Connect with us

Seni & Budaya

Museum Linggarjati, Sejarah Panjang Diplomatik Indonesia

Published

on

Museum Linggarjati Donipengalaman9.wordpress.com E1502067284792
Share

Reportersatu, Museum Linggarjati, Gedung Bersejarah Perjuangan Diplomatik Indonesia. Bermula dari sebuah gubuk yang dibangun tahun 1918 oleh seorang ibu bernama Jasitem dan menjadi tempat tinggalnya, bangunan ini kemudian menjadi salah satu saksi sejarah sebuah perundingan yang menentukan nasib bangsa Indonesia.

Selain itu juga terkait perjanjian Republik Indonesia dan Belanda yang akan bekerja sama dalam membentuk negara Indonesia Serikat, yang salah satu negara bagiannya adalah Republik Indonesia, Terakhir Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia – Belanda dengan Ratu Belanda selaku ketuanya.

Letak gedung ini berada di bagian timur Kota Kuningan. Gedung tua bergaya kolonial Belanda ini sebelum difungsikan sebagai museum sempat mengalami beberapa pergantian fungsi dan kepemilikan. Pada masa kolonial, gedung tua ini sempat menjadi markas tentara. Kemudian diubah fungsi lagi menjadi Sekolah Dasar dan pernah juga menjadi hotel.

Baca Juga : Pesta Bakar Batu, Tradisi Bersyukur Masyarakat Papua Yang Unik Dan Khas

loading...

Agus Suparman, selaku staff pengelola gedung menerangkan jika mulanya bangunan tersebut merupakan gubug/rumah sederhana dari seorang janda. Ia pernah menikah dengan seorang pengusaha gula Belanda di Cirebon pada tahun 1918.

“Jadi dahulu gedung perjanjian ini merupakan gubug/rumah sederhana dari Ibu Jasitem, seorang janda yang dinikahi oleh pengusaha gula Belanda dari wilayah Cirebon, kemudian dibeli oleh pengusaha gula juga dari Pabrik Gula Sindang Laut bernama Mr Yakobus Yohanes Van Os dan direnovasi menjadi semi permanen tahun 1921” kata Suparman 30/01, seperti dilansir dari youtube Kanal Koela.

Beberapa tahun kemudian bangunan yang juga disinggahi Van Os bersama keluarganya itu dijadikan sebuah hotel bernama Hotel Ruustord di tahun 1935. Kemudian diubah kembali menjadi Hotel Hokay Ryokan saat penjajahan Jepang tahun 1942. Terakhir menjadi Hotel Merdeka di tahun 1945.

Gedung tersebut juga sempat menjadi markas Belanda sekaligus hotel di masa kedatangan kembali Belanda ke Indonesia setelah kemerdekaan.

“Gedung ini memang sempat beralih menjadi banyak fungsi, salah satunya menjadi kediaman Van Os, kemudian menjadi Hotel Merdeka dan markas Belanda di tahun 1948 sampai 1950” terang Suparman

Setelah menjadi hotel, Gedung Perundingan Linggarjati juga disebut pernah menjadi Sekolah Rakyat (SR) dari tahun 1950 sampai 1975. Selama setahun kemudian, pada tahun 1975 sampai 1976 gedung tersebut tidak berpenghuni. Sejak saat itu hingga kini lokasi tersebut masih dijadikan sebagai cagar budaya yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Kuningan. Sekaligus Mensos Perempuan Pertama Indonesia

Suparman melanjutkan jika pelaksanaan perundingan di Kabupaten Kuningan tersebut mulanya digagas oleh Menteri Sosial Perempuan Pertama di Indonesia yakni Maria Ulfah Santoso. Ia juga merupakan anak mantan Bupati Kuningan dan Menteri Sosial Perempuan Pertama periode Kabinet Sjahrir II & III (12 Maret – 26 Juni 1946 sampai 2 Oktober 1946 – 2 Juni 1947).

Ada alasan unik terkait dipilihnya lokasi di Linggarjati Kuningan. Pertama karena lokasinya netral dan berada di tengah-tengah antara pusat pemerintahan di Yogyakarta dan di Jakarta. Kemudian Kabupaten Kuningan masih memiliki hawa yang asri dan tenang, sehingga dianggap kondusif untuk perundingan kemerdekaan dengan Belanda.

“Jadi Maria Ulfah Satoso ini penggagas perundingan di Kuningan, jadi karena antara Yogyakarta dan Jakarta terlalu jauh, jadi ambil yang di tengah tengah. Kemudian udara di sini masih sejuk, dan hotel di sini layak untuk dijadikan perundingan” terang Suparman.


Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *