Connect with us

Seni & Budaya

Mengenal Islam Aboge, Perpaduan Nilai Islam dan Budaya Jawa

Published

on

Share

Reportersatu, Penganut Islam Aboge atau Alif-Rebo- Wage (A-bo-ge) merupakan penganut aliran yang diajarkan Raden Rasid Sayid Kuning. Perhitungan yang dipakai aliran Aboge telah digunakan para wali sejak abad ke-14 dan disebarluaskan oleh ulama Raden Rasid Sayid Kuning dari Pajang.

Islam Aboge yang menggunakan kalender Jawa berkaitan dengan sejarah akulturasi antara Islam dan budaya Jawa. Kedatangan Islam di Pulau Jawa tidak serta merta menghilangkan tradisi nenek moyang yang sudah ada. Islam dan budaya lokal berakulturasi sehingga menghasilkan warisan-warisan yang masih digunakan hingga sekarang.

Baca Juga : Sejarah Ketupat, Asal-Usul Dalam Tradisi Dan Filosofi Masyarakat Jawa

Kata Aboge sendiri berasal dari bahasa Jawa yang merupakan penjabaran dari kata Alif Rebo Wage. Penanggalan yang dipakai oleh pengikut Islam Aboge sendiri dipercaya mulai dipakai pada abad ke-14 oleh para wali. Penanggalan tersebut kemudian disebarluaskan oleh ulama Raden Rasid Sayid Kuning yang berasal dari Kerajaan Pajang.

loading...

Adapun perhitungan kalender Jawa yang dianut menggunakan sistem satu windu (delapan tahun) untuk menyelesaikan satu periode waktu. Menurut Aboge, satu windu terdiri dari tahun Alip, He, Jim Awal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jim Akhir.

Sedangkan satu tahun tetaplah dua belas bulan, dan satu bulan terdiri atas 29-30 hari, dengan hari pasaran yang terdiri dari Pon, Wage, Kliwon, Manis (Legi), dan Pahing.

Dalam hal ini, hari dan pasaran pertama pada tahun Alip jatuh pada Rabu Wage (Aboge), tahun He pada Ahad/Minggu Pon (Hakadpon), tahun Jim Awal pada Jumat Pon (Jimatpon), tahun Za pada Selasa Pahing (Zasahing), tahun Dal pada Sabtu Legi (Daltugi), tahun Ba/Be pada Kamis Legi (Bemisgi), tahun Wawu pada Senin Kliwon (Waninwon), dan tahun Jim Akhir pada Jumat Wage (Jimatge).

Perhitungan ini menyebabkan perbedaan dalam menentukan hari dan tanggal dalam perhitungan Jawa maupun Hijriyah.

Pada bulan Ramadan, perhitungan Aboge berperan untuk menentukan awal Ramadan. Begitu juga pada bulan Syawal dan Dzulhijjah hitungan Aboge digunakan untuk menetapkan Hari Raya Idulfitri dan Idhul Adha.

Terkait pelaksanaan salat Idulfitri, para pengikut Islam aboge juga melaksanakan tradisi silaturahmi. Kemudian dilanjutkan dengan ziarah kubur.

Untuk perayaan salat Idulfitri Aboge di Kabupaten Banyumas dilaksanakan di Masjid Saka Tunggal di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, di Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang, dan Desa Cibangkong, Kecamatan Pekuncen, Banyumas.

Sedangkan penganut Islam Aboge di Kabupaten Purbalingga melaksanakan salat Idulfitri di Masjid Sayid Kuning, Desa Onje, Purbalingga dan penganut Islam Aboge di Kabupaten Cilacap ada di Desa Ujungmanik, Kecamatan Kawunganten.

Ibadah kelompok Islam Aboge juga tetap dalam tuntunan Al Quran, sama dengan umat muslim pada umumnya. Dalam fiqih disebutkan, ada empat cara untuk menentukan awal Ramadan. Salah satunya adalah metode hisab. Dan sesepuh Islam Aboge telah menggunakan metode hisab ini semenjak ratusan tahun lalu


Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *