada pupuk subsidi dirinya bersama petani lain mengaku terpaksa membeli pupuk nonsubsidi.

“Bayangkan 1 ton (pupuk urea non subsidi) ini Rp7 juta. Belum lagi jenis pupuk lain, yang juga harganya berbeda jauh dengan pupuk subsidi. Pertanyaannya, harus semahal itukah modal petani untuk menanam padi? Nggak sebanding dengan harga gabah yang murah,” tuturnya.

Adapun harga pupuk nonsubsidi lain, seperti jenis Ponska petani harus membelinya seharga Rp 600.000/kuintal, yang sebelumnya Rp250.000 untuk yang subsidi. 

Begitu juga jenis TS, yang sebelumnya hanya Rp250.000/kuintal kini dengan jenis nonsubsidi harus dibeli petani seharga Rp320.000/kuintal. 

Kondisi serupa juga dikeluhkan petani lain di Kecamatan Plered. Karena dipusingkan dengan menghilangnya pupuk subsidi, para petani curiga jika ada penimbunan pupuk subsidi di sejumlah pedagang.

“Kalau benar ditimbun berarti terjadi sebuah kezaliman. Petani lagi menelesuri, lagi cari tahu dan cari bukti. Mudah-mudahan tidak seperti yang dicurigai,” ujar Endih (62) petani lainnya.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *