Connect with us

Lensa Artis

Cerita Perjuangan Shahnaz Haque Sembuh dari Kanker Ovarium

Published

on

Share

Reportersatu,  Tanggal 4 Februari merupakan peringatan Hari Kanker Sedunia. Sebagai penyintas, Artis Shahnaz Haque pun memiliki pengalaman tak terlupakan bagaimana dirinya berjuang melawan kanker ovarium yang menderanya dekitar 11 tahun lalu.

Shahnaz Haque mengingat perjuangan melawan kanker berawal kala ia yang rajin memandu program kesehatan di salah satu televisi swasta tidak menstruasi selama tiga bulan padahal belum menikah.

Shahnaz Haque bertanya ke salah seorang dokter yang menjadi narasumber, apa pemicu tidak menstruasi ini? Secara spesifik, sang dokter balik bertanya, apakah dalam pohon keluarga Shahnaz Haque ada yang memiliki riwayat kanker?

Baca Juga : Berjiwa Sosial Tinggi, Cinta laura Bangun Sekolah Gratis di Pedalaman

“Lalu saya menjalani USG dan didapati sel padat yang mesti dioperasi. Ibu saya meninggal akibat kanker. Nenek saya juga meninggal karena kanker. Dua mertua saya meninggal karena kanker,” urainya

loading...

Shahnaz Haque ingat betul, sel-sel kanker mengakibatkan sensasi sakit di setengah lingkar pinggang bagian kanan. Perjuangan melawan kanker secara intensif ditempuh sepanjang tahun 1999.

Aktris kelahiran Jakarta 1 September 1972, ini mengaku, kanker mengubah gaya hidupnya. Dulu ia kurang peduli dengan kesehatan dan menemui dokter hanya jika sedang sakit. Shahnaz Haque hanya bergerak saat bekerja atau syuting.

“Banyak pola hidup yang berubah sesudah saya operasi tahun 1999. Saya tidak makan makanan kaleng. Sarden, kornet, itu enggak. Jadi saya makan masakan rumah yang enggak bolak-balik masuk lemari es. Jadi sekali makan, habis. Enggak dipanaskan,” katanya.

Shahnaz Haque menyampaikan ini dalam media briefing virtual Kampanye 10 Jari: Deteksi Dini Faktor Risiko dan Gejala Kanker Ovarium, Sabtu (29/5). Kesadaran soal kanker lalu ditularkan Shahnaz kepada tiga putrinya dengan mengatakan sakit itu enggak enak.

“Jangan pernah mencoba sakit. Bubu sudah pernah coba, eyang putri juga pernah. Mereka tahu kalau mau coba sesuatu yang berisiko, harus tahu cara menanggulanginya. Kalau tidak, artinya mereka menyulitkan banyak orang untuk sesuatu yang sebenarnya bisa dicegah,” papar Shahnaz.

Dalam kesempatan itu, Ketua Himpunan Onkologi dan Ginekologi Indonesia (HOGI), Prof. DR. dr. Andrijono, Sp.OG(K) menyorot pentingnya mengenali faktor risiko dan deteksi dini kanker ovarium.

“Jika dideteksi lebih awal, kanker ovarium dapat ditangani. Faktanya 20 persen dari kanker ovarium yang terdeteksi di stadium awal, 94 persen pasien stadium awal ini dapat hidup lebih dari lima tahun setelah didiagnosis,” ulasnya. 

Narasumber lain, yakni Direktur AstraZeneca Indonesia, Rizman Abudaeri menyebut, diagnosis sedini mungkin dan pengobatan tepat faktor penting yang menentukan keberhasilan menangani kanker.

Karenanya, AstraZeneca Indonesia, Indonesian Cancer Information and Support System, dan HOGI meluncurkan Kampanye 10 Jari untuk mengenali 6 faktor risiko dan 4 tanda kanker ovarium.

Enam faktor risiko kanker ovarium yaitu punya riwayat kista endometriosis, ada riwayat keluarga yang menderita kanker ovarium dan kanker payudara, mengalami mutasi genetik, angka paritas rendah, gaya hidup buruk, dan pertambahan usia.

“Empat tanda kanker kanker ovarium yakni kembung, nafsu makan menurun, sering buang air kecil, dan nyeri panggul atau perut,” pungkasnya.


Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *