Connect with us

Seni & Budaya

Limoen J.C van Drongelen & Hellfach, Pabrik Sirup Pertama Warisan Belanda

Published

on

Share

Reportersatu, Kota tua Surabaya memiliki banyak cerita di setiap sisi kotanya, tak  terkecuali dalam bidang industri kala penjajahan dulu. Salah satunya, industri pabrik sirup pertama di Indonesia yang ternyata ada di Surabaya. Kesan pertama saat melihat bangunan lawas itu, terasa  arsitektur bangunan Belandanya.

Berdiri sejak tahun 1923 dengan nama Limoen J.C van Drongelen & Hellfach. Pabrik yang kini bernama Sirup Siropen Telasih dibangun oleh pria Belanda bernama J.C van Drongelen.

Pada tahun 1942, pabrik ini diambil oleh Jepang, namun tak lama setelah Jepang menyerah tanpa syarat, pabrik ini kembali diambil alih oleh tentara sekutu. Hingga pada tahun 1958, pabrik ini berada di tangan Indonesia karena adanya program nasionalisasi.

loading...

Baca Juga : Mahesa Lawung Keraton Solo Tradisi Turun-Temurun Sejak Era Dinasti Mataram

Nama Siropen Telahsih juga tidak memiliki makna khusus. Namun, siropen merupakan dari Bahasa Belanda yang artinya sirup. Sedangkan Telasih hanya penyebutan saja. Kata Telasih ditambahkan usai diambil alih oleh Pemerintah Indonesia.

Karena punya sejarah yang lama, bangunan pabrik sirup Siropen kemudian didaftarkan sebagai cagar budaya. Surat Keputusan (SK) cagar budaya itu dikeluarkan wali kota Surabaya bernomor 188.45/75/436.1.2/2015, dan pada Bulan Maret 2015, pabrik rumahan ini akhirnya resmi menjadi bangunan cagar budaya Surabaya.

Dewi selaku quality control Siropen Telasih menuturkan, di era teknologi yang serba canggih ini, pabrik Siropen Telasih ini masih menggunakan metode yang sama saat pabrik didirikan tanpa adanya menggunakan alat canggih sama sekali.

“Kita masih menggunakan cara yang sama tanpa bantuan mesin. Disisi lain karena kita sudah menjadi cagar budaya Surabaya, jadi kita mempertahankan kontenporernya dan konvensionalnya,” terang Dewi saat ditemui di pabrik Siropen Telasih beberapa waktu lalu.

Walaupun masih dibuat dengan cara manual, namun sirup ini dapat bertahan selama 3 tahun tanpa menggunakan bahan pengawet. Bahkan, guci yang digunakan untuk menampung sirup yang sudah dimasak kemudian setelah dimasak dimasukan ke guci lalu didinginkan sehari masih menggunakan guci tahun 1923.

“Kita tidak menggunakan pengawet, pengental, maupun pemanis. Kita mempertahankan cita rasa sirup zaman dulu,” tuturnya.


Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *