Connect with us

Wisata

Menelusuri Pesanggrahan Sumberwringin Yang Terkenal Angker

Published

on

Pesanggrahan Sumberwringin Gunung Raung Jawa Timur 20160801 162238
Share

Reportersatu, Pesanggrahan Sumberwringin, begitu nama rumah yang jadi base camp pendakian Gunung Raung di Jawa Timur. ‘Aroma’ bangunan Belanda masih tercium kuat, dan konon, rumah ini ada ‘penunggu’nya.

Untuk sebuah halaman rumah, pekarangan ini terbilang besar. Ada taman untuk duduk-duduk lengkap dengan bangku semen, serta lapangan kecil yang tampak terbengkalai. Menghadap halaman tersebut, terdapat rumah yang didominasi warna hijau. Arsitektur Belanda masih kental terlihat.

Tim ekspedisi “Jelajah Tanpa Batas” sedang mengantar Willem Sigar Tasiam, atlet maraton gunung solo berusia 58 tahun, mendaki Gunung Raung. Rumah ini merupakan base camp para pendaki gunung tertinggi kedua di Jawa Timur tersebut.

Pesanggarahan Sumberwringin terletak di Desa Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Willem sendiri sudah ‘langganan’ menginap di sini. Sebelum masuk dalam bangunan, pria itu mewanti-wanti. “Kalau malam di tengah suka ada suara pesta lho,” katanya Sedikit tertawa, mungkin setengah bercanda.

Bangunan itu secara umum terbagi menjadi tiga area. Pertama adalah area belakang, dengan deretan kamar yang digunakan untuk tempat tinggal penjaga rumah dan keluarganya. Ada dua kamar mandi umum beserta satu kamar cuci baju, satu ruang dapur, serta dua kolam ikan besar.

Kedua adalah area kamar. Ada lima kamar yang bisa diinapi wisatawan. Kamar-kamar tersebut terhubung oleh sebuah lorong yang di bagian ujungnya mengarah ke ruangan besar setengah lingkaran. Tiap ruangan, entah memang kebetulan atau sengaja dibiarkan begitu, hanya diberi satu lampu dengan pencahayaan remang-remang.

Tiap kamar berukuran besar dengan terdapat kasur (single bed atau twin bed) yang bersih dan nyaman. Sebuah lemari, wastafel, dan meja rias juga tersedia di semua kamar.

Ketiga adalah area ruangan setengah lingkaran yang disebutkan sebelumnya. Ruangan itu hanya berisi bangku-bangku lipat yang berderet di bagian sudut. Di ruangan inilah konon suara ‘pesta’ itu terdengar.

“Rumah ini dibangun 1930-an, dulu digunakan oleh Belanda. Di sekitar sini terdapat perkebunan kopi,” tutur Ibu Endang, wanita nan ramah yang menjaga Pesanggrahan Sumberwringin. Ketika ditanya soal gosip keangkeran Pesanggrahan Sumberwringin, Ibu Endang hanya tertawa. “Ah, enggak kok…” katanya.

Para pendaki yang tak mau repot-repot menyebut ‘Pesanggrahan Sumberwringin’ menjuluki bangunan ini ‘Kamar Bola’. Ini karena pada dasarnya, bangunan tersebut berbentuk lingkaran dengan banyak sudut di bagian luarnya. Tiap kamar pun punya ruangan tersendiri yang memisahkan ruang tidur dengan jendela.

Saat malam, saya sedikit bergidik melihat lorong tengah dengan ruangan gelap gulita di ujung sana. Namun Ibu Endang dan keluarganya senantiasa berjaga di kamar-kamar bagian belakang. Untuk ke toilet pun, wisatawan harus berjalan ke arah belakang bangunan.

Harga menginap di Pesanggrahan Sumberwringin adalah Rp 200.000 per malam. Pendaki bisa meminta Ibu Endang untuk membuat sarapan, makan siang, maupun makan malam sesuai bujet masing-masing.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *