Connect with us

Seni & Budaya

Darbuka, Alat Musik Mesopotamia Populer di Indonesia

Published

on

70944982 36ec67b3 A7bc 4e12 89c6 Cc5a8de180f8 1280 1280
Share

Reportersatu, Diduga alat musik ini sudah dikenal sejak sebelum masehi di wilayah Mesopotamia. Darbuka dahulu dibuat dari tembikar, kayu, dan kulit natural sebagai membran. Lubang permukaan bagian atas lebih besar di bandingkan bawahnya.

Darbuka adalah alat musik perkusi sejenis gendang berbentuk seperti piala atau jam pasir yang berasal dari Timur Tengah. Awalnya darbuka dibuat untuk keperluan upacara atau ritual tradisional dan digunakan di banyak negara Timur Tengah.

Darbuka pernah sangat populer dan fenomenal di negara Turki, yang dalam perjalanan sejarah alat musik ini merupakan pembuat darbuka tanah liat terbaik, khususnya kota Antalya. Badan darbuka dipenuhi hiasan-hiasan geometris dan flora khas Timur Tengah.

Sampai saat ini beberapa negara Timur Tengah masih menggunakan darbuka sebagai alat musik, terutama Syiria, Alexandria Mesir, dan Antalya di Turki bagian selatan. Darbuka dikenal juga dengan nama calty atau tabla. Indonesia sendiri mengenalnya sebagai darbuka.

Baca Juga : Kontra Bass, Instrumen Terbesar Keluarga Chordophone

Cara dan Teknik Memainkan

Alat musik darbuka dimainkan dalam posisi duduk dengan bidang pukul berada di sisi kanan tubuh. Membran dipukul menggunakan tangan atau jari telunjuk dan jari manis, baik  tangan kanan maupun tangan kiri.

Ada beberapa teknik memukul dalam memainkan darbuka, yaitu:

(1) single, menggunakan satu jari saja, jari kanan dan kiri di pukulkan secara bergantian;

(2) double, menggunakan dua jari yang dipukulkan bergantian kiri dan kanan;

(3) triple, menggunakan dua jari tangan kiri dan satu jari tangan kanan yang di pukulkan secara berurutan;

(4) quadrople, menggunakan empat jari yang terdiri dari dua jari tangan kanan dan dua jari tangan kiri, bergantian memukul dimulai dengan  tangan kiri kemudian baru tangan kanan;

(5) butterfly, bermain dengan semua jari berada di permukaan membran darbuka dan biasanya menggunakan kuku jari jempol.

Darbuka mampu menghasilkan variasi ketukan, baik saat dimainkan secara solo maupun bersama-sama dengan instrumen lain, di antaranya adalah baladi, malfuf, dan saidi. Keluwesan suara yang dihasilkan menjadikan darbuka dapat lebur saat dikolaborasikan dengan  berbagai genre musik seperti hiphop, jazz, gambus, japin, hadrah, dan marawis.

Fungsi Darbuka di Melayu

Masyarakat Melayu menggunakan darbuka dalam kesenian marawis klasik. Alat musik ini dikenal dengan nama dombak atau gedombak. Ada dua ukuran gedombak, yang lebih besar disebut induk, sedangkan yang agak kecil disebut anak. Bentuk gedombak sedikit lebih lebar dibandingkan darbuka asli yang langsing.

Dalam kesenian marawis klasik, darbuka atau gedombak berfungsi sebagai pengiring lagu. Instrumen lainnya adalah hajir sebagai pengatur tempo utama, markis sebagai pengatur tempo, dan marwas sebagai pengisi lagu kosong. Selain marawis, gedombak di Riau dan Serdang (Sumatera Timur) juga digunakan dalam kesenian Makyong, sedangkan di Kelantan dipakai dalam musik Manora dan Wayang Orang.

Perkembangan

Tahun 2010, instrumen durbaka mulai populer di Indonesia seiring maraknya majelis sholawat, hadrah, gambus, dan japin. Alat musik darbuka yang sekarang beredar di Indonesia bukan produksi Timur Tengah melainkan buatan lokal, antara lain Kudus dan Pasuruan.

Saat ini darbuka dapat dibuat dengan bahan logam cor, khususnya alumunium, sebagai pengganti kayu dan tanah liat untuk badannya. Membran yang terbuat dari kulit hewan juga dapat diganti dengan bahan semacam mika. Modifikasi yang dilakukan para pengrajin menghasilkan darbuka dengan bobot yang lebih ringan.

Pemberian hiasan di bagian badan juga menjadi lebih mudah. Kualitas suara yang dihasilkan darbuka alumunium tidak kalah dengan model darbuka tradisional. Salah satu grup musik gambus pengusung darbuka adalah Syaban, yang sudah menggunakannya sejak pertama kali dibentuk tahun 2015 ditambah dengan gitar gambus (oud).

Kepopuleran darbuka juga menginspirasi sekelompok orang untuk membentuk komunitas darbuka, yang saat ini sudah tersebar di sejumlah daerah di Jawa dan Kalimantan, termasuk Jakarta. Tahun 2017 bahkan mereka sudah mengadakan Festival Darbuka Nasional di Auditorium Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *