Connect with us

Seni & Budaya

Bongo, Instrumen Portable dari Abad 19

Published

on

12721017 800 (1)
Share

Reportersatu, Bongo merupakan alat musik portable yang mudah dibawa kemana-mana, relatif tidak mahal, dan dapat menghasilkan suara yang sangat baik jika disetel erat. Dalam Kamus Musik yang disusun oleh Pono Banoe, bongo didefinisikan sebagai drum kecil satu head yang selalu disusun berpasangan dengan ukuran berbeda. Dibunyikan dalam keadaan dijepit antara dua lutut sambil duduk.

Dikenal juga dengan nama ketipung. Bongo adalah alat musik pukul atau perkusi, yang terdiri dari sepasang drum (kecil dan besar) yang disatukan dengan penjepit kayu di bagian tengah. Permukaan atasnya tertutup membran, sedangkan bagian bawahnya terbuka tanpa lapisan penutup. Membran bongo terbuat dari kulit binatang, tetapi ada juga yang dari plastik. Badan bongo terbuat dari logam, kayu, dan kadang-kadang keramik. Kedua drum mempunyai nama masing-masing dalam bahasa Spanyol yaitu hembra (ukuran besar) yang artinya wanita, dan macho (ukuran kecil) artinya pria.

Alat musik ini dimainkan dalam posisi  duduk dan diletakkan atau dikempit di antara kedua kaki (antara paha dan lutut). Bongo tergolong alat musik ritmis yang tidak bernada,  hanya memiliki perbedaan tinggi bunyi untuk mengeluarkan irama. Alat musik ritmis berfungsi sebagai pengiring dan pembentuk irama sehingga karya musik yang dimainkan dapat stabil.

Baca Juga : Darbuka, Alat Musik Mesopotamia Populer di Indonesia

Perkembangan

Bongo pertama kali muncul di Kuba sekitar akhir abad ke-19. Awalnya digunakan dalam musik changui dan son yang dimainkan oleh orang Afrika dan Spanyol yang tinggal di Kuba. Gaya musik ini kemudian berkembang menjadi salsa. 

Seiring waktu, bongo menjadi alat musik internasional dan digunakan dalam berbagai jenis genre musik, baik sebagai instrumen solo atau pendamping band. Bongo banyak digunakan dalam musik Amerika Latin selain salsa, seperti mambo dan rumba bahkan jazz.

Sekitar tahun 1900-an muncul istilah bongocero, yang maksudnya adalah bahwa pemain bongo telah menguasai instrumen ini dan memiliki kemampuan untuk mengajar orang lain. Jack Constanzo adalah bongocero yang menjadi guru dari beberapa bintang film Hollywood, antara lain James Dean dan Marlon Brando. Ia berjuluk Mr. Bongo.

Di Indonesia, bongo banyak digunakan dalam musik dangdut, namun sebagaimana dijelaskan dalam kamus musik, orang lebih mengenalnya sebagai ketipung. Seniman legendaris Betawi, H. Benyamin Sueb, bahkan mempelajari alat musik bongo secara otodidak, agar ia dapat diterima di lingkungan seniman musik Kemayoran.  

Dalam kelompok musik Melody Boys yang dibentuk bersama teman-temannya sesama anak Kemayoran seperti Rachmat Kartolo dan A. Rachman, Benyamin sempat memegang alat musik bongo selain ditunjuk sebagai penyanyi latar.


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *