Connect with us

Nasional

BMKG Ungkap Perubahan Iklim Global Menjadi Penyebab utama Terjadinya Hujam Ekstrem

Published

on

Share

Reportersatu, BMKG menyebut curah hujan yang terjadi di Jabodetabek pada awal tahun 2021 menjadi yang terekstrem sejak 1996. Mengejutkan sekaligus menyadarkan banyak pihak bahwa kita harus lebih galak menyuarakan aksi perubahan iklim.

BMKG memprediksi intensitas hujan ekstrem masih terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. BMKG menyebut perubahan iklim global menjadi penyebab utama kondisi tersebut.

Kondisi itu diprediksi menyebabkan terjadinya banjir hingga longsor. ”Kami mencatat dari perubahan iklim ini adalah meningkatnya intensitas curah hujan lebat,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal, Sabtu (20/2).

loading...

Akibat perubahan iklim itu, Herizal menjelaskan bahwa hujan lebat dalam kurun waktu sehari atau dua hari merupakan representasi hujan yang terjadi selama satu bulan. BMKG menyebut hujan dengan intensitas paling besar di Jakarta terjadi di awal tahun lalu. Menyentuh angka 370 milimeter per hari.

Untuk tahun ini, intensitas curah hujan ekstrem di Kalimantan tercatat yang paling besar. ”Ke depan kita akan melihat angka-angka ini lebih banyak lagi,” jelasnya.

Lebih jauh Herizal menjelaskan, perubahan iklim mengakibatkan temperatur di bumi meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan itu sejalan dengan meningkatnya gas rumah kaca.

Dia menyebut sebelum revolusi industri, konsentrasi gas rumah kaca tidak pernah lebih dari 280 ppm. ”Sekarang sudah 400 ppm,” ungkapnya.

Secara teori, efek gas rumah kaca yang terus meningkat membuat temperatur udara di muka bumi semakin tinggi. Bukti paling nyata dari perubahan itu adalah menyusutnya gunung es. Di Indonesia, sebagaimana pengamatan yang dilakukan BMKG, luasan es di puncak Jayawijaya dari tahun ke tahun terus menyusut.

Karena itu, BMKG mengimbau semua elemen untuk bersinergi dalam menghadapi perubahan iklim saat ini. Semua pihak dengan kapasitas masing-masing dapat berkontribusi. Misalnya, melakukan penghematan dalam penggunaan energi. Baik itu energi fosil maupun energi rumah tangga.

”Kita juga harus perhatikan lingkungan kehijauan kita,” pungkas dia


Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *