Connect with us

Seni & Budaya

Mengenal Wayang Krucil Yang Populer di Aliran Sungai Brantas Dan Bengawan Solo

Published

on

Q2kry7vuars4anc72tee
Share

Reportersatu, Wayang Krucil atau Wayang Klithik merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan yang menggunakan wayang berukuran kecil, terbuat dari kayu pipih (waru, pinus, atau mentaos) dengan tangan terbuat dari kulit sehingga mudah digerak-gerakkan oleh dalang.

Penamaan wayang krucil dikarenakan ukurannya yang lebih kecil dibandingkan wayang kulit, hanya ± 30 cm. Kata krucil mengacu pada penyebutan untuk anak kecil dalam masyarakat Jawa. Figur wayang krucil menyerupai wayang kulit purwa, tetapi berbeda tokoh dan karakternya.

Kesenian wayang krucil menyebar dan berkembang di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Brantas dan Bengawan Solo, mulai dari Jawa Timur yang meliputi wilayah Malang, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Ngawi, dan Bojonegoro, serta Blora di Jawa Tengah.

Pola persebarannya menunjukkan wayang krucil tumbuh dalam lingkungan agraris yang dekat dengan aliran air (sungai), sama sekali tidak  ditemukan di kawasan pantai utara Jawa, atau wilayah yang tidak berbatasan dengan DAS Brantas dan Bengawan Solo.

Ada beberapa pendapat mengenai kemunculan wayang krucil dalam kesenian Jawa. Beberapa pendapat mengaitkannya dengan kedatangan Islam di Nusantara, sebagai hasil akulturasi antara wayang kulit purwa dan kebudayaan baru bernafaskan Islam yang tengah berkembang masa itu. Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga diduga sebagai ‘inspirator’ sekaligus ‘kreator’ yang melahirkan wayang krucil. Mereka kemudian menggunakannya sebagai media dakwah untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.

Wayang krucil diduga diciptakan semasa pemerintahan Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit, yang masa pemerintahannya merupakan fase peralihan dari masa pengaruh Hindu/Budha ke masa Islam. Beberapa penyebar Islam yang telah berada di pantai utara Jawa sejak abad XIV, menggunakan media budaya untuk memperkenalkan Islam di masyarakat, dan diduga kemunculan wayang krucil berkaitan dengan hal tersebut.

Pendapat lain menyebutkan bahwa wayang krucil muncul di masa pemerintahan Pangeran Pekik tahun 1700-an di Surabaya,  seorang ulama dan ahli fiqih yang merupakan adik ipar Sultan Mataram. Pangeran Pekik menurut Lombard mendapat mandat dari Sultan Agung (Mataram Islam) untuk menguasai kawasan Giri Kedaton pada tahun 1635, yang saat itu penduduknya belum sepenuhnya menganut agama Islam. Pangeran Pekik diduga menggunakan media wayang berbahan kayu untuk menyebarkan dakwahnya.

Baca Juga : Wayang Suluh, Penjaga Semangat Juang Bangsa Indonesia di Era Kemerdekaan

Berdasarkan karakter dan penokohannya, wayang krucil terbagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Wayang Krucil Panji. Lakon yang dimainkan bersumber dari cerita-cerita Panji, khususnya legenda Panji Asmorobangun atau Panji Semirang, yang mengisahkan perjalanan Raden Panji dalam mencari Dewi Sekartaji. Pergelaran wayang krucil di selatan Jawa Timur didominasi cerita-cerita Panji. Ada 70 tokoh yang ditampilkan, antara lain Raden Panji, Dewi Sekartaji, Dewi Ragil Kuning, dan Prabu Joyoboyo. Sosok Panji digambarkan memakai tekes (topi khas Panji) seperti yang ada di relief Candi Panataran. Raden Panji digambarkan sebagai satria yang wajahnya berwarna putih atau kuning, sedangkan bentuk tekes dapat berbeda di tiap-tiap wilayah. Tekes pada wayang krucil hanya dikenakan oleh Raden Panji Asmorobangun, sedangkan tokoh satria lainnya mengenakan topi gelang keling.
  2. Wayang Krucil Menak. Lakonnya diambil dari Serat Ménak, yang berinduk pada  karya sastra Persia Qisaa’I Emr Hamza, dari masa pemerintahan Sultan Harun Al Rasyid. Qisaa’I Emr Hamza masuk ke Melayu sekitar tahun 1511 dan digubah menjadi karya sastra berbentuk prosa berjudul Hikayat Amir Hamzah. Kisah di dalamnya menampilkan tokoh Amir Hamzah (Amir Hambyah), seorang pahlawan gagah berani yang juga penyebar agama Islam. Wayang krucil Menak digunakan sebagai media dakwah Islam di wilayah Jawa Timur utara, seperti di Tuban dan Lamongan. Ada 20 tokoh wayang krucil Menak, antara lain Wong Agung Menak (Jayengrana), Lamdaur, dan Umar Moyo (Umar Maya).
  3. Wayang Krucil Gedhog. Tokoh wayang krucil gedhog mengambil dari cerita wayang kulit, begitu juga lakon yang dimainkan. Jumlahnya mencapai 30 tokoh. Jenis wayang krucil ini berkembang di kawasan Bojonegoro.

Berdasarkan sajian ceritanya, wayang krucil dikategorikan menjadi empat yaitu:

(1) Wayang krucil yang mengambil kisah Panji sebagai cerita utama, umumnya tentang perjalanan Raden Panji mencari Dewi Sekartaji hingga berdirinya Kerajaan Kediri;

(2) Wayang krucil yang sumber ceritanya Babad Majapahit, mulai dari pendirian Kerajaan Majapahit hingga terbentuknya Kerajaan Demak;

(3) Wayang krucil Menak yang bersumber dari Serat Ménak, mengisahkan tentang perjalanan Wong Agung Menak (Nabi Irahim) dalam berdakwah;

(4) Wayang krucil yang mengambil cerita perjuangan sebagai pengembangan lakon dengan tokoh antara lain Sawunggaling, Trunojoyo, dan Pangeran Diponegoro.

Musik pengiring dalam pergelaran wayang krucil ada dua jenis, yaitu:

(1) Gamelan jangkep, terdiri dari 20 jenis instrumen berlaras (nada) pelog sebagaimana wayang kulit; dan

(2) Gamelan junggrung (timplong), yang jumlah iringan gamelannya hanya 5 buah. Wayang krucil dengan iringan gamelan timplong berkembang di kawasan Nganjuk dan Ngawi. Orang menyebutnya sebagai “wayang timplong”.

Pergelaran wayang krucil diadakan pada siang hari. Bagi masyarakat Jawa pertunjukan siang hari identik dengan ritual, yang dilakukan sebelum datangnya waktu Ashar atau tenggelamnya matahari. Misalnya ruwat sukerto yang merupakan ritual untuk membersihkan dan membebaskan diri melalui pementasan wayang dengan lakon murwokolo.

Pertunjukan wayang krucil yang identik dengan ritual dan membutuhkan syarat-syarat khusus kemudian menumbuhkan “cap negatif” malati, yang dapat menimbulkan keburukan bagi penanggapnya jika ada kekurangan dalam sesaji. Lokasi pentasnya juga kebanyakan di punden desa yang merupakan area pemakaman para pendiri desa dan dianggap sakral.

Pentas siang hari menjadikan perlengkapan panggung hanya sebagai ‘uborampe’, misalnya blencong yang seharusnya berfungsi sebagai penerang kelir untuk memunculkan bayang-bayang wayang di malam hari. Keberadaan blencong yang fungsinya tak lagi penting kemudian diganti dengan lampu minyak tanah (dimar).

Kelir (bentangan kain putih untuk menutupi wayang dan dalang) hanya berfungsi estetis, yang warna dan ukurannya keluar dari pakem wayang kulit. Lubang di bagian tengah kelir juga dianggap mengganggu tatanan kosmologi. Bagi masyarakat Jawa, pertunjukan wayang kulit merupakan cerminan kosmologi dimana bayang-bayang wayang menjadi simbol sifat manusia, sedangkan kelir adalah simbol keberadaan Tuhan.

Cap negatif “malati” dan status sebagai wayang kelas dua karena dianggap melanggar pakem, menjadikan wayang krucil jarang dipertunjukan. Hingga kini wayang krucil hanya dipergelarkan pada saat upacara, seperti gebyak Syawal, Suroan, bersih desa, nadzar atau kaul, dan permintaan penanggap terkait peristiwa penting dalam hidupnya.

Masyarakat di Dusun Wiloso, Desa Gondowangi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, setahun sekali menggelar pertunjukan wayang krucil pada hari ke-8 bulan Syawal atau Lebaran Ketupat. Lakon yang dibawakan adalah tentang sejarah masuknya Islam di tanah Jawa, dan cerita Panji.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *