Connect with us

Internasional

Pertarungan Terakhir Trump VS Joe Biden

Published

on

928207 915816 Biden Trump (1)
Share

Reportersatu, Debat Capres Amerika Serikat (AS) akan memasukibabak final. Calon incumbent dari Partai Republik Donald Trump akan kembali beradu gagasan dengan penantangnya dari Partai Demokrat Joe Biden pada Kamis malam atau Jumat (23/10/2020). Debat capres terakhir ini diadakan di Nashville.

Dua minggu jelang hari pencoblosan yang akan digelar pada 3 November mendatang. Sebelumnya, debat kedua terpaksa dibatalkan setelah Trump menolak untuk diadakan debat virtual setelah sebelumnya dinyatakan positif Covid-19.

Pada debat ketiga ini, topik yang akan menjadi perdebatan adalah soal memerangi Covid-19, keluarga Amerika, ras di Amerika, perubahan iklim, keamanan nasional dan kepemimpinan. Bertindak sebagai moderator adalah koresponden NBC News Kristen Welker.

Debat pertama lalu, yang berlangsung pada 29 Oktober, berlangsung panas. Debat berubah cepat dari salam persahabatan menjadi kekacauan. Musababnya, capres Partai Demokrat Joe Biden yang berusaha menyampaikan gagasannya disela rivalnya, Donald Trump sang capres petahana dari Partai Republik.

Baca Juga : Polisi India Diskors Karena Pelihara Jenggot

Untuk itu, Komisi Debat Presidensial mengadopsi aturan baru yang akan mematikan mikrofon dari Trump dan Biden. Ini dilakukan untuk memberikan keduanya waktu dua menit tanpa gangguan di setiap awal segmen debat.

Di bawah aturan debat 90 menit hari Kamis, setiap kandidat akan memiliki waktu dua menit tanpa gangguan di awal setiap segmen yang berlangsung selama 15 menit.

Namun, aturan ini mendapat penolakan dari Trump dan tim kampanyenya. Trump yang menilai perubahan aturan tersebut tidak adil. Dia juga mempermasalahkan terpilihnya koresponden NBC News Kristen Welker sebagai moderator, dan topik yang dia umumkan minggu lalu.

“Saya akan berpartisipasi, menurut saya ini sangat tidak adil,” kata Trump.

Baik Trump maupun Biden harus memaksimalkan debat pamungkas ini dengan baik untuk meyakinkan warga AS bahwa mereka adalah yang terbaik. Terutama Trump yang elektabilitasnya berada di bawah Biden. Meski begitu, hasil polling tidak bisa dijadikan patokan siapa yang akan memenangkan pilpres AS saat ini.

Direktur Smartmatic, Gracia Hilman menuturkan hasil jajak pendapat sudah tidak lagi bisa memprediksi hasil pemilihan umum (pemilu) AS. Hilman, yang perusahaannya berfokus pada membangun dan menerapkan sistem pemungutan suara elektronik, menuturkan di masa lalu hasil jajak pendapat hampir selalu menggambarkan hasil akhir dari pemilu di AS. Namun, saat ini hal itu sudah tidak lagi berlaku.

Terkait dengan debat calon presiden, Hilman mengatakan, hampir setiap orang sejatinya sudah menentukan pilihan mereka. Tapi, menurutnya debat masih penting, karena hasil dari debat bisa merubah pendirian seseorang tentang siapa yang akan mereka pilih nanti.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *