Connect with us

Seni & Budaya

Budaya Khas Papua Yang Memiliki Upacara Adat dan Rumah Tradisional

Published

on

Suku Dani 2
Share

Reportersatu, Papua barat yang dulu dikenal dengan nama Irian Jaya adalah bagian dari pulau Papua Nugini dan juga merupakan wilayah Indonesia paling timur. Wilayah Papua mencakup beberapa pulau kecil di sekitarnya termasuk pulau Biak. Sebagian besar wilayahnya tertutupi hutan lebat yang menjadi habitat beberapa hewan endemik Indonesia seperti cendrawasih, tapir, dan kasuari. Terdapat suku pedalaman yang masih tinggal di dalam hutan seperti suku Dani yang tinggal di lembah Baliem, meski sebagian besar populasi Papua tinggal di sekitar pesisir pantai.

Menurut hasil penelitian, ada sekitar 700-an bahasa daerah terdapat di Papua dan ada kurang-lebih 200 bahasa tradisional yang masih aktif digunakan termasuk bahasa Dani, Yali, Ekari, dan Biak meski yang paling luas dipakai untuk berkomunikasi oleh masyarakat Papua adalah Bahasa Indonesia.

Ada banyak budaya khas Papua yang menarik untuk dibahas. Disamping tradisi dan bahasa yang berbeda antara suku yang tinggal di daerah pegunungan dan yang tinggal di daerah pesisir pantai, penduduk papua memiliki upacara adat, pakaian, dan rumah tradisional yang merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang selama ribuan tahun yang terus dijaga hingga saat ini.

Biasanya Bakar Batu diadakan ketika menyambut tamu penting atau pesta pernikahan. Bakar Batu juga dilaksanakan ketika menutup musim panen sebagai bentuk rasa syukur kepada sang pencipta atas hasil panen yang melimpah. Dinamakan Bakar Batu karena di dalam perayaan ini, suku-suku di Papua memasak makanan yang menjadi hidangan pesta dengan cara membakarnya dengan batu panas.

Biasanya dimulai dengan menyalakan api secara tradisional, yaitu menggesek rotan ke atas kayu hingga memercikkan api. Api tersebut akan digunakan untuk membakar batu hingga batu tersebut cukup panas. Batu ini yang kemudian disusun sedemikian rupa di dalam lubang yang telah disediakan lalu ditumpuk di atasnya bahan makanan seperti ubi dan babi yang akan ditutup lagi oleh batu-batu panas dan ditutupi oleh rumput-rumputan agar panas tetap  berada di dalam dan membakar makanan hingga matang.

Tiap suku memiliki sebutan tersendiri yang merujuk pada upacara adat ini. Seperti halnya masyarakat Paniai yang menggunakan kata mogo gapii atau warga di Wamena yang menyebutnya dengan sebutan kit oba isago. Namun istilah yang paling umum digunakan adalah barapen.

Yakuza bukanlah satu-satunya kelompok masyarakat dunia yang memiliki tradisi potong jari. Namun berbeda dengan Yakuza yang memotong jari ketika mereka gagal dalam melaksanakan misi, masyarakat Papua melakukan tradisi ini ketika mereka kehilangan anggota keluarga.

Aturan adat mewajibkan keluarga yang kehilangan untuk memotong jarinya karena untuk beberapa suku di Papua, mereka menganggap jari sebagai representasi anggota keluarga. Ketika seseorang kehilangan satu anggota keluarga maka secara otomatis mereka juga harus kehilangan satu jarinya.

Jika dilihat dari perspektif modern, tentu tradisi potong jari adalah tradisi yang sangat ekstrim dan tidak seharusnya masih dilakukan. Oleh karena perubahan zaman juga, tradisi ini mulai ditinggalkan dan semakin dilupakan oleh suku-suku di Papua.

Tidak banyak yang tahu jika ukiran kayu Indonesia yang mendunia bukan hanya berasal dari kota Jepara tapi juga dari daerah timur nusantara, lebih tepatnya suku Asmat yang mendiami teluk Flamingo. Selama ribuan tahun, pemahat kayu dipandang sebagai profesi yang terhormat di kalangan suku Asmat.

Ukiran kayu rumit yang dipahat secara alat-alat tradisional menjadi ciri khas yang menarik minat wisatawan dunia. Peralatan yang digunakan pun masih sangat sederhana, seperti kapak yang terbuat dari batu, tulang binatang dan kulit kerang. Nilai estetika yang tinggi menjadikan kerajinan ini dijual dengan harga yang sangat tinggi. Tidak hanya dari segi estetis, ukiran kayu Asmat memiliki empat fungsi kultur, diantaranya:

  1. Perwujudan arwah nenek moyang;
  2. Ungkapan perasaan senang atau sedih;
  3. Simbol-simbol religi seperti manusia, hewan, tumbuhan dan berbagai objek lain;
  4. Simbol keindahan dan kearifan lokal.

Mungkin ini adalah karya budaya Papua yang paling dikenal luas oleh masyarakat dunia. Koteka adalah pakaian tradisional masyarakat Papua yang digunakan sebagai penutup kemaluan lelaki dewasa beberapa suku di Papua. Namun begitu, tidak semua suku di Papua memakai koteka. Koteka hanya digunakan oleh beberapa suku yang tinggal di pegunungan, sementara untuk penduduk yang tinggal di daerah pesisir pantai lebih memilih moge sebagai pilihan berbusana, sejenis cawat yang berbentuk rumbai-rumbai.

Koteka dikenakan oleh anak lelaki yang telah menginjak umur 5 tahun. Bukan hanya sebagai pakaian, koteka juga sebuah perlambangan strata sosial masyarakat papua. Semakin tinggi status atau jabatan seseorang maka dia berhak untuk mengenakan koteka dengan ukuran yang lebih besar. Untuk para raja atau kepala suku, koteka yang mereka kenakan khusus merupakan turun temurun dari pendahulu mereka sebelumnya.

Ada banyak jenis pakaian tradisional wanita yang bisa ditemukan di Papua, hampir tiap suku memiliki baju adatnya masing-masing. Meski begitu, kebanyakan pakaian ini terbuat dari bahan yang sama: diambil dari serat-serat tumbuhan yang dikeringkan yang kemudian dirangkai menjadi semacam rok untuk menutupi tubuh bagian bawah.

Ornamen-ornamen yang digunakan di pakaian juga relatif tidak begitu rumit, hanya bentuk-bentuk seperti bulatan dan kotak yang tersusun secara geometris. Biasanya ditambahkan beberapa hiasan kepala sebagai asesoris yang terbuat dari bulu-bulu binatang seperti burung cendrawasih.

Meski tidak banyak namun beberapa suku di Papua juga dikenal dengan kerajinan kain tenunnya. Warna-warna yang digunakan tidak begitu variatif hanya coklat, merah, hitam atau kuning karena masih menggunakan pewarna alami dari getah tumbuhan.

Arsitektur rumah tradisional Honai didesain khusus untuk melawan cuaca pegunungan Papua yang dingin. Ruangan rumah dibuat tidak terlalu besar dengan tinggi rumah mencapai 2-2,5 meter dengan sebuah pintu dan tanpa jendela. Seluruh dinding rumah dibangun dari potongan kayu dengan atap yang disusun dari jerami kering tebal. Ditengah rumah terdapat tungku perapian yang biasa digunakan untuk memasak atau sekedar menghangatkan suhu ruangan.

Honai memiliki fungsi lebih dari sekedar tempat tinggal. Honai digunakan masyarakat Papua sebagai tempat berkumpul, mendidik anak-anak sebagai generasi penerus dan pada zaman dahulu juga digunakan sebagai tempat mengatur strategi jika terjadi perang antar suku.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *