Connect with us

Internasional

Anak-anak di Gaza Berjuang Hidup Dalan Trauma Akibat Perang

Published

on

Share

Reportersatu, Serangan mematikan Israel di Gaza telah membuat luka dalam terutama bagi anak-anak. Para ibu dan pekerja kesehatan mental khawatir efek psikologis dari kekerasan akan bertahan lama di anak-anak Jalur Gaza.

Seorang ibu berusia 28 tahun, Hala Shehada dari Gaza Utara mengungkapkan serangan tersebut membawanya pada kenangan tragis tahun 2014. Saat itu, suaminya yang merupakan seorang jurnalis, Khaled Hamad terbunuh di lingkungan Al-Shuja’iya.

“Hidup di Gaza berarti harus menghidupkan kembali trauma berkali-kali. Perang adalah hal terburuk di dunia,” kata Shehada seperti dinukil dari aljazeera.

Baca Juga : Ratusan Jasad Anak Ditemukan Di Situs Eks Sekolah Pribumi di Kanada

Dia mengaku sulit untuk mengatasi kondisi mental putrinya yang terus memburuk. Saat mendengar bom, anaknya Toleen menangis histeris tanpa henti. Toleen tak lepas dari mimpi buruk. Dia bangun tengah malam sambil berteriak. Shehada sudah melakukan berbagai cara untuk menghiburnya tapi itu tidak menghasilkan apa pun.

loading...

Jarjour mencoba mengaplikasi semua hal yang ia pelajari sebagai pekerja sosial. Misal, membuat anak-anak sibuk dengan beragam kegiatan. Namun, cara tersebut kata dia tidak berhasil.

Selama serangan berlangsung, Jarjour dan suaminya memutuskan untuk tidur bersama anak-anaknya. Mereka terus mencoba menghibur anak-anaknya.

“Saya tidak pernah meninggalkan mereka sendirian. Tetapi saya tahu dengan melihat ke mata mereka bahwa mereka takut. Anak-anak tahu semua yang terjadi di sekitar mereka,” tuturnya.

Menurut Dewan Pengungsi Norwegia (NRC), 12 dari 66 anak yang terbunuh oleh serangan udara Israel adalah peserta program yang bertujuan membantu anak-anak Gaza mengatasi trauma dari perang sebelumnya.

Anak-anak yang selamat dari serangan itu kemungkinan besar akan menghidupkan kembali pengalaman pemboman setiap malam. NRC mengatakan dalam sebuah pernyataan terbaru, anak-anak di Gaza rata-rata mengalami lima mimpi buruk dalam sepekan.

Menurut Manajer Wilayah Gaza NRC, Hozayfa Yazji, NRC telah bekerja dengan 118 sekolah dan memberikan dukungan untuk 75.000 anak sejak meluncurkan layanan terapi trauma di Gaza pada tahun 2012. Namun, sekarang pihaknya menghadapi kesenjangan besar dalam layanan dukungan psikologis setelah agresi terbaru. Jumlah anak yang membutuhkan layanan psikoterapi meningkat tiga kali lipat.

Kondisi kemanusiaan yang parah memperburuk kondisi kesehatan mental anak-anak di Gaza. Pengepungan selama 14 tahun yang dilakukan Israel menyebabkan meningkatnya tingkat kemiskinan mencapai 50 persen dari populasi, tingkat pengangguran 55 persen, dan sistem perawatan kesehatan yang bobrok.

Itu semua membuat penderitaan anak-anak semakin buruk. Sementara itu, anak-anak di bawah usia 18 tahun merupakan 45 persen dari populasi di Jalur Gaza.

“Ini membuat intervensi program pertolongan pertama psikologis menjadi kebutuhan yang mendesak. Setidaknya 90 persen penduduk Gaza membutuhkan dukungan dan perawatan kesehatan mental,” ujar dia.


Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *