Connect with us

Seni & Budaya

Desa Pagayaman, Meleburnya Jagat Bali Dalam kearifan Islam

Published

on

Unnamed (1)
Share

Reportersatu, Desa Pegayaman merupakan sebuah wilayah di Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali yang seluruh penduduknya beragama Islam. Kendati menjadi kawasan muslim, desa tersebut masih memiliki ciri khas dari nuansa Hindu Bali yang kental.

Tidak seperti desa-desa Bali lainnya, semua warga Pegayaman adalah orang- orang Islam yang taat, dan mereka adalah orang Bali asli. Mereka menyebut dirinya dengan sebutan Nyama selam (saudara muslim) tetapi pada saat yang sama mereka juga adalah Nyama Bali ( saudara bali)

Desa Pegayaman sendiri berlokasi di lereng Bukit Gitgit. Satu di antara jajaran perbukitan yang memisahkan antara Bali bagian utara dengan wilayah selatan yang berjarak sekitar 9 kilometer dari Kota Singaraja.

Baca Juga : Rumah Betang, Warisan Budaya Masyarakat Dayak

Nuansa ke Islamannya kian terasa ketika kita memasuki setiap jengkal wilayahnya, dengan mayoritas anak-anak yang setia mengenakan penutup kepala (peci), sebagai pelengkap aktivitas kesehariannya. Serta kaum perempuan yang juga mengenakan pakaian khas Muslimah seperti kerudung, disertai penggunaan kebaya khas setempat.

Desa Pegayaman juga tidak berdiri sendiri, alias dikelilingi oleh lima desa dengan mayoritas penangut Agama Hindu yakni Desa Silangjana, Pegadungan, Gitgit, Wanagiri dan Desa Pancasari di Buleleng.

Asal Usul Terbentuknya Kampung Muslim di Pegayaman

Terkait asal usul kawasan Pegayawan menjadi kampung Muslim dilatarbelakangi oleh kemenangan penguasa Singajara yang disebutkan dalam catatan sejarah Babad Buleleng. Ia merupakan sosok yang disegani karena strategi perangnya bernama Ki Barak Panji Sakti di pertengahan abad ke 17.

Saat itu, Panji Sakti disebut telah berhasil menguasai wilayah Bali, serta sebagian wilayah Jawa bernama kerajaan Blambangan. Kesuksesan Panji lantas terdengar hingga ke Kerajaan Mataram yang saat itu dipimpin oleh Senopati Ing Alogo Sayyidin Panotogomo.

Sebagai bentuk salam damai, Senopati Ing Alogo Sayyidin Panotogomo lantas menghadiahi Panji Sakti dengan seekor gajah serta delapan orang patih yang beragama Islam dan nantinya menempati dan berketurunan di daerah yang kini dinamakan Desa Pegayaman.

“Patih dari kerajaan Surakarta tersebut lantas dikawinkan dengan salah satu leluhur putri yang merupakan bagian dari kerajaan Buleleng yang di kemudian hari melahirkan keturunan di Pegayaman” terang Wayan Hasyim, tokoh masyarakat di Pegayaman.

Selanjutnya, terdapat versi lain yang mengatakan bahwa leluhur Islam di Pegayaman merupakan warga asli Bali dan bukan merupakan keturunan dari patih asal Jawa.

“Setelah bertahun tahun saya meneliti di sana, leluhur Islam pegayaman merupakan warga asli Bali. Melihat bahasa, tradisi dan cara mereka menyerap kebudayaan Bali di istilah hari raya Islam di Pegayaman, mereka selalu ada penampahan, penyajan, dan hampir tidak ada unsur budaya Jawa yang terlihat” Ujar Putu Gede Suwita, dosen Antropologi asal Universitas Udayana Bali, dikutip dari Channel YouTube Beranda Islami beberapa waktu lalu.

Sisi Toleransi di Pegayaman

Nilai toleransi di Pegayaman sendiri begitu mandarah daging. Masyarakat setempat menggabungkan unsur tradisional Bali sebagai jati dirinya dengan nuansa Agama Islam yang tetap berpegang teguh pada syariatnya.

Ketut Muhammad Suharto, seorang pegiat sosial di Desa Pegayaman menyebutkan jika sisi toleransi di sini terlihat dari cara masyarakat Pegayaman turut melestarikan tradisi kebudayaan asli Hindu Bali melalui sebuah nama.

Para warga di Pegayaman seluruhnya masih menggunakan nama sesuai urutan dari masing-masing keluarganya seperti Wayan, Putu, atau Gede untuk anak pertama; Made, Kadek, atau Nengah (anak kedua); Nyoman, Komang, atau Koming (anak ketiga), dengan penyematan nama depan mereka yang berciri Islam.

“Kami sekalipun orang islam, tapi kami tetap memakai nama Wayan, Nengah, Nyoman dan Ketut. Ini sebuah toleransi dan kami tidak bermasalah karena hal tersebut tidak mempengaruhi daripada akidah kami” tutur Ketut dalam wawancara di channel Eagle Awards

Selanjutnya Ketut juga menambahkan jika masyarakat Islam di Pegayaman pun turut mengenakan Udeng (Ikat kepala pria khas Bali) yang menurutnya sama dengan songkok atau kopiah di Agama Islam.

Turut Hening dalam Nyepi dan Berbagi Keberkahan Lewat Ngejot

Toleransi berikutnya kian terasa saat berlangsungnya perayaan hari raya dari ke dua Agama yang hidup berdampingan di sana. Masyarakat Pegayaman ikut khidmat dalam keheningan Hari Raya Nyepi dengan tidak melakukan aktivitas di luar rumah.

Umat Islam di sana pun turut ramai-ramai membantu tetangganya yang beragama Hindu membuat dan mengarak “ogoh-ogoh”.

Di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, warga Pegayaman ikut berbagi keberkahan dengan melaksanakan kegiatan Ngejot, atau membagikan makanan kepada masyarakat Hindu di kawasan sekitar dengan mendatanginya ke setiap rumah.

“Termasuk di Hari Raya Galungan dan Kuningan, umat Hindu turut memberikan makanan kepada tetangganya yang muslim dan tentunya halal.” sebagaimana informasi yang diperoleh dari Nyoman Nesa (65), warga Pegayaman.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *