Connect with us

Nasional

Kemenkes Pastikan Mutasi Virus Corona E484K Tidak Pengaruhi Efikasi Vaksin Covid-19

Published

on

Share

Reportersatu, Terkait dengan mutasi virus SARS-CoV-2 varian E484K alias ‘Eek’, Juru Bicara Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi menyatakan sejauh tidak mempengaruhi efikasi alias kemanjuran vaksin virus corona.

Nadia menjelaskan mutasi E484K ini tidak akan memberikan pengaruh mengkhawatirkan apabila ia berdiri sendiri. Namun, bila E484K asal Jepang ini ditemukan menempel di berbagai varian baru, maka menurutnya perlu studi lebih lanjut untuk mengatakan apakah memang varian corona eek berpengaruh terhadap efikasi vaksin.

“Jadi kalau dia gabung dengan mutasi lain seperti pada varian lain, dikatakan berpengaruh pada efikasi vaksin. Tapi kalau hanya E484K saja tidak ada pengaruh pada efikasi vaksin,” jelasnya.

loading...

Nadia meyakini vaksin covid-19 yang digunakan saat ini di Indonesia, yakni Sinovac dan AstraZeneca masih cukup efektif dalam merangsang sistem imunitas untuk membuat zat kekebalan tubuh alias antibodi guna melawan antigen virus.

Baca Juga : Pemprov DKI Siapakan 50 Unit Bis Sekolah Selama Uji Coba PTM

“Tidak pengaruh efikasi karena ini single mutasi ya,” kata Nadia, Kamis (8/4/21).

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes ini lantas mengatakan kekhawatiran terhadap efikasi vaksin itu mungkin terjadi apabila varian ‘ganas’ yang kemudian juga mengandung protein E484K ditemukan di Indonesia.

Sementara hingga saat ini, diketahui baru empat varian corona yang berhasil diidentifikasi di Indonesia melalui metode pencarian strain virus bau Whole Genome Sequence (WGS). Adapun keempat varian itu yakni D614G, B117, N439K, dan E484K.

“Pada varian B 1351 atau yang varian P1 yang Afrika Selatan dan Jepang atau Brasil itu terdiri dari berbagai mutasi atau multiple mutasi. Nah, salah satunya E484K,” pungkasnya.

Namun demikian, Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Zubairi Djoerban sebelumnya menduga varian corona Eek ini memiliki dampak cukup mengkhawatirkan, sebab dinilai kebal terhadap pemberian vaksin hingga memudahkan proses reinfeksi virus corona pada penyintas.

Dugaan itu ia peroleh berdasarkan kajian dan hasil analisis sementara dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat dan sejumlah penelitian lainnya.

Ia mengatakan, dalam sebuah pengujian di laboratorium, varian corona Eek ini terbukti membantu virus corona menghindari antibodi yang dihasilkan oleh infeksi sebelumnya, sehingga membuatnya kurang rentan terhadap obat antibodi, termasuk vaksin.


Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *