Connect with us

Seni & Budaya

Pertunjukkan Religius Dalam Wayang Sadat yang Menenangkan

Published

on

Bgrbret Ratio 16x9
Share

Reportersatu, Kehadiran wayang sadat bermula dari upaya membersihkan tayuban versi “nakal” dengan gaya penari yang seronok dan mengajak laki-laki untuk menari bersama bahkan terkadang disertai minuman keras. Juga minimnya kesenian yang bernafaskan Islam di kalangan masyarakat Jawa. Wayang Sadat adalah wayang kulit kreasi yang digunakan sebagai media dakwah Islam di Jawa.

Sejarah

Suryadi Warnosuhardjo yang  berasal dari Desa Mireng, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, tergerak untuk melakukan dakwah dengan cara melawan arus di tengah-tengah upaya pelurusan pemahaman Islam oleh Muhammadiyah. Wayang termasuk salah satu kesenian yang kurang bisa diterima karena dianggap berkaitan dengan pemujaan terhadap roh nenek moyang.

Meski ditentang banyak orang termasuk keluarganya yang santri Jawa ia tak patah arang, karena baginya tujuan mementaskan wayang untuk berdakwah tidaklah salah, sebagaimana yang juga pernah dilakukan oleh wali songo dahulu.

Suryadi berpegang pada Surat Al Furqan ayat 45 yang terjemahannya “Tidakkah engkau memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang, dan sekiranya Dia menghendaki, niscaya Dia jadikannya (bayang-bayang itu) tetap, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk”.

Menurutnya makna Tuhan “memainkan bayang-bayang” bisa dianalogikan dengan wayang. Berangkat dari pemahaman tersebut Suryadi Warnosuhardjo, guru Matematika lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Muhammadiyah Klaten, kemudian menciptakan “Wayang Sadat”, kependekan dari wayang syahadat, tetapi ada juga yang mengartikannya sebagai akronim dari “SArana DAkwah dan Tabligh”.

Bentuk wayangnya realistis, memakai jubah dan tutup kepala semacam sorban atau ikat kepala seperti kyai di Jawa. Tokoh-tokoh yang diwayangkan berhubungan dengan sejarah penyebaran Islam di Jawa, seperti Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan Raden Patah.

Sedangkan tokoh punakawan dalam wayang sadat bernama Kyai Iman, Ki Salim, Ki Kasan, dan Ni Jamilah. Lakon yang dibawakan berkaitan dengan penyebaran Islam di Jawa pada masa kerajaan Demak, antara lain Kepyakan (berdirinya) Masjid Demak, Wanasalam, Sunan Kalijogo, Ki Ageng Pandanaran, Wisuda Adipati Demak, dan Joko Tingkir.

Baca Juga : Wayang Beber, Pertunjukkan Cerita Pandji Dengan Biaya 700 Juta

Pertunjukkan

Pertunjukan wayang sadat berlangsung sekitar empat jam, yang diawali dengan iringan bedug dan gendhing Assalamu’alaikum sebagai salam pembuka, serta gendhing Hamdallah sebagai salam penutup. Lagu pengiringnya juga bernuansa Islam seperti Istighfar, Robbana, As Salam, dan Arkanul Iman.

Dalang tidak mengenakan beskap lengkap seperti pada pertunjukan wayang kulit biasa, melainkan busana muslim ala K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym, pemimpin Pondok Pesantren Daarut Tauhid Bandung), yakni mengenakan sarung, jubah,  dan sorban. Para pengiring laki-laki memakai sarung, baju takwa, dan sorban, sedangkan yang perempuan berbusana muslim lengkap dengan kerudung. Warna pakaian biasanya putih.

Pertunjukan wayang sadat pertama kali dilakukan tahun 1986 tetapi kurang mendapat respon dari masyarakat. Bagi mereka pertunjukan wayang yang dibawakan oleh Suryadi tampak aneh dan tidak lazim (hal yang sama juga terjadi pada pertunjukan wayang wahyu). Meski demikian ia tetap berdakwah dengan cara yang diyakininya benar.

Dalam perjalanan waktu, perlahan banyak orang yang tersadarkan dengan pentas wayang sadat yang digelarnya. Ada penonton yang kemudian mendatanginya dan bercerita bahwa setelah menonton pertunjukannya berubah menjadi lebih taat dalam menjalankan sholat lima waktu.

Wayang sadat sudah diundang pentas oleh berbagai kalangan dan lembaga, mulai dari pribadi, tokoh-tokoh NU, pondok pesantren, Kantor Departemen Agama, TVRI, RRI, Festival Istiqlal, dan Perguruan Tinggi. Museum Wayang di Kota Tua juga pernah mengadakan pentas wayang sadat dalam rangka perayaan Tahun Baru Muharram.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *