Connect with us

Seni & Budaya

Melestarikan Kesenian Wayang Golek dengan Perkembangan Zaman

Published

on

Dalang Umar Darusman Sunandar, Tampil Mementaskan Wayang Golek Dengan Lakon Berjudul “cepot Duta Bayangkara”, Dalam Acara Memperingati Hut Tni Ke 69 Dengan Tema “ Sapoe Sapeting Jeng Budaya Sunda” Di Makodim 0612 Tarumanagara, Kota Tasikmalaya, Ja
Share

Reportersatu, Potongan pantun itu masih menempel di pikiran orang Indonesia. Salah satu program televisi mengangkat wayang sebagai sajian bagi pemirsanya. Hanya saja, bukan boneka kayu atau kulit yang dipertontonkan, namun lakon manusia bertingkah jenaka.

Melalui program televisi itu wayang orang mulai dikenal masyarakat Indonesia. Lalu bagaimana dengan wayang golek? Wayang golek, mungkin belum familiar bagi sebagian orang.

Wayang golek merupakan kesenian khas sunda yang mempertontonkan boneka dari kayu yang menceritakan kisah-kisah India populer seperti Ramayana dan Mahabarata. Kisah yang telah dimodifikasi dengan kultur Indonesia itu diceritakan oleh seorang dalang.

Berawal dari sarana penyebaran agama Islam, wayang golek melekat dalam masyarakat Sunda. Sampai saat ini, pakem atau aturan dalam seni wayang golek menurut dalang masih tetap menyampaikan dakwah

loading...
Islam. Tentunya, segi cerita telah berubah mengikuti selera masyarakat.

“Ada beberapa modifikasi dalam cerita wayang golek. Itu semua biar mengikuti perkembangan zaman agar tetap sampai di masyarakat. Meski begitu, ada beberapa pakem yang tidak boleh dilanggar,” pungkas dalang Dadan Sunandar .

Wayang golek sendiri ialah versi pembaruan wayang kulit. Menurut Dadan, sulit bagi wayang menyimbolkan gerakan manusia jika hanya dari kulit belaka. Dari situ muncul wayang golek yang lahir dan besar di tanah Sunda. Tidak hanya perubahan wujud, ada juga penambahan cerita.

Selipan banyolan atau cerita jenaka dihadirkan agar seni wayang golek tidak lekang dimakan zaman. Belakangan, pemesan pagelaran wayang golek lebih sering meminta sang dalang menceritakan kisah banyol. muda dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, mengungkap minat masyarakat terhadap wayang golek kian meningkat.

Tidak sampai minat saja, beberapa anak muda yang ditemuinya mengaku bangga punya wayang golek sebagai budaya leluhurnya. Lingga menganggap era modern bukanlah sebuah tembok yang harus dihancurkan.

Lingga lebih berpikir menjadikan kecanggihan teknologi sebagai tangga agar nama wayang golek kian tenar. Kearifan wayang justru akan terasa jika pengemasannya melalui inovasi modern.

“Saya sendiri inovasinya lebih menyasar anak muda. Jadi ada penyesuaian buat anak muda kayak dari musik dan ceritanya,” pungkas Lingga.

Baca juga : Pagelaran Wayang Putri Gedung Oudetrap di Kota Lama Semarang

Beda halnya dengan Santi, pengelola Galeri Wayang Cupumanik, yang punya kecintaan lebih pada wayang golek. Dirinya bahkan menganggap wayang golek sebagai jati diri suku Sunda.

Jika wayang hilang, jati diri suku Sunda juga akan tergerus. Menurut Santi, di era modern ini, selain melalui media sosial, perlu upaya langsung dalam mengakomodasi minat masyarakat terhadap wayang golek.


Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *