Connect with us

Kuliner

Kue Rangi Makanan Legendaris Khas Betawi Yang Kini Jarang Di Temui

Published

on

Share

Reportersatu, “Kue rangi kue jadul” nyanyian dari speaker Farid Chandra ‘berteriak nyaring,’ memanggil pembeli dan mengalahkan teriakan anak-anak yang tengah bermain.

Setiap hari, Farid berkeliling area Pondok Gede, Bekasi untuk berjualan kue rangi. Sesekali anak-anak kecil yang kelaparan memanggilnya dan menanti dengan sabar penuh harap sampai kuenya matang.

Dengan sigap dia mengaduk campuran parutan kelapa dengan sagu lalu memasukkannya ke dalam cetakan. Tapi ada kalanya juga, anak-anak itu tak tertarik membeli dagangannya.

Kue rangi merupakan kue khas Betawi yang legendaris. Kue rangi, atau juga disebut sagu rangi yang disajikan dengan tambahan gula merah kental.

Mungkin tak banyak orang yang tahu soal kue ini, atau bahkan mungkin sulit membedakannya dengan kue lainnya seperti kue pancong atau bandros.

“Kue rangi itu singkatan dari digarang wangi. Ini kue asli Betawi,” kata Farid.

loading...

Menggarang, kata Farid merujuk pada proses memasak tanpa minyak dan menggunakan bara api dari kayu. Setelah memasukkan ke dalam cetakan besi yang mirip cetakan pancong atau bandros.

“Kue ini terbuat dari campuran parutan kelapa kering dengan sagu aren. Sagunya bukan sagu tepung biasa, tapi harus sagu aren.”

“Kalau pakai sagu biasa enggak bisa karena jadi kenyal dan enggak enak dimakan.”

Adonan yang digarang ini merupakan bahan kering. Ucapnya, dia tak perlu menambahkan air ke dalam adonan, paling hanya tambah sedikit garam untuk menghasilkan rasa yang gurih.

Ketika digarang, parutan kelapa bakal mengeluarkan sedikit santan kental dan minyak yang bakal melarutkan sagu aren sehingga merekatkan semua bagian jadi satu.

Di bawahnya, arang kayu yang panas bakal mematangkan adonannya. Bukan cuma mematangkan adonan. Arang kayu ini juga memberikan sensasi rasa khas sendiri pada kuenya.

Setelah itu, kue ditutup selama 1 menit. Kuenya pun tak perlu dibalik untuk mematangkan bagian atasnya.

Untuk memberikan rasa manis, di bagian atasnya dioleskan gula merah yang dikentalkan dengan tepung kanji.

Rasanya? Bayangkan seperti memakan sagon, tapi dalam versi yang lebih lembut, garing, gurih dan kenyal karena olesan gula merahnya yang manis.

Seporsi kue rangi biasanya dijajakan sebaris seukuran cetakan kuenya yang tipis namun bergelombang di bawahnya.

Hanya dengan kertas nasi yang dipotong persegi panjang seukuran kuenya, Farid menjual kue rangi seharga Rp5 ribu.

“Sehari saya enggak bisa jual banyak, paling sehari 3kg saja,” ucapnya.

“Itu saja saya harus berkeliling dari rumah sampai sekitar jalan Ujung Aspal (Bekasi, kurang lebih 7,5 km), dan belum tentu habis sehari.”

Tak dimungkiri, bahan-bahan pembuat kue rangi ini memang tak bisa disimpan sampai keesokan harinya karena rentan basi.

Kue ini paling nikmat jika disantap saat hangat. Ketika tekstur kuenya masih garing namun lembut dan gula merahnya masih ‘meleleh’ dengan baik.

Lain cerita kalau sudah dingin, teksturnya bakal sedikit alot dan gulanya juga sudah makin ‘lengket.’

Secangkir teh hangat tawar atau kopi pahit hangat bakal melengkapi rasanya yang sudah manis.

“Sekarang ini yang jual sudah berkurang. Saya jualan juga karena dari bapak saya, kakek saya yang sudah jualan duluan.”

“Di daerah sini yang jualan itu keluarga saya semua.”


Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *