Connect with us

Nusantara

Menjadi Seorang Jurnalis Kontributor Penuh Tantangan dan Harus Siap Segala Resiko Dihadapi

Published

on

Share

Reportersatu, Profesi menjadi seorang jurnalis kontributor televisi swasta, bisa dikatakan cukup menantang. Seroang jurnalis kontributor harus siap dengan segala resiko yang akan dihadapinya saat mulai mendalami profesi ini.

Dari meliput peristiwa hingga melakukan riset, saya mejadi seorang jurnalis kontributor memiliki banyak variasi dalam pekerjaan sehari-hari. Jika kamu berpikir untuk menjadi seorang jurnalis kontributor, kamu mungkin bertanya-tanya seperti apa suka duka dalam kehidupan seorang jurnalis kontributor?

Jawabannya tergantung pada sudut pandangmu saja. bagi saya menjadi jurnalis kontributor televisi, dalam kesehariannya seorang jurnalis kontributor harus siap on call 24 jam, untuk melakukan liputan kapan saja. Seperti saya rasakan. Saya harus siap pergi liputan ke wilayah pelosok hingga kota atau daerah-daerah dengan potensi berita terkini untuk disajikan.

Bekerja selalu dikejar waktu sudah menjadi makanan sehari-hari seorang jurnalis kontributor. Laporan mengenai peristiwa terupdate sangat dinantikan untuk diberitakan pada audiens.

“Libur Sabtu-Minggu dan hari libur nasional menjadi ‘barang mewah’ bagi saya. Karena di saat orang lain libur, saya sebagai jurnalis kontributor, justru harus bekerja meliput termasuk pada hari raya Idul Fitri.” Hal ini bisa memicu masalah pada kehidupan pribadi. Harus pandai mengatasinya.

loading...

Jadi seorang jurnalis kontributor harus punya militansi tinggi, skeptis, dan siap perintah. Nah, di balik dua kata siap perintah itulah banyak risiko yang harus saya terima sebagai seorang jurnalis kontributor.

Belum lagi dituntut untuk mengenal kode etik jurnalistik berupa kemampuan penulisan berita, visual, mencari narasumber, memahami isu, dan bisa mempertanggung jawabkan informasi yang telah didapat dan disebarkan. 

Namun, meski penuh tantangan, adalah sebuah kebanggaan diri saya bisa menjadi seorang jurnalis kontributor, karena bisa memiliki pengalaman luar biasa yang tak semua orang atau profesi bisa melakukannya.

Di balik itu semua, ternyata sejumlah jurnalis kontributor berpendapat, banyak pengorbanan yang mereka alami dari risiko profesinya itu.

Ditugaskan ke lokasi bencana atau kerusuhan, rasanya seperti itu menjadi tugas terakhir saya menjadi seorang jurnalis, karena bahaya yang mengintai. Banyak juga kan kasus para jurnalis yang meninggal saat bertugas.

Namun, jika saya berhasil melewatinya dengan hasil peliputan yang maksimal, ini akan menjadi catatan sejarah tersendiri di hidup saya.

Jika kamu bisa pamer di social media pergi ngemall, hang out, saya seorang jurnalis kontributor hanya bisa pamer kegiatan sedang bekerja, bahkan kadang tidak sempat melakukannya. Tapi kalau sudah passion, semuanya asik-asik saja.

Nggak selebgram atau artis saja lho yang punya haters. saya menjadi Jurnalis kontributor juga. Hal ini karena pekerjaan seorang jurnalis kontributor adalah memberitakan. Tentu bukan hanya berita baik saja yang diberitakannya, melainkan berita buruk juga. Ini tentu bisa memicu pro dan kontra, jadi siap-siap saja punya musuh. Jadi legowo saja dan jangan anggap mereka musuh balik.

Strees sudah biasa Deadline adalah momok mengerikan bagi jurnalis kontributor. Tekanan macam ini kadang membuat strees. Mood jadi berantakan, tapi saat menjalani tugas tentu saja harus bersikap professional dan seolah-olah tidak sedang dalam tekanan.  

Berita yang disampaikan berhubungan dengan narasumber. Inilah yang menjadikan seorang jurnalis kontributor akrab dengan penolakan. Kamu harus memutar otak dan mencari narasumber lain untuk menghasilkan berita yang terpercaya.

Sebagai seorang jurnalis kontributor, saya harus kebal dengan penolakan ini. Meninggalkan keluarga saat bertugas ke luar kota dan hal lainnya.

Dengan pekerjaan yang tak mengenal waktu dan tempat, ini bisa saja berdampak pada hubungan asmara sebagai jurnalis kontributor. Terlebih, jika pasangan bukan merupakan pekerja media yang bisa saja ‘kaget’ dengan model cara kerja saya sebagai jurnalis kontributor.

Beruntunglah jika saya seorang Jurnalis kontributor yang kini memiliki pasangan yang pengertian dengan profesi saya. Yah, begitulah suka duka saya jadi jurnalis kontributor.

Penulis: Sam Legowo


Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *