Connect with us

Nasional

Cegah Penyebaran Corona, Kemendes PDTT Imbau Warga Desa Buat Pos Jaga

Published

on

Cegah Penyebaran Corona, Kemendes PDTT Imbau Warga Desa Buat Pos Jaga
Share

Reportersatu, Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) memberikan himbauan kepada masyarakat desa agar membuat Pos jaga 24 jam untuk mencegah penyebaran virus Corona atau Covid-19. Langkah pembuatan Pos jaga 24 jam itu diperuntukkan untuk mendata sejumlah perantau yang baru tiba dari luar daerah terutama dari daerah yang masuk zona merah penyebaran Covid-19.

Baca Juga : PT Kereta Api Indonesia Memangkas 103 Perjalanan, Menjelang Musim Mudik Lebaran 2020

“Membuat Pos jaga Gerbang Desa untuk memantau mobilitas warga ini kan sekarang sudah banyak masyarakat yang mudik lalu lalang yang di desa. Berarti Desa harus mulai menjaga di tempat-tempat masuk wilayah desa itu sendiri bukan ingin menghambat, tetapi untuk menjaga kesehatan masyarakat dari dampak Corona ini,” kata Kepala Badan penelitian dan pengembangan Pendidikan dan Pelatihan dan informasi Kemendes PDTT Eko Sri Haryanto di kantornya kepada wartawan, Selasa, 31 Maret 2020.

loading...

Menurut Eko Sri Haryanto sejumlah perantau yang datang akibat pandemi virus Corona di ibu kota maupun kota-kota besar lainnya harus ditertibkan. Pendataan dan mengukur suhu tubuh dapat meminimalisir meluasnya virus Corona di sejumlah desa dari asal perantau di kota besar.

“Mereka harus didata Siapa yang masuk siapa yang keluar dan harus diukur suhu tubuhnya juga dan sebagainya. Itu nanti di pos jaga itu jadi harus ada sistem skrining terlebih dahulu sebelum masuk ke daerah asal dari perantau itu,”ujar Eko Sri Haryanto.

Eko menuturkan ada pos pencegahan penyebaran virus Corona ini harus dijaga oleh warga secara bergantian selama 24 jam dengan memberikan laporan kepada kepala desa setempat. Nantinya secara berkala evaluasi dari daftar orang yang keluar masuk dari pos jaga tersebut harus diketahui statusnya dan harus dipantau. 

Baca Juga : Kabar Duka Menimpa Jokowi, Ibunda Sujiatmi Notomiharjo Meninggal Dunia

Apakah dia masuk kepada orang dalam pemantauan (odp) maupun pasien dalam pengawasan (pdp).

“Selain itu juga nanti ini siapa ini odp atau pasien dalam pengawasan misalnya itu juga harus dicatat dan dilaporkan kepada pihak yang berwenang di tim kesehatan yang ada di Kabupaten,” ucap Eko Sri Haryanto.

Mengenai pemberlakuan posjaga 24 jam tersebut bukan saja diperlakukan pada malam hari tapi harus dijaga mobilitasnya yang berarti bisa dilaksanakan pada siang hari malam hari sore hari ataupun pagi hari.
Pendataan tersebut dimulai dari pendataan warga yang keluar masuk desa.

Selain itu juga mendata warga desa yang baru tiba dari perantauan, termasuk perantau yang bekerja atau bersekolah dari luar Desa. Pun pendataan juga harus dilakukan dengan menanyakan asal wilayah domisili di mana perantau tersebut tinggal.

“Yang berikut yang memeriksa dan mendata warga desa yang baru datang dari Rantau jadi yang baru dari Rantau ini yang dimaksud adalah selain pekerja dari daerah lain, adalah juga yang termasuk yang sekolah jadi yang terpenting adalah dari luar daerah. Jadi termasuk mereka didata mereka siapa saja dan sebagainya,” ucap Eko Sri Haryanto.

Baca Juga : Kurangi Resiko Corona, Jaksa Agung Usul Persidangan digelar via Vicon

Nantinya, dari pendataan tersebut, sambung Eko, bila perantau datang dari daerah yang terdampak corona seperti Jakarta, perantau harus segera diisolasi selama 14 Hari. Tujuannya tidak laim agar seluruh penduduk desa terlindungi dari wabah penyakit Corona. (Mey)


Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *