Connect with us

Seni & Budaya

Kontra Bass, Instrumen Terbesar Keluarga Chordophone

Published

on

16 Concert Orchestra 0036 Bass Scaled 1
Share

Reportersatu, Kontra Bass atau yang dikenal juga dengan nama Double Bass merupakan alat musik terbesar dalam keluarga chordophone, yaitu alat musik dengan sumber bunyi dari rangkaian dawai yang dipetik, digesek ataupun ditekan.

Bentuk alat musik ini mirip dengan biola, namun dengan ukuran yang jauh lebih besar. Tinggi alat musik ini ± 180-200 cm, melebihi tinggi badan orang dewasa. Alat musik ini sebagian besar terbuat dari kayu, badan bagian belakang menggunakan kayu pohon maple,  bagian depan menggunakan kayu spruce, dan bagian fingerboard (leher) menggunakan kayu eboni berwarna hitam. Senarnya menggunakan bahan nylon atau kulit sapi.

Cara Memainkan

Double bass dapat dimainkan dengan cara digesek maupun dipetik, tergantung jenis suara yang ingin dihasilkan. Jika ingin menghasilkan nada yang rendah, double bass dimainkan dengan cara dipetik. Jika nada tinggi yang dibutuhkan maka double bass dimainkan dengan menggesekan bow (alat geseknya) pada dawai.

Ada dua jenis bow yang turut menentukan cara memainkan alat musiknya, yaitu:

(1) French Bow, bentuk alat geseknya mirip dengan yang digunakan pada cello namun lebih pendek dan tebal; dan

(2) German Bow,  memiliki bentuk yang lebih ramping dengan hair bow (serabut gesek) lebih tipis. Posisi pemusik saat memainkan bas betot tergantung selera dan kenyamanan masing-masing, bisa sambil berdiri atau duduk.

Baca Juga : Mandolin, Alat Musik Tradisional dari Negeri Pizza

Perkembangan

Alat musik double bass muncul ± 500 tahun lalu di daerah Italia, bersamaan dengan hadirnya alat musik dawai lainnya. Pada tahun 1542 Silvestro Ganassi mengembangkan alat musik bass “Viola da Gamba” di Venesia. Bentuk yang besar membuatnya sulit dibawa berpindah-pindah, dan posisi jari saat memainkannya  cukup rumit.

Pada tahun 1650-an Viola da Gamba mulai mengalami perubahan. Gasparo da Salo, seorang pembuat biola, membuat dua bentuk double bass dengan ukuran yang besar, namun tidak terlalu berbeda dengan yang ada saat ini. Sekitar tahun 1700-an double bass mulai diterima dalam musik orkestra.

Pada pertengahan abad ke-18 double bass umumnya dibuat hanya dengan tiga senar. Hal ini dilakukan agar double bass dapat menghasilkan suara yang lebih kuat, jelas, keras, dan tegas. Semua komposer pada periode Wina Klasik menggunakan double bass tiga senar dalam orkestra mereka.

Mulai tahun 1830-an double bass dengan empat senar mulai diperkenalkan kembali. Double bass empat senar digunakan untuk memberikan efek suara yang lebih mellow lembut dan lemah. Sampai akhir abad ke-18 kedua model tersebut terus tampil berdampingan, hingga akhirnya model dengan empat senar menjadi standard tetap dalam orksetra menggantikan model tiga senar. Pada abad ke-20, muncul double bass yang menggunakan lima senar dengan rentang nada hingga B-0.

Dalam musik jazz, awalnya suara bass dihasilkan dari tuba dan sousaphone tetapi pada era musik klasik kemunculan double bass menggantikan posisi kedua alat musik tersebut. Teknik bermainnya dengan cara dipetik. Saat itu permainan musik jazz lebih berfokus pada ketukan yang umumnya diperoleh dari alat musik perkusi. Di Indonesia, double bass tidak hanya ditemui pada musik jazz atau orkestra, tetapi beberapa kesenian tradisional juga menggunakannya sebagai instrumen penting dalam kelompok musiknya, seperti Orkes Samrah dan Keroncong.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *