Connect with us

Seni & Budaya

Membangkitkan Semangat Perjuangan Bangsa Indonesia Dalam Wayang Revolusi

Published

on

Museum Wayang I
Share

Reportersatu, Wayang Revolusi adalah wayang kulit kreasi yang diciptakan sebagai media pendidikan, yang mengisahkan sepak terjang perjuangan para pahlawan bangsa dalam merebut kemerdekaan dari tangan bangsa asing, agar penonton memahami arti pentingnya kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

Awal Mula

Berangkat dari kegelisahan atas kondisi bangsa dan negara paska proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, yang terus mendapat tekanan disertai berbagai upaya bangsa asing (Belanda) untuk bisa kembali menguasai Indonesia, Raden Mas Sayid, seorang seniman dalang dari Keraton Mangkunegaran, merasa tergerak membantu pemerintah.

Ia pun memikirkan cara yang bisa dilakukan melalui media wayang sebagai bidang yang dikuasainya. Muncul ide membuat pertunjukan wayang yang dapat membangkitkan semangat perjuangan dan memperkuat nasionalisme untuk membantu pemerintah saat itu dalam mempertahankan kemerdekaan.

Raden Mas Sayid kemudian membuat seperangkat wayang kulit khusus, untuk mengangkat kisah-kisah sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah selama ± 350 tahun. Wayang yang dibuatnya sekitar tahun 1950 ini dinamakan “Wayang Perdjoeangan”, tetapi sekarang namanya diubah menjadi “Wayang Revolusi”.

Ia mendesain karakter to­koh-tokoh sesungguhnya dalam ben­tuk wayang kulit yang telah distilisasi (digayakan). Perpaduan antara wayang kulit purwa dengan wayang kulit kreasinya sangat memperhitungkan proporsional bentuk tubuh, dan raut muka wayang serta penambahan aksesoris seperti sumping (hiasan telinga, giwang), kalung, gelang dan sebagainya.

R.M. Sayid berhasil membuat ± 120 boneka wayang kulit perjuangan yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok tokoh-tokoh pejuang bangsa yang bertekad mempertahankan kemerdekaan dan berusaha mengusir Belanda, serta kelompok  penjajah berikut kaki tangannya.

Para tokoh pejuang di antaranya Jenderal Soedirman, Soekarno, Moh. Hatta, Tjokroprano­lo, Supardjo Rustam, dr. Suwondo, Heri Kesser, Utoyo Kolopaking, Hanum, Pak Lurah, Bu Lurah, Abdulah Lelo­noputro, Bu Dirman, Tidarwono, Roto Suwarno, dan Gatot Subroto. Adapun tokoh penjajah terdiri atas tentara Belanda, Jenderal Spoor, para pimpinan Belanda, serta penduduk pribumi yang menjadi mata-mata Belanda.

Baca Juga : Pertunjukkan Religius Dalam Wayang Sadat yang Menenangkan

Pertunjukkan

Pertunjukan wayang revolusi tidak menggunakan naskah atau lakon tertulis dan tanpa “pakem” khusus sebagaimana wayang kulit. Pementasan wayang revolusi selalu membawakan cerita perjuangan yang diambil dari berbagai sumber sejarah dengan menyesuaikan ketersedian tokoh wayang yang ada.

Musik pengiring berupa gamelan Jawa yang berfungsi sebagai penguat suasana adegan dan penokohan cerita dalam lakon yang sedang dibawakan. Rep­ertoar gending-gendingnya disesuaikan dengan kebutuhan, bisa diambil dari gending tradisional klasik ataupun garapan baru.

Konsep estetika musiknya lebih kepada konsep mungguh atau harmoni, yaitu ter­jadinya keselarasan antara aspek musikal dengan adegan yang dipentaskan. Penggunaan gending dengan nuansa sedih, gembira, semangat, agung, merdeka, asmara, dan sebagainya harus bersinergi dengan adegan yang ditampilkan.

Sayangnya sekitar tahun 1960-an perangkat wayang revolusi ini kemudian dibeli oleh Wereldmuseum (dahulu Museum Voor Volkenkunde atau Museum Ilmu Bangsa-Bangsa) di Rotterdam. Tahun 1995 Pemerintah Kota Rotterdam menghadiahkan 8 buah panel yang berisi foto-foto adegan dalam pertunjukan Wayang Kulit Revolusi kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Bulan Austus tahun 2005, Wereldmuseum Rotterdam ‘meminjamkan secara jangka panjang’ sebagian koleksi wayang kulit revolusi milik mereka kepada Museum Wayang. Kebijakan ini pun setelah pendekatan panjang selama 40 tahun yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *