Connect with us

Kuliner

Ampo, Camilan Unik Khas Tuban Yang Berbahan Dasar Tanah Liat

Published

on

Share

Reportersatu, Ampo merupakan kuliner khas Tuban yang banyak digemari masyarakat setempat. Sebenarnya camilan satu ini tidak hanya di daerah Tuban saja, ada juga di Jawa Barat dan juga Jawa Tengah. Tapi yang paling terkenal adalah dari wilayah Kota Wali, Tuban.

Ini merupakan kuliner yang sangat unik dan terbuat dari bahan yang tidak biasa. Tanah liat dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan ampo, panganan unik ini banyak diburu wisatawan.

Bagi kebanyakan orang, tanah liat dianggap sebagai gumpalan tanah yang tak berguna. Namun, di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, tanah liat dari sawah dapat diolah menjadi camilan khas yang disebut ampo.

Jajanan unik dan langka itu, bisanya diburu wanita hamil yang sedang ngidam. Sekaligus digunakan untuk jamu penghilang demam serta nyeri tulang.

loading...

Baca Juga : Ikan Sarden, Si Kecil Yang Tinggi Protein

Tanah liat bukan sesuatu yang menjijikkan bagi Mbah Rasimah (85). Hampir setiap hari warga Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban mengumpulkan tanah liat dari sawah sekitar.

“Bahannya tanah yang saya ambil dari sawah. ini bisa dimakan, buat camilan, dimakan untuk jamu, camilan untuk orang yang merasa tidak enak,” kata Mbah Rasimah.

Bukan untuk main-main, tanah sedikit berair ini diolah Mbah Rasimah menjadi camilan yang disebut ampo. Namun tidak sembarang tanah liat digunakan bahan baku membuat ampo.

Mbah Rasimah biasanya memilih tanah liat persawahan yang bersih dari batu dan sedikit mengandung air.

Cara membuatnya cukup sederhana. Tanah liat dipadatkan terlebih dahulu, kemudian disimpan beberapa hari. Selanjutnya, gumpalan tanah liat dikikis menggunakan sebatang bambu tajam, hingga mengasilkan gulungan-gulungan tipis menyerupai astor.

Setelah dirasa cukup, gulungan tanah liat ini dipanggang menggunakan cawan di atas tunggu. Proses pemanggangan ini membutuhkan skill dan ketelatenan.

Sebab, tungku tidak boleh mengeluarkan api dan hanya dibutuhkan asap panasnya saja. Pemanggangan berlangsung sekira 15-20 menit hingga gulungan tanah liat dirasa kering. Selanjutnya, camilan tanah liat ini bisa ditiriskan.

Ampo merupakan camilan turun-temurun sejak zaman nenek moyang. Mbah Rasimah merupakan generasi kelima yang menerima resep dari pendahulunya.

Sebagai warisan budaya, ampo terancam punah. Mbah Rasimah merupakan satu-satunya pembuat ampo di wilayah Kabupaten Tuban.

Resep diperoleh turun-temurun dari orangtua. Namun kini cara membuat ampo telah diajarkan kepada sang anak perempuan.

“Sehari membuat 10-25 kilogram. Ini dulu dari leluhur, sekarang turun temurun ke anak saya,” tambahnya.

Ampo dijual di pasar tradisional. Namun tak jarang warga yang datang langsung ke rumah meminta untuk dibuatkan. Harga ampo Mbah Rasimah cukup murah, sekira Rp10 ribu per kilogram.


Share
Continue Reading
Advertisement
[adsforwp id="94921"]
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *