Connect with us

Seni & Budaya

Mengulas Sejarah Tradisi Lebaran Ketupat di Nusantara

Published

on

Share

Reportersatu, Filosofi dan asal usul Lebaran Ketupat tentunya menjadi salah satu hal yang dipertanyakan oleh umat islam di Indonesia. Lebaran ketupat merupakan salah satu hasil akulturasi kebudayaan Indonesia dengan Islam.

Lebaran ketupat atau yang dikenal dengan istilah lain syawalan sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia di tanah Jawa. Tradisi lebaran ketupat kini sudah menyebar di seluruh pelosok Indonesia, bahkan hingga ke Singapura dan Malaysia.

Penyebaran tersebut tak lepas karena orang Jawa yang merantau. Sehingga tradisi lebaran ketupat berkembang dan menjadi warisan unik masyarakat Indonesia yang tetap dipertahankan. Perayaan lebaran ketupat ternyata berbeda dengan lebaran 1 Syawal yang biasa dirayakan umat islam. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh masyarakat Jawa pada tanggal 8 Syawal, seminggu setelah Idulfitri.

Prosesi ini identik dengan acara sungkeman anak ke orang tua, yang menandakan permohonan maaf anak dan bukti bahwa anak menghormati orang tua. Permohonan maaf juga diajukan kepada kerabat serta tetangga. 

Simbol permohonan maaf itu dilakukan dengan membawa ketupat sebagai simbol memaafkan dan mengikhlaskan. Oleh karenanya, jika berkunjung ke rumah keluarga, kerabat, dan tetangga dengan membawa ketupat diharapkan permohonan maaf dapat diterima.

Sejarah Lebaran Ketupat

Menurut sejarawan dari Universitas Padjajaran Bandung, Fadly Rahman, bentuk ketupat yang persegi empat berkaitan dengan bahasa Austronesia.

“Kupat kalau dalam bahasa Austronesia turunan dari kata ‘epat’ yang artinya empat. Kalau kita melihat ketupat, bentuknya persegi dan memiliki empat sudut,” kata Fadly.

Jika diamati dengan seksama, bentuk ketupat memang persegi panjang meski telah mengalami berbagai modifikasi. Bukan tanpa alasan, bentuk persegi empat ternyata memiliki makna lain. Menurut Fadly, bila mengacu pada pra-Islam, bentuk empat sisi atau sudut ketupat berhubungan dengan empat penjuru mata angin.

Pada masa Islam, Sunan Kalijaga memberikan sentuhan makna lain. Empat sisi ketupat direpresentasikan dengan Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan, yang berhubungan dengan sikap manusia.

Lebaran artinya pintu ampun yang dibuka lebar terhadap kesalahan orang lain. Sedangkan Luberan berarti melimpahi, memberi sedekah pada orang yang membutuhkan.

Leburan berarti melebur dosa yang dilalui selama satu tahun. Adapun, Laburan yakni menyucikan diri, putih kembali layaknya bayi.

Selain di tanah Jawa, tradisi Lebaran Ketupat ternyata juga dirayakan di berbagai wilayah di tanah air. berikut tradisi Lebaran Ketupat di berbagai wilayah Indonesia

1. Madura

Di Madura, tradisi Lebaran Ketupat disebut dengan Terater. Tradisi Terater dilakukan setiap 7 Syawal setelah umat Muslim selesai melaksanakan ibadah puasa sunah selama enam hari di bulan Syawal.

Masyarakat Madura biasanya menyantap ketupat dengan opor atau ayam goreng. Akan tetapi, di Madura hidangan Lebaran Ketupat tidak langsung disantap, melainkan terlebih dulu diserahkan kepada imam masjid atau dibawa ke mushala setempat. Setelah makanan terkumpul, warga akan berkumpul dan menggelar doa bersama.

Kegiatan Terater ini masih dilestarikan hingga saat ini karena dianggap mampu mempererat tali persaudaraan antar muslim setelah selesai berpuasa. Tradisi ini sekaligus sebagai tanda syukur kepada Tuhan karena diberikan kemampuan melanjutkan puasa selama enam hari pada awal Syawal.

2. Kudus

Syawalan atau lebaran Ketupat dirayakan dengan prosesi kirab gunungan Seribu Ketupat di Kudus, Jawa Tengah. Gunungan terdiri dari susunan seribu ketupat dan ratusan lepet yang diarak dari rumah kepala desa setempat menuju Masjid Sunan Muria.

Selain gunungan, masyarakat juga menggelar tradisi ziarah ke Makam Sunan Muria. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan minum air dan mencuci kaki serta tangan dengan air dari gentong peninggalan Sunan Muria. Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur warga setelah menjalani puasa Ramadhan selama satu bulan.

3. Manado

Masyarakat Manado merayakan Lebaran Ketupat dengan saling mengunjungi dan saling memaafkan. Warga muslim di Manado membuka pintu rumahnya bagi siapa saja yang datang berkunjung.

Tak hanya di Manado, beberapa daerah di Sulawesi Utara juga merayakan tradisi ini seperti di Kampung Jawa Tondano dan Desa Sea.

Sejarah Lebaran Ketupat, khususnya Manado, awalnya dibawa oleh warga Jawa yang merupakan keturunan Imam Bonjol di Tondano. Tradisi ini kemudian terus dilanjutkan dan dirayakan setiap tahunnya.

4. Lombok

Masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Timur menyebut tradisi ini dengan nama Lebaran Topat, yang dimeriahkan dengan tradisi nyangkar. Nyangkar merupakan tradisi nenek moyang orang Sasak saat merayakan Lebaran Topat.

Masyarakat Lombok akan melakukan arak-arakan cidomo hias yang mengangkut dulang berisi ketupat menuju pusat perayaan di makam Loang Baloq. Sesampainya di makam, masyarakat akan melakukan zikir dan doa bersama. Perayaan ini kemudian dilanjutkan dengan potong ketupat dan makan bersama di Taman Loang Baloq.

5. Trenggalek

Warga Kelurahan Kelutan, Trenggalak memiliki cara unik merayakan Lebaran Ketupat. Pada hari ketujuh bulan Syawal, masyarakat akan mengelar pawai gebyar Lebaran Ketupat.

Acara ini sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun dan menjadi daya tarik bagi warga Trenggalek serta pengunjung dari luar daerah, seperti Ponorogo dan Tulungagung.

Berbagai kegiatan digelar dalam pawai ini, seperti parade busana, kesenian tari daerah, serta penampilan marching band dari warga Kelutan.

Salah satu yang paling banyak disaksikan adalah pawai taaruf. Pengunjung juga dapat menikmati ketupat sayur secara gratis yang disediakan oleh warga sekitar.

Hampir setiap rumah menyediakan hidangan ketupat gratis bagi warga yang menyaksikan pawai maupun yang hanya lewat di jalan itu.

Lebaran Ketupat juga dirayakan di beberapa titik wilayah kabupaten Trenggalek, yaitu di Kecamatan Durenan, Pogalan, serta Gandusari.

6. Magelang

Rangkaian perayaan Hari Raya Idul Fitri di Dusun Kauman, Desa Payaman, Magelang diisi dengan Festival Balon Syawalan.

Tradisi yang sudah berlangsung sejak tahun 1980-an tersebut diadakan untuk memperingati Syawalan atau Lebaran Ketupat. Sedikitnya ada 150 balon udara tradisional yang diterbangkan sebagai tanda Syawalan.

Ada dua lokasi pelepasan balon udara. Pertama, di halaman depan Masjid Agung Kauman dan di lapangan dusun setempat. Setiap tahun ada panitia membuat tema berbeda yang diangkat sesuai dengan momentum yang sedang hangat saat itu.

7. Pasuruan

Warga Desa Tambaklekkok, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan punya cara unik untuk memperingati perayaan ini, yakni dengan menggelar lomba skilot.

Skilot merupakan perayaan tahunan di mana para peserta beradu cepat dengan berselancar di atas lumpur. Caranya, dengan menekuk satu kaki di atas papan selancar, sedangkan kaki yang lainnya digunakan untuk mengayuh papan.

Skilot sendiri berasal dari dua kata, yakni sky, bahasa Inggris yang berarti selancar dan cellot, bahasa Madura yang berarti lumpur. Tak hanya jadi ajang adu ketangguhan, acara ini juga menjadi tontonan dan hiburan warga sekitar.

Permainan tradisional ini sendiri merupakan warisan budaya leluhur yang tetap dilestarikan. Tradisi ini tidak serta merta ada. Awalnya, skilot merupakan kebiasaan warga yang mencari kerang di pesisir pantai.

Untuk memudahkan perjalanan, warga kemudian menggunakan papan selancar. Kebiasaan ini kemudian berkembang menjadi kegiatan untuk memeriahkan perayaan Lebaran Ketupat.

8. Kolaka

Masyarakat Kolaka khususnya di Kecamatan Toari dan Watubangga serta beberapa kecamatan lainnya merayakan Lebaran Ketupat di Pantai Lamunre yang terletak di Desa Lamunre.

Pada hari ketujuh setelah Lebaran, warga akan mengadakan rekreasi bersama sanak saudara serta membawa menu hidangan ketupat.

Pada awalnya, tradisi ini dibawa oleh masyarakat Jawa yang berada di Desa Ranomentaa dan Wowoli. Namun, sekarang bukan hanya suku Jawa saja yang merayakan, tetapi masyarakat asli di daerah tersebut.

9. Gorontalo

Hampir semua warga Gorontalo merayakan tradisi Lebaran Ketupat. Perayaan dilakukan dengan menyelenggarakan open house di rumah-rumah, khususnya di Kampung Jawa, seperti Desa Yosonegoro, Kecamatan Limboto Barat, Gorontalo.

Setiap rumah sepanjang Jalan Yosonegoro akan menyelenggarakan open house. Menu utama yang disediakan adalah ketupat dan opor ayam, siapa saja boleh menikmati hidangan tersebut.

Sebelum dirayakan, sebagian warga akan menjalankan ibadah puasa sunah di bulan Syawal selama enam hari. Tradisi Lebaran Ketupat ini awalnya hanya dilakukan oleh orang Jaton (sebutan untuk etnis Jawa-Tondano). Namun, warga Gorontalo sekarang sudah melebur dan ikut merayakannya.

10. Rembang

Lebaran Ketupat atau Rioyo Kupat juga dirayakan dengan meriah di Rembang. Tradisi Rioyo Kupat dirayakan dengan cara memasak dan makan bersama di masjid.

Seusai shalat Subuh, pengurus masjid memberitahukan agar warga membawa ketupat yang sudah dibuat ke masjid. Warga akan langsung berdatangan ke masjid sambil membawa wadah berisi ketupat, sayur bersantan kue lepet (ketan dengan isi kacang merah), serta aneka macam kue.

11. Gresik

Di Gresik, tradisi Lebaran Ketupat dilakukan di sekitar alun-alun, terutama di Kampung Kauman. Lebaran Ketupat atau Lebaran Kauman dilaksanakan setelah melakukan puasa Syawal selama enam hari berturut-turut.

Uniknya, Lebaran Kauman hanya dirayakan dalam semalam. Seusai shalat Maghrib, warga akan saling mengunjungi dan menikmati hidangan ketupat dan lepet.

Tradisi ini menjadi puncak silaturahmi warga yang sudah berlangsung turun-temurun. Pada malam Lebaran Kauman, banyak warga kampung lain yang juga berdatangan untuk merayakan.



Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *