Connect with us

Kesehatan

Kenali Penyebab, Gejala, dan Pencegahan Penyakit Herpes Zoster

Published

on

Share

Reportersatu, Herpes zoster sering juga disebut sebagai cacar api atau cacar ular.

Penyakit ini disebabkan oleh virus Varicella-zoster (VZV) yang juga menjadi penyebab cacar air.

Orang yang pernah mengalami cacar air berisiko mengalami cacar api di usia dewasa. Pasalnya, virus yang sama tetap ada di dalam serabut saraf (neurotropik) dalam kondisi tidak aktif.

Virus bisa aktif kembali jika sistem kekebalan tubuh menurun atau terjadi kontak langsung dengan pasien cacar api.

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, Anthony Handoko mengatakan, semua penyakit yang disebabkan oleh virus bisa sembuh sendiri (self limiting disease), termasuk cacar api.

Namun, sebaiknya pasien herpes zoster segera memeriksakan diri ke dokter agar tidak timbul gejala yang parah saat terkena penyakit tersebut.

Penyebab dan Cara Penularan

Seperti dijelaskan sebelumnya, cacar api disebabkan oleh infeksi virus yang sama dengan cacar air.

Handoko mengatakan, orang yang sudah terkena cacar air memiliki virus Varicella-zoster yang berdiam diri dalam sel saraf.

Virus ini bisa aktif kembali dalam kondisi tertentu, seperti ketika sistem imun tubuh melemah, atau ketika kontak langsung dengan pasien cacar api.

“Cara penularannya juga bisa jika seseorang yang sudah pernah cacar air, menyentuh langsung lesi kulit yang terkena herpes zoster,” kata Handoko.

“Bagaimana jika Terkena Herpes Zoster saat Pandemi Covid-19?”.

Selain itu, sama seperti Covid-19, cacar api ini juga bisa ditularkan melalui droplet.

Oleh karena itu, orang yang terkena herpes zoster sebaiknya menjalani isolasi selama 3-10 hari hingga virus benar-benar tidak aktif dalam tubuh.

Masa inkubasi virus biasanya berlangsung selama 10-21 hari. Saat inkubasi, sistem imun tubuh akan membentuk kekebalan melawan virus.

loading...

Meski bisa sembuh sendiri, kecepatan penyembuhan akan bergantung pada kekuatan sistem imun tubuh melawan virus.

Gejala

gejala awal herpes zoster yang paling umum adalah nyeri pada satu titik atau menyebar ke beberapa bagian.

Selain itu, ada pula beberapa gejala awal lain seperti sakit kepala, demam, tidak enak badan, dan ruam pada kulit.

Handoko menjelaskan, nyeri pada pasien herpes zoster disebabkan oleh virus yang sebelumnya tertidur mulai kembali aktif. Gejala nyeri umumnya muncul pada sekitar serabut saraf yang ditempati.

Dalam kurun waktu 2-3 hari setelah gejala awal, akan muncul ruam dan lepuhan berisi cairan (lenting) berwarna merah, terasa panas dan gatal.

 Lenting ini biasanya hanya ada pada satu bagian tubuh, seperti kaki sebelah kanan/kiri, bahu sebelah kanan/kiri, perut kanan/kiri, bahkan wajah daerah mata atau telinga.

“Gejala yang timbul tidak di seluruh tubuh, tapi tergantung di mana saraf ditempati virus. Bisa di daerah mata, telinga, bahu, dada, atau pinggang, dan biasanya hanya setengah, tidak pada kedua bagian,” kata Handoko.

Gejala yang timbul tanpa pengobatan dokter bisa membaik setelah 2-3 minggu. Namun, sebaiknya segera periksakan ke dokter sedini mungkin untuk mengurangi rasa sakit atau rasa terbakar yang disebabkan penyakit ini.

Faktor Risiko

Meski secara umum orang yang telah terkena cacar air berisiko mengalami cacar api di masa dewasa, ada beberapa faktor risiko lainnya. Berikut mengutip Mayo Clinic.

1. Usia di atas 50 tahun

Orang berusia di atas 50 tahun berisiko mengalami cacar api. Kondisi ini disebabkan oleh semakin menurunnya sistem kekebalan tubuh pada usia tersebut.

2. Penyakit tertentu

Orang dengan penyakit tertentu yang menyerang sistem kekebalan tubuh berisiko tinggi terkena penyakit ini. Misalnya saja orang dengan HIV/AIDS.

3. Menjalani pengobatan kanker

Radioterapi dan kemoterapi bisa menurunkan kekuatan tubuh melawan penyakit.

4. Konsumsi obat-obatan tertentu

Penggunaan obat steroid dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko herpes zoster.

Komplikasi

Handoko menjelaskan, cacar api memang bisa sembuh dengan sendirinya jika sistem imun tubuh kuat.

Namun, rasa sakit yang ditimbulkan bisa sangat mengganggu aktivitas Anda. Bahkan ada kalanya, orang yang terinfeksi cacar api tak bisa bangun dari tempat tidur karena merasa sangat nyeri pada bagian yang terkena.

Bahkan setelah sembuh, seseorang bisa terus merasa nyeri berkepanjangan atau neuralgia postherpetic.

Kondisi ini terjadi karena serabut saraf yang rusak akibat virus mengirim pesan rasa sakit pada otak.

“Meski sudah sembuh, virusnya sudah tidak aktif, dia akan merasa nyeri berkepanjangan dan mengganggu kualitas hidupnya, apalagi bagi lansia,” kata Handoko.

Pertumbuhan herpes zoster di bagian dekat mata juga bisa membuat penglihatan Anda terganggu. Karena virus berdiam diri pada serabut dekat mata, ia akan mengalami perih, bengkak, merah, gatal, hingga sakit kepala.

Jika virus tumbuh pada bagian telinga, Anda akan merasa sakit kepala tak tertahankan, kehilangan indera pengecapan, hingga mengalami gangguan pendengaran.

Lenting berisi air yang pecah dan dibiarkan juga bisa menyebabkan infeksi bakteri atau jamur. Sebaiknya Anda perhatikan kebersihan kulit di bagian yang terinfeksi agar tak menyebabkan infeksi lainnya dari bakteri.

“Itu sebabnya pengobatan sedini mungkin diperlukan untuk menghindari komplikasi yang ada, selain itu, pengobatan medis juga bisa mencegah infeksi bakteri pada kulit,” ujar Handoko.

Pengobatan

Handoko mengatakan, pengobatan pada pasien cacar api dilakukan dengan memberikan obat antibiotik oral dan salep yang dioleskan pada bagian yang terinfeksi.

Dokter juga biasanya akan memberikan obat pereda nyeri dan obat demam, untuk meredakan gejala.

Selama masa pengobatan, pasien sebaiknya tidak melangsungkan kontak erat dengan keluarga dan menjalani isolasi di rumah selama beberapa hari untuk menghindari penularan.

“Isolasinya tidak lama seperti Covid-19, biasanya 3-10 hari, sampai virusnya tidak aktif, atau gejalanya membaik,” kata Handoko.

Herpes yang sudah membaik ditandai dengan perubahan warna lenting dan ruam menjadi merah gelap atau coklat serta lenting yang mulai mengempis.

Namun, ruam atau lenting dari herpes zoster biasanya akan membekas dan memerlukan penanganan lebih lanjut untuk menghilangkannya.

Pencegahan

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah herpes zoster adalah dengan vaksinasi herpes. Orang berisiko seperti lansia sebaiknya mendapatkan vaksin herpes secara rutin setiap tahun.

Handoko mengatakan, vaksin juga masih tetap efektif mencegah herpes zoster meskipun sudah mengalaminya sebelumnya. Vaksinasi herpes zoster sebaiknya dilakukan secara berkala sesuai petunjuk dokter.

“Vaksin herpes terbukti efektif mencegah, meski sudah pernah terkena herpes zoster, pada lansia dia bisa diberikan setiap tahun, orang yang lebih muda bisa vaksinasi 3-5 tahun sekali bergantung pada kondisi fisiknya,” kata Handoko.


Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *