Connect with us

Seni & Budaya

Keunikan Grinsing, Kain Tenun Bali Yang Diburu Turis Dunia

Published

on

20200629112355
Share

Reportersatu, Panorama alam yang indah dan budaya yang masih terjaga rasanya pantas membuat Bali menjadi destinasi nomor wahid di Indonesia. Pulau Dewata juga selalu berhasil membuat kagum para wisatawan asing maupun domestik.

Di Desa Tenganan, yang merupakan sebuah desa adat di sebelah Timur pulau Bali siap membuat pengunjung takjub akan kekayaan budaya nusantara yang belum disingkap banyak orang. Sebab, penduduk desa adat ini masih bersikukuh mempertahankan nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhurnya.

Salah satunya tercermin dalam balutan kerajinan tenun tradisional kain Gringsing (Geringsing). Sebuah kain tenun ikat ganda yang sejatinya kerap digunakan untuk berbagai upacara adat, sekaligus memiliki nilai ekonomis tinggi karena keunikan motif, pewarnaannya masih alami dan proses pembuatannya membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Ni Putu Nesya Agus Tini (39) seorang pengrajin setempat mengungkapkan, untuk sehelai kain Gringsing dihargai berkisar antara Rp 300.000 hingga puluhan juta. Tergantung kerumitan motif dan lamanya proses pengerjaan.

“Proses pembuatan kain Gringsing tenun ikat ganda ini bisa memakan waktu yang lama. Lima tahun juga ada tergantung keunikan motifnya ada Wayang Kebo, Wayang Putri, Cempaka, Pepare dan lainnya. Untuk warna merah berasal dari akar sunti Nusa Penida. Sedangkan warna kuning berasal dari minyak kemiri. Itu tadi yang buat harganya tinggi bisa puluhan juta kan,” ujar wanita yang akrab dipanggil Ayu, Jumat (13/11).

Ayu menambahkan, penenun biasanya memintal sendiri kapas yang akan dijadikan kain. Sehingga bisa dipastikan 100 persen murni dibuat oleh tangan pengrajin.

Keistimewaan Lain Kain Gringsing

Selain itu, teknik pewarnaannya juga terhitung rumit. Khususnya warna kuning yang baru terlihat setelah diproses lebih dari satu bulan. Sementara warna merah bisa diproses lebih singkat.

“Ini kan tujuannya agar benar-benar menyerap sampai ke serat-seratnya. Makanya dijamin tidak akan luntur walau pakai bahan alami. Jadi, tetap bagus dan awet,” terangnya.

Oleh karena keistimewaannya, kata Ayu, kain Gringsing telah menjadi buruan para wisatawan dunia yang sengaja berkunjung ke Desa Tenganan. Mengingat agungnya nilai seni yang direpresentasikan oleh kain tenun lokal Bali.

“Terutama dari Amerika, Australia, Belanda, dan beberapa negara di Eropa lainnya. Mereka biasanya bisa borong sampai 40 kain sekaligus untuk dibawa ke negaranya,” tukasnya.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *