Connect with us

Seni & Budaya

Karinding, Alat Musik 10 cm Khas Tanah Sunda

Published

on

Sam 5570 640x427
Share

Reportersatu, Karinding merupakan salah satu alat musik tradisional Indonesia yang cara memainkannya disentil oleh ujung telunjuk sambil ditempel di bibir. Alat musik ini termasuk dalam jenis lamelafon atau idiofon

Karinding yang digunakan oleh perempuan terbuat dari bambu dengan bentuk memanjang menyerupai susuk sanggul. Bentuk seperti ini menjadi lebih mudah dibawa kemana-mana, hanya tinggal disisipkan pada sanggul.

Karinding untuk laki-laki terbuat dari pelepah kawung dengan bentuk lebih pendek agar mudah disimpan pada tempat tembakau. Ukuran dan cara mengetuk karinding akan mempengaruhi bunyi yang dihasilkan, namun umumnya memiliki panjang 10 cm dan lebar 2 cm.

Bentuk fisik karinding terbagi dalam tiga bagian, yaitu pegangan (pancepengan) di bagian kiri, guratan di bagian tengah tempat keluarnya nada (cecet ucing atau ekor kucing), serta pembatas guratan dan bagian ujung yang disebut pemukul (panenggeul).

Cara memainkannya adalah dengan menempelkan bagian tengah di depan rongga mulut yang sedikit terbuka. Bagian panenggeul di sebelah kanan disentil dengan jari hingga cecet ucing bergetar. Getaran itulah yang kemudian menghasilkan bunyi dengan pengaturan rongga mulut, hembusan dan tarikan nafas.

Baca Juga : Bongo, Instrumen Portable dari Abad 19

Perkembangan

Awalnya karinding dimainkan untuk mengusir rasa sepi dan kebosanan para petani saat menjaga ladang di hutan, dari serangga atau burung-burung pemakan tanaman. Bunyi khas karinding ternyata menghasilkan gelombang low decibel yang mampu membuat hama menjauhi ladang.

Pada perkembangannya karinding juga digunakan dalam upacara adat atau ritual, seperti saat gerhana bulan, khitanan, syukuran hasil panen meningkat, dan hajatan lainnya. Sampai sekarang masih ada yang menggunakannya untuk mengiringi pembacaan rajah. D

i kalangan muda, karinding memainkan peran dalam memikat hati pasangan. Sejak masa kanak-kanak mereka telah diperkenalkan dengan karinding sebagai alat permainan. Saat beranjak remaja  mereka memainkannya dengan nada khusus dan saling bersahutan. Jika ada laki-laki yang berkunjung ke rumah perempuan, maka ia akan memainkan alat musik karinding untuk memikat sang pujaan hati.

Alat musik karinding sempat populer di tanah Sunda. Bahkan di tahun enam puluhan hingga tujuh puluhan hampir setiap rumah memiliki karinding. Di daerah Ciawi, kabupaten Tasik, karinding dahulu biasanya dimainkan bersama dengan takokak (alat musik yang bentuknya mirip daun).

Dalam terminologi musik, karinding merupakan alat musik tiup sekaligus idiophone, dimana  sumber bunyinya berasal dari batangan logam atau kayu yang jika dipukul akan menimbulkan suara. Karinding tergolong idiophone yang tidak bernada sehingga untuk menghasilkan komposisi irama yang indah dan enak terdengar di telinga, karinding kerap dipadukan dengan instrumen lain.

Kecapi dan suling adalah alat musik tradisional tatar Sunda lainnya yang sering dimainkan bersama dengan karinding, sehingga muncul istilah kalinding yaitu kacapi-suling-kalinding. Seringkali karinding dimainkan secara bersama-sama dalam jumlah cukup banyak sehingga disebut rampak karinding.

Ketika gempuran alat musik modern mulai mewabah di kampung-kampung, secara perlahan minat masyarakat berkurang sehingga karinding mulai dilupakan. Pengrajin karinding pun semakin langka. Pertengahan tahun 2000-an alat musik karinding mulai dihidupkan kembali, dan menjadi magnet bagi anak muda setelah grup musik heavy metal Karinding Attack menggunakannya sebagai salah satu instrumen.

Grup musik Karinding Attack tidak hanya mengadakan pergelaran di seputar Jawa Barat tetapi juga daerah-daerah lain termasuk Jakarta. Pada penghujung pekan kedua, 17 November 2019, grup musik ini mengadakan konser musik heavy metal di Museum Nasional Indonesia. Musik heavy metal sebenarnya biasa, tetapi yang tidak biasa adalah salah satu instrumen musik pendukungnya, karinding.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *