Connect with us

Seni & Budaya

Bedah Pararaton, Suksesi Berdarah Keris Mpu Gandring Ken Arok dan Ken Dedes

Published

on

Img 20201108 Wa0067
Share

Reportersatu. Bedah pararaton adalah penyederhanaan yang bersifat personal. Sejarah 798 tahun yang lalu, kaitannya dengan keris Mpu Gandring. Suksesi berdarah, perjalanan Ken Arok menjadi Maharaja. Dengan tema menggali sejarah, memetik hikmah. Mikul dhuwur mendhem jero, artinya mengambil sisi kebaikan dari para leluhur dan memaafkan keburukan mereka.

Menghadirkan nara sumber Drs. Dwi Cahyono M.Hum Sejarahwan dan Orkeolog, Wido Soerjo Minulya seorang Budayawan dan Dosen Sastra Universitas Negeri Malang, Wibie Maharddhika Suryometaram penggagas dari Bedah Pararaton.

Ahmad Sulistyono pemerhati sejarah, Tri Wahyu Nugroho Dosen Universitas Gajayana, Ki Semar Suwito Pemerhati sejarah budaya, Bayu Putro pemerhati sejarah Bulu Lawang Malang dan Isa Wahyudi alias Ki Demang Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang.

Wibie Maharddhika Suryometaram penggagas Bedah Pararaton menjelaskan, ini episode ke 10 dalam mengupas sejarah dan menceritakan sisi kebaikan dari para leluhur dan memaafkan keburukan mereka,” tuturnya. Minggu (08/11/2020)

Drs. Dwi Cahyono M.Hum Sejarahwan dan Orkeolog memaparkan, kejadian suksesi berdarah ini bermula keinginan Kenarok untuk memperistri Ken Dedes. Konon katanya, Kendedes di bagian vitalnya bersinar dan jika memperistrinya maka akan menjadi Maharaja,” paparnya.

Lanjut Pak Dwi (panggilan akrab), Ken Arok meminta ijin kepada ayah handa Lohgawe. Jika Akuwu saya bunuh bagaimana, dan istrinya saya ambil. jika Tuan mengijinkan.

“Saya tidak pantas mengijinkan itu kepadamu. Itu bukan tindakan seorang pendeta. Batasnya adalah kehendakmu sendiri (jawab Lohgawe),” jelasnya.

Masih dengan Pak Dwi, karena tidak mendapat ijin, maka datanglah Ken Arok ke ayahanda angkat lainnya. Kemudian ayah angkatnya bernama Bango Samparan, yang tinggal di Karuman disalah satu kampung di kelurahan Tlogo Mas barat kota Malang.

”Hamba ingin menjadi raja, dengan cara membunuh sang Akuwu dengan rahasia Setelah itu, istrinya saya ambil. Baiklah kalo demikian saya memberi ijin bahwa kamu akan menusuk Akuwu dengan keris dan mengambil istrinya,” jelasnya.

Pak Dwi menambahkan, tetapi hanya saja Akuwu itu sakti, mungkin tidak akan luka jika ditusuk dengan keris tak bertuah. Jika ingin berhasil tusuklah dengan keris yang beryoni (tuah.red).

“Dari ijin ini kemudian Ken Arok memesan keris tersebut kepada Mpu Gandring. Dengan pembuatan proses yang lama, Ken Arok tidak bisa menunggu dengan sabar. Akhirnya di tusuklah keris kepada Mpu Gandring, namun Ken Arok penuh dengan penyesalan setelah melakukan kesalahan. Sehingga Mpu Gandring mengutuk kepada Ken Arok, bahwasanya keris ini nantinya akan memakan korban hingga 7 kali. Dengan keris ini pula Ken Arok akan meninggal,” pungkasnya di akhir cerita. (Ana)


Share
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *