Connect with us

Nasional

Mengetahui Arca Dewa-Dewi di Museum Mpu Tantular

Published

on

Koleksi Dari Batu
Share

Reportersatu, Museum Negeri Mpu Tantular, adalah sebuah museum negeri yang berlokasi di kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Awalnya museum ini bernama Stedelijk Historisch Museum Soerabaia, didirikan oleh Godfried von Faber pada tahun 1933 dan diresmikan pada tanggal 25 Juli 1937.

Awalnya koleksi museum hanya dipamerkan di suatu ruangan kecil di readhuis Ketabang lalu dipindahkan ke bangunan yang lebih luas di jalan Tegalsari berkat kebaikan hati Ny. Han Tjiong King, seorang janda. Museum kemudian dipindahkan lagi ke lokasi yang lebih memadai bertempat di jalan Pemuda no. 3 Surabaya dan diresmikan pada 25 Juni 1937.

Museum dikelola oleh Yayasan Pendidikan Umum yang dibantu oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sepeninggal  Von Faber pada 30 September 1955, dan diberi nama Museum Jawa Timur yang dibuka pada 23 Mei 1972.

Status museum berubah menjadi Museum Negeri pada 13 Februari 1974, dan diresmikan pada 1 November 1974 dengan nama Museum Negeri Provinsi Jawa Timur Mpu Tantular. Pertambahan koleksi membuat gedung museum tidak mencukupi lagi sehingga kembali harus pindah lokasi ke gedung baru di jalan Taman Mayangkara no.6 Surabaya pada 12 Agustus 1977.

Museum kembali berpindah lokasi ke jalan Raya  Buduran, Sidoarjo pada 14 Mei 2004 tepatnya di sebelah barat Jembatan Layang Buduran.

Baca Juga : Sejarah dan Koleksi Museum Konferensi Asia-Afrika

Koleksi Arca

Koleksi museum Mpu Tantular sebagian besarnya adalah arca dari Buddha dan Hindu. Berikut ini adalah beberapa arca yang berasal dari museum Mpu Tantular:

1. Arca Ganesha

Bentuk hidung arca ini menyerupai belalai gajah yang berada dalam posisi duduk bersila. Ganesha adalah anak dari Dewi Parwati dan Dewa Siwa. Ketika sedang hamil Dewi Parwati bertemu dengan Dewa Indra yang berwujud gajah dan membuatnya tersinggung sehingga mengutuk anak yang dikandung Parwati menjadi manusia berkepala gajah.

Ganesha digambarkan mempunyai empat buah tangan, kedua tangan depan memegang patahan gading dan mangkok sedangkan dua tangan belakang membawa kapak dan aksamala.

2. Arca Durga Mahesasuramardhini

Arca koleksi museum Mpu Tantular ini berupa arca perempuan yang berdiri dalam posisi sikap Tribhangga diatas tampik kerbau (Mahesa) dan mempunyai delapan buah tangan yang melambangkan kekuatan dan kesaktian Durga sehingga mampu mengalahkan asura / raksasa.

Tangan kanannya memegang cakra, pedang, anak panah dan ekor kerbau sedangkan tangan kirinya memegang sankha, perisai, busur dan kepala asura. Arca ini konon adalah penjelmaan Dewi Parwati yang sedang marah, berasal dari candi Jawi di Pasuruan.

3. Arca Prajna Paramita

Koleksi museum Mpu Tantular ini berupa arca perempuan yang digambarkan sedang duduk diatas lapik padma dan tangannya memutar roda yang menjadi lambang perputaran sebab akibat. Arca ini adalah lambang pengetahuan dan kebijaksanaan.

4. Arca Siwa

Arca ini merupakan perwujudan Siwa yang sering berubah wujud sesuai kebutuhan, yang digambarkan memiliki empat tangan. Tangan kanan bagian belakang membawa akramala, tangan kiri bagian belakang membawa camara atau pengusir lalat. Sedangkan kedua tangan di depan membawa kuncup bunga teratai.

5. Arca Dewa Wisnu

Koleksi museum Mpu Tantular ini juga berupa arca perwujudan dewa Wisnu yang digambarkan mempunyai empat tangan kanan belakang yang membawa sankha atau kulit kerang, tangan kiri belakangnya membawa tombak, sedangkan dua tangan depan membawa kuncup teratai.

6. Arca Dewa Brahmana

Arca ini digambarkan berkepala empat, duduk dengan sikap bersemedi di atas padmasana dan memiliki empat tangan. Tangan kanan belakang membawa akramala, tangan kiri belakang membawa camara sedangkan dua tangan depan diletakkan di atas lutut.

7. Arca Siwa Mahadewa

Penggambaran arca ini mewujudkan Dewa Siwa sebagai dewa tertinggi dengan delapan tangan. Tangan kiri membawa damaru dan busur, tangan kanan membawa kapak, pedang, anak panah dan trisula. Selain itu juga ada arca Nandi, kendaraan Dewa Siwa yang bentuknya seperti sapi.

8. Arca Dwarapala

Arca ini biasanya dibuat sepasang dan diletakkan di depan komplek candi untuk mengusir pengaruh jahat yang akan masuk ke area candi. Ada pula arca berbentuk lima patung budha yang memiliki posisi tangan berbeda, yang menunjukkan bahwa arca budha tersebut tidak sama.

9. Arca Dewi Parwati

Dewi Parwati adalah ibu dari segala dewi dan juga lambang kesuburan dengan arca yang digambarkan sedikit gemuk dan memiliki empat tangan. Tangan – tangannya membawa aksamala, camara, padma atau teratai bertangkai yang menjadi lambang dari kelangsungan hidup generasi.

Koleksi Prasejarah

Koleksi di museum Mpu Tantular yang berhubungan dengan zaman prasejarah antara lain :

  • Beberapa contoh batuan beku seperti peridotit, batu kaca, diabas, gabro, contoh batu endapan seperti kalsit, konglomerat, phosphate, fosil kayu, dan contoh batuan malihan seperti pancawarna, agat dan marmer.
  • Juga terdapat fosil tengkorak manusia purba seperti Pithecanthropus Erectus dan Homo Erectus. Lalu fosil – fosil sisa binatang dan tumbuhan yang membatu, fosil gading dan geraham gajah yang berasal dari Bojonegoro dengan usia sekitar 600 ribu hingga 1 juta tahun lalu.
  • Ada pula nekara asal Tuban yang dihiasi motif – motif dengan arti simbolis dan fosil kayu jati.

Koleksi Batik

Koleksi museum Mpu Tantular berupa batik terdiri dari batik Pyur dari Lamongan, batik Singo Mengkok Drajad dari Lamongan, batik Situbondo, batik Gajah Oling, Gajah Oling Gedhekan dari Banyuwangi, batik Kerton dari Trenggalek, batik Parang Barong, batik Rawan dari Tanjung Bumi, batik Tar Pate Tong dari Sumenep, Sarung Rawan, Tenun Gedhog Ganggeng, sarung tenun ikat, dan sarung tenun ikat belah ketupat.

Koleksi Klasik

Pada zona klasik dipamerkan alat upacara Hindu-Budha, terakota dari Majapahit, arca perunggu, fragmen candi, prasasti, arca batu, emas dan pusaka, uang dan naskah kuno. Koleksi emas disini sangat menarik karena dipajang dalam brankas yang sangat besar dan tebal, dihalangi jeruji besi. Brankas ini berisi Garudeya .

Koleksi di museum Mpu Tantular ini adalah satu – satunya peninggalan emas 22 karat di Indonesia, ditemukan pada 1989 di desa Plaosan, Kec. Wates, Keb. Kediri. Beratnya secara keseluruhan 1.163.000 gram, terdiri dari 64 batu permata. Berdasarkan reliefnya ada kemungkinan hiasan ini adalah peninggalan dari abad 12 – 13 Masehi, konon merupakan hadiah dari Raja Siam untuk Raja Airlangga.

Koleksi Penemuan

  • Telepon Meja – Telepon berbahan logam perunggu ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama digunakan untuk berbicara dan yang lain untuk mendengarkan, perkiraan dibuat sekitar abad XVIII Masehi.
  • Shimponion – Alat ini adalah alat musik atau instrumen musik klasik berasal dari Jerman abad ke 18. Alat ini tidak menggunakan listrik tetapi menggunakannya dengan cara manual yaitu diputar.
  • Sepeda Kayu – Koleksi di museum Mpu Tantular ini adalah bentuk sepeda paling tua yang diciptakan oleh Michael Kesler seorang berkebangsaan Jerman pada tahun 1766.
  • Surya Stambha – Koleksi di museum Mpu Tantular yang langka ini berasal dari Nusa Tenggara Timur.
  • Sepeda Motor Uap – Sepeda motor ini diciptakan oleh warga Jerman bernama Gottlien Daimler dan dijalankan menggunakan tenaga uap. Pertama kali diproduksi oleh pabrik “Hildebrand Und Wolfmuller” di Muenchen, Jerman di tahun 1885. Kecepatan maksimalnya mencapai 30 km/jam.
  • Sepeda Tinggi – Koleksi museum Mpu Tantular ini diciptakan oleh James Starley dan William Hilman, keduanya orang Inggris yang mendapatkan hak paten akan sepeda ini pada 1970. Sepeda ini sering dijuluki “Ariel” yang artinya sepeda yang terbuat dari metal.

Selain koleksi pada museum Mpu Tantular diatas, juga terdapat berbagai koleksi numismatik, senjata, tanda jasa, keramik dan benda – benda etnografi yang ditandai dengan masa awal masuknya bangsa Eropa ke Indonesia pada awal abad ke 15. Juga koleksi senjata – senjata seperti pistol Flintlock Tower, pistol tabur ketuk, pistol saku, pistol revolver colt, pistol blunderbuss, bayonet, topi Inggris, senapan musket brown, senapan musket brown bess, winchester, dan grenadier.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *